PRANIKAH

PRANIKAH
Khitbah


__ADS_3

*Aku rindu, aku benar-benar rindu.


Ada apa denganku?


Mengapa bayangmu tak dapat lepas dari ingatanku?


Mengapa hati ini sesak ketika ku ingat kenangan tentangmu?


Mungkin bagimu, mudah melupakan wanita sepertiku.


Tapi tidak bagiku.


Sebagian ruang hati ini telah menjadi singgasanamu.


Sedangkan bagimu, aku hanyalah secuil debu, di antara para bintang yang bertabur di hatimu.


Terakhir ku dengar kabarmu, kau akan melabuhkan hati pada wanita pilihanmu.


Kenyataan yang teramat perih untukku.


Berpisah denganmu adalah hal yang tak pernah terlintas dalam pikiranku.


Tapi nyatanya, kini kau telah berlalu.


Aku merindukanmu*...


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Airin menangis pilu di kamarnya, meratapi kisah cintanya yang kandas begitu saja. Ia seakan tak percaya, pria yang dulu berjanji takan pernah meninggalkannya kini dengan mudah berpindah ke lain hati.


"Kenapa kau setega itu padaku, Sakha? Apa kurangku? Apa karena aku tidak menutup auratku? Kenapa kita tidak bisa berjuang bersama? Aku masih mencintaimu, aku sangat ingin bersamamu," lirih Airin dalam isakannya.


"Tak pernah aku bayangkan bagaimana rasanya patah hati, kali ini aku merasakan patah hati yang sesungguhnya." Airin semakin menangis pilu.


"Aku harus menemui Sakha, harus!" Ucap Airin dengan raut wajah kalut.


***


Pagi-pagi sekali, Sakha sudah berpakaian rapih begitupun kedua orang tuanya. Mereka tengah bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah Shara.


Perjalanan menuju rumah Shara sekitar satu jam saja, membuat mereka tidak terlalu terburu-buru. Sakha sempat mengajak Bima, namun sahabatnya tidak bisa ikut menemani karena ada satu dan dua hal yang tidak bisa di tinggalkan.


Sakha dan kedua orang tuanya telah masuk ke dalam mobil, dan mulai melajukan kendaraannya.


Dalam jarak beberapa meter, ada sebuah mobil mini cooper berwarna kuning tengah membuntuti mobil yang di tumpangi oleh keluarga Sakha.


Di rumah Shara, Merry tengah menyiapkan beberapa hidangan untuk menyambut kedatangan keluarga Sakha. Shara juga terlihat membantu Umi-nya, ia menata ruang tamu agar lebih rapih.


Dapat terbayangkan bagaimana perasaan Shara saat ini, bahagia tentunya.


"Mi, Abi sudah terlihat rapih?" Tanya Abi Shara pada istrinya.


"Sudah, Abi. Abi sudah ganteng pokoknya," goda Umi Merry.

__ADS_1


"Ah Umi malah menggoda Abi," sahut Abi Shara.


Shara tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya, ia berharap dapat memiliki rumah tangga yang harmonis seperti Abi dan Umi-nya.


Terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah Shara, orang tua Shara segera bergegas keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Itu mereka, Ra?" Tanya Umi Merry pada Shara.


"Iya, Mi." Shara sejenak terdiam, mengingat perpisahan antara dirinya dengan Sakha tempo hari. Kini matanya berkaca-kaca, ketika Allah mempertemukan kembali mereka berdua dengan niat yang baik.


Sakha beserta kedua orang tuanya turun dari mobil, mereka mendapat senyuman hangat dari kedua orang tua Shara.


"Assalamuallaikum," ucap Ayah Sakha.


"Wa'allaikumussalam," jawab Abi Shara.


"Mari masuk, Pak, Bu, Nak Sakha." Imbunya.


Kini mereka masuk ke dalam rumah, di ujung jalan tampak sepasang mata tengah memperhatikan kediaman Shara.


Semua kini berkumpul bersama di ruang tamu, Sakha terlihat begitu gugup.


"Perkenalkan, Pak. Saya ayahnya Sakha dan ini istri saya."


Mereka kini saling berkenalan satu sama lain, sebelum melanjutkan pada niat awal mereka.


"Jadi begini Pak, Bu, kedatangan kami kemari ini untuk mengkhitbah putri Bapak juga Ibu." Ayah Sakha mewakili mengutarakan niat baik Sakha pada Shara.


"Untuk keputusannya, kami serahkan pada Shara. Kami hanya bisa mendo'akan yang terbaik," imbuhnya.


***


Di luar rumah, tepatnya di halaman rumah Shara. Tampak Airin yang mematung mendengar perbincangan antar dua keluarga itu, air matanya kini kembali mengalir deras.


Tanpa Airin sadari, sudah berdiri seorang pria tepat di belakangnya. Pria itu tengah memperhatikan Airin dengan seksama.


"Permisi, anda siapa, yah?" Tanya Adam.


Airin menoleh, ia segera menghapus air matanya.


"Maaf, saya Airin."


"Emm, ada perlu apa datang kesini? Apa anda temannya Shara?" Tanya Adam penasaran.


"Bu-bukan, aku mantan pacar Sakha," ucap Airin sembari berusaha meredakan isakannya.


"Sakha? Siapa dia?" Tanya Adam semakin penasaran.


"Sakha adalah pria yang saat ini tengah melamar Shara," jawab Airin sendu.


Adam membelalakan matanya, ia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Airin. Mata Adam memerah, dengan tangan mengepal ia berjalan menuju rumah Shara.


"Assalamuallaikum, Shara!" Adam berucap dengan nada menahan amarah.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada sosok Adam yang kini berdiri di ambang pintu, Shara terkejut begitupun kedua orang tuanya.


"Adam," ucap Shara dengan orang tuanya bersamaan. Shara berdiri di ikuti oleh semua orang yang ada di antaranya.


"Ada apa ini?" Tanya Adam sembari melirik satu persatu orang yang tengah berkumpul disana.


"Maaf, anda siapa?" Tanya Adam pada Sakha.


"Saya Sakha," jawab Sakha singkat.


"Ada keperluan apa anda datang kemari, Dan ini? Mereka orang tua anda?" Tanya Adam lagi.


"Adam, berbicaralah dengan sopan kepada tamu Om," pinta Abi Shara dengan tegas.


"Om, bagaimana saya bisa sopan? Putri Om yang selama ini kalian titipkan padaku, kini akan di lamar oleh pria lain?" Emosi Adam mencuat, ia berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Hey, pelankan suaramu ketika berbicara kepada orang tua!" Seru Sakha, ia tidak menyukai sikap yang di tunjukkan Adam kepada kedua orang tua Shara.


"Anda jangan ikut campur!" Pinta Adam sembari menunjukkan telunjuknya pada Sakha.


"Maaf, saya ingin bertanya. Apa hubungan pemuda ini dengan putri Bapak?" Tanya Ayah Sakha, ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


"Saya pria yang di amanahkan untuk menjaga Shara," jawab Adam mengambil hak Abi Shara ketika hendak menjawab.


"Maksudnya apa? Maaf, jika memang Nak Shara masih memiliki hubungan dengan pria lain, sebaiknya lamaran ini di tunda dulu, atau mungkin kita batalkan saja!" Tegas ayah Sakha, ia kerasa tidak terima atas perlakuan Adam pada keluarganya.


Shara dan Sakha pun terkejut, mereka tidak ingin jika harus di pisahkan lagi untuk kedua kalinya.


"Pak, Bu, sebelumnya kami minta maaf. Kami akan menyelesaikan permasalahan ini terlebih dulu," ujar Abi Shara.


Shara hanya bisa menunduk, air matanya kini tergenang di pelupuk matanya. Shara berlari menuju kamarnya, saat kedua orang tuanya sepakat untuk menunda acara lamaran itu.


Sakha terdiam, ia merasakan apa yang Shara rasa. Namun, Sakha juga ingin memperjelas status Shara dengan Adam terlebih dulu.


"Sakha, kita pulang!" Ajak Ayah Sakha dengan tegas, lalu ia segera berlalu ke luar rumah.


"Kami permisi, assalamuallaikum." Ibu Salma pun pamit dan menyusul suaminya.


"Om, Tante, saya permisi dulu. Salam untuk Shara," ucap Sakha dengan pasrah.


"Iya, maafkan kami, Nak Sakha." Orang tua Shara merasa bersalah.


Sakha hanya tersenyum, dan ia kini membalikkan badannya hendak pergi keluar dari rumah Shara.


Langkahnya terhenti sejenak mata Adam juga Sakha beradu, terlihat persaingan sengit di antara mereka berdua.


***


Di dalam kamar, Shara menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar tak menyangka akan ada hal yang menghambat niat baiknya dengan Sakha. Shara mendengar deru mesin mobil, ia segera berlari menuju jendela kamarnya.


Ia menatap mobil keluarga Sakha yang melaju meninggalkan kediamannya, lagi-lagi tangis Shara semakin menjadi.


"Astagfirulloh, ya Allah. Rencana apa yang tengah Engkau siapkan untukku? Apa aku dengan Sakha memang tidak bisa bersatu? Kuatkan aku ya Allah." Shara menangis pilu.

__ADS_1


__ADS_2