
Sepulang dari rumah Shara, Adam mendatangi sebuah resto untuk bertemu dengan seseorang.
Sesampainya di resto, Adam sudah di tunggu oleh seseorang tersebut.
"Maaf, aku telat." Adam mendudukkan tubuhnya tepat di depan orang tersebut.
"Tidak apa-apa, sudah biasa!" Seru seseorang itu.
"Sudah pesan apa?" Tanya Adam.
"Seperti biasa," jawab orang itu, ia memesan makanan dan minuman yang menjadi kesukaan Adam.
"Kenapa? Sepertinya kamu tampak kesal?" Tanya orang itu lagi ketika melihat raut wajah Adam yang tampak kusut.
"Shara..."
Kata-kata Adam tertahan ketika seseorang itu memotong ucapannya.
"Shara, Shara, Shara. Terus saja kamu bicara soal dia!" Seseorang itu tampak kesal ketika Adam lagi-lagi membahas soal Shara.
"Yang pacarmu itu aku! Bukan dia," imbuh Lyra.
Ya, Adam ternyata sudah memiliki kekasih tanpa sepengatahuan Shara maupun keluarganya sendiri. Mereka sudah menjalani hubungan selama kurang lebih dua tahun lamanya, karena permintaan orang tuanya untuk menjaga Shara, membuat ia menyembunyikan statusnya.
"Kamu kenapa, sih? Selalu cemburu dengan Shara," bentak Adam.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Cewek mana yang suka lihat pacarnya jalan berduaan terus dengan perempuan lain?" Balas Lyra dengan emosi.
"Sekarang pilih saja, aku atau dia?" Tanya Lyra dengan tegas.
Adam menatap penuh emosi pada Lyra, ia benar-benar di buat pusing oleh sikap kekasihnya.
"Kenapa berbuntut panjang seperti ini, sih?" Tanya Adam.
"Kalau kamu masih berhubungan dengan Shara... Aku minta putus!" Seru Lyra.
Adam terhentak, rahangnya mengeras.
"Ya sudah, kita putus!" Tulas Adam sembari beranjak dari tempatnya.
Lyra terkejut dengan jawaban Adam, niat hati hanya ingin menggertaknya malah membuat hubungannya benar-benar berakhir.
Lyra ikut berdiri, ia berlari mengejar Adam yang kini sudah berada di ambang pintu keluar resto.
"Adam tunggu!" Seru Lyra sembari menarik lengan Adam.
"Apa lagi? Kita sudah berakhir bukan?" Bentak Adam.
"Kenapa kau malah seperti ini? Apa kau lebih memilih perempuan itu?" Lyra mulai terisak.
Adam menatap tajam pada Lyra, "iya!" Jawabnya singkat.
Lyra membulatkan matanya, ternyata benar dugaannya selama ini bahwa Adam menyukai Shara.
"Tidak boleh! Aku tidak mau kau meninggalkanku," ucap Lyra memohon sembari memeluk lengan Adam.
"Tidak, kau yang ingin kita berakhir tadi!" Seru Adam acuh.
"Kau tidak bisa meninggalkanku, kau harus tanggung jawab!" Teriak Lyra.
Adam mengerutkam keningnnya, "tanggung jawab apa maksudmu?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku hamil," ucap Lyra sembari menatap lekat Adam.
"Apa?" Adam di buat sangat terkejut olehnya.
"Tidak, tidak mungkin!" Adam berdalih.
"Apa maksudmu tidak mungkin? Kau melakukannya denganku! Bahkan bukan hanya sekali," Lyra mempertegas ucapannya.
Adam terdiam, tatapannya kosong. Dengan cepat ia menepis tangan Lyra yang masih melingkar pada lengannya, dan Adam pergi begitu saja tanpa mempedulikan Lyra.
"Adam, jangan pergi! Adam," Lyra kembali mengejar Adam, namun ia tak dapat mengejarnya karena Adam telah berlalu menggunakan mobilnya.
"Adam!" Teriak Lyra sembari menangis pilu.
"Aku tidak mau menghadapi ini sendirian, bagaimanapun kau harus bertanggung jawab, Adam!" Ucap Lyra dalam batinnya sembari mengelus perutnya.
***
Shara memberitahu kepada orang tuanya tentang kabar dari Sakha, ia begitu senang hari ini. Janji Allah selalu benar untuk hamba-Nya yang mau bersabar.
"Umi, Abi..." Panggil Shara.
"Kenapa, Ra? Kelihatannya kamu bahagia sekali?" Tanya Umi Merry.
"Sakha mengabariku, dia bilang ayahnya merestui kami." Shara berbinar membicarakan tentang hal ini.
"Alhamdulillah," ucap kedua orang tua Shara.
"Semoga Allah melancarkan, dan tidak ada lagi halangan." Umi Merry berdo'a dengan tulus.
"Aamiin," ucap Shara.
***
"Aku pulang," ucapnya setelah masuk ke dalam rumah.
"Mah, Pah?" Panggil Adam.
"Kenapa, Dam?" Tanya Ibu Adam.
"Papah mana, Mah?" Tanya Adam.
"Ada, di taman. Kenapa memangnya?" Tanya lagi Ibunya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Maman juga Papah," ucap Adam serius.
"Apa itu, Dam?" Tanya Ibunya penasaran.
Adam membawa Ibunya untuk menemui Ayahnya.
"Pah," panggil Adam setelah menemukan Ayahnya yang tengah bersantai.
"Kenapa, Dam?" Tanya Ayahnya.
"Aku ingin Mamah dan Papah melamar Shara untukku," ucap Adam tegas.
Kedua orang tuanya terkejut, mereka menatap satu sama lain.
"Kau yakin? Bukannya setiap kami menanyakan itu padamu, kau selalu menjawabnya dengan ambigu." Ayah Adam menuturkan.
"Kali ini Adam benar-benar yakin," jawab Adam.
__ADS_1
Sejenak orang tua Adam terdiam, sebelum menyetujui permintaan anak tunggalnya itu.
"Baiklah, akan Papah bicarakan terlebih dulu kepada orang tua Shara," sahut Ayah Adam.
"Tidak usah, Pah. Kita langsung datang ke rumahnya saja," ujar Adam.
"Loh, bagaimana kalau mereka sedang sibuk?" Tanya Ibu Adam.
"Mah, Pah, Adam yakin mereka akan selalu memiliki waktu untuk kita," ujar Adam dengan yakinnya.
"Baiklah kalau begitu," jawab Ayah Adam.
Adam tersenyum, ia tidak sabar untuk segera melamar Shara tanpa mempedulikan nasib Lyra yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
"Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku Shara." Batin Adam.
***
Lyra pulang ke rumahnya dengan langkah gontay, ia benar-benar kalut saat ini.
Ibu Lyra memperhatikan raut wajah anaknya yang tampak lesu, ia menghampiri Lyra yang kini termenung di sofa ruang tamu.
"Ly, kau kenapa?" Tanya ibunya.
"Aku tidak apa-apa, Bu." Lyra menjawab dengan lesu.
Saat sang Ibu tengah memperhatikkan wajah pucat anaknya, Lyra tiba-tiba saja merasa mual.
"Hooweek," Lyra menutup mulutnya, ia berlari secepat mungkin menuju kamar mandi.
Ibu Lyra menyusul anaknya dengan rasa penasaran.
"Ly, kenapa?" Tanya Ibunya sembari memijit tengkuk Lyra.
Lyra masih mengeluarkan semua isi perutnya, rasa pahit pun terasa di tenggorokannya.
Lyra menarik nafasnya dalam saat di rasa membaik.
"Ly, jawab pertanyaan Ibu, kamu kenapa?" Tanya Ibunya lagi.
Lyra menatap getir sang Ibu, ia merasa takut untuk berbicara yang sebenarnya.
"A-aku... Hamil," ucap Lyra dengan gemetar.
"Apa?" Ibu Lyra terkejut bukan main.
"Siapa Ayah dari anak yang sedang kau kandung ini?" Tanya Ibunya dengan marah.
"Ayah dari anak ini adalah... Adam," jawab Lyra.
"Keterlaluan! Bedebah!" Umpat Ibu Lyra.
"Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya! Tunggu Ayahmu pulang, kita bicarakan masalah ini," Imbuh Ibu Lyra.
Lyra membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Ayahnya padanya jika tahu bahwa ia telah hamil di luar nikah, tetapi ia tak memiliki pilihan. Hanya ini cara yang bisa membuat Adam mau bertanggung jawab.
***
Zina adalah dosa yang sangat besar dan sangat keji, serta seburuk-buruk jalan yang ditempuh oleh seseorang.
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
__ADS_1
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32]