
Shara terus menerus beristigfar mengingat dosa yang di lakukan oleh Adam, ia benar-benar tak menyangka jika Adam bisa berbuat hal seperti itu.
Umi Merry datang mendekati Shara, ia juga merasakan hal yang sama dengan putrinya.
"Ra, maafkan Umi," ucap Umi Merry.
Shara mengernyitkan keningnya, ia tak mengerti mengapa Umi-nya meminta maaf.
"Maaf untuk apa, Umi?" Tanya Shara.
"Maaf, gara-gara Umi dan Abi menitipkan kamu pada Adam, kamu jadi merasa tertekan selama ini." Umi Merry merasa bersalah.
"Sudahlah, Umi. Allah sudah menunjukkan kepada kita siapa Adam sebenarnya, doakan saja semoga Adam mau menjadi lebih baik," ujar Shara sembari memeluk Umi-nya.
"Oh iya, apa Sakha sudah memberitahumu kapan dia akan datang?" Tanya Umi Merry.
"Belum, kita tunggu saja Umi." Shara menggenggam erat tangan Umi-nya.
"Baiklah," ucap Umi Merry.
***
Di rumah Adam...
"Anak tidak tahu di untung! Siapa yang mengajarimu menjadi lelaki bejad seperti itu?" Teriak Pak Raffi pada Adam, tangannya terus memukul tubuh anaknya itu.
"Pah, sudah! Cukup!" Teriak Ibu Adam.
Adam tak menangkis pukulan ayahnya, ia hanya menutupi bagian wajajnya agar tak terkena tinjuan sang ayah.
"Kau sudah mempermalukan orang tuamu! Aku malu memiliki anak sepertimu!" Bentak lagi Pak Raffi.
Nafas Pak Raffi semakin memburu, dengan mata merah yang menyiratkan penuh amarah pada sang anak.
"Ma-maafkan aku, Pah. Aku khilaf," ucap Adam, ia menundukkan tubuhnya.
"Kau harus bertanggung jawab!" Ucap Pak Raffi sembari bertolak pinggang tanpa menoleh ke arah Adam.
"Nikahi perempuan itu!" Tegas Pak Raffi.
Adam terdiam, ia menatap kosong ayahnya. Ia mengusap kasar wajahnya, sesekali ia juga mengusap air mata yang entah mengapa keluar begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa kau mengecewakan Mamah, Adam?" Tanya Ibu Adam. Suaranya begitu terdengar pilu.
Adam menatap mata ibunya, tersirat rasa bersalah karena telah membuat wanita yang rela bertaruh nyawa untukknya kini malah mengeluarkan air mata kesedihan karena ulah anaknya.
Adam berjalan perlahan mendekati sang ibu, tiba-tiba saja ia menjatuhkan tubuhnya. Tangannya melingkar di kaki sang ibu, ia menangis meminta maaf pada ibunya.
"Mah, maafkan aku. Ampuni aku," ucap Adam dengan tulus.
Sang ibu menangis melihat sikap yang di tunjukkan oleh anaknya, ia ikut berlutut dan memeluk tubuh Adam.
"Bangun, Nak." Ibu Adam membantu anaknya untuk berdiri, ia mengusap air mata yang membasahi wajah putranya itu.
"Mamah memang kecewa padamu, tapi rasa sayang Mamah lebih besar dari rasa kecewa itu." Imbuhnya.
"Jika kau tidak ingin mengecewakan Mamah lagi, tolong! Tolong bertanggung jawablah atas apa yang telah kau perbuat, Nak!" Pinta sang ibu dengan sangat.
Adam sejenak terdiam, dan tak lama ia menganggukkan kepalanya. Tanda ia akan bertanggung jawab.
"Terima kasih," ucap Ibu Adam sembari kembali memeluk putranya.
Adam menenggelamkan wajahnya di pundaks sang ibu, ia sadar apa yang di lakukannya telah membuat malu kedua orang tuanya.
***
"Kha, bagaimana acara lamaranmu?" Tanya Bima di tengah-tengah kesibukan mereka.
"Hampir gagal," jawab Sakha seadanya.
Bima membulatkan matanya, ia terkejut mendengar pernyataan Sakha yang mengatakan bahwa acara lamarannya hampir gagal, namun raut wajah Sakha terlihat datar.
"Yang benar saja? Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Bima penasaran.
Sakha sejenak berhenti mengerjakan kegiatannya, ia beralih menatap sahabatnya itu.
"Ada seorang pria yang tidak terima karena aku melamar Shara," ujar Sakha serius.
"Apa? Siapa dia? Lalu, kau mundur begitu saja?" Tanya Bima, ia semakin di buat penasaran.
"Awalnya iya. Tapi setelah tahu siapa pria itu, aku putuskan untuk memperjuangkan Shara." Sakha berucap penuh keyakinan.
"Syukurlah," ucap Bima.
__ADS_1
"Lalu, kapan kau akan kembali melamarnya?" Imbuh Bima.
Sejenak Sakha memikirkan pertanyaan Bima, ia juga belum sempat membicarakan kembali soal ini kepada orang tuanya.
"Sepertinya nanti malam akan aku bicarakan kembali dengan orang tuaku," jawab Sakha.
Bima mengangguk, "Baiklah, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Bima tulus.
"Terima kasih, kau memang sahabat terbaikku." Sakha merangkul bahu sahabatnha itu.
"Cih, kau merangkulku saat merasa bahagia." Bima mengumpat, namun tidak membuat keduanya tersinggung.
***
Sepulang Sakha dari tempat ia bekerja, ia berniat untuk membicarakan kembali rencananya untuk melamar Shara.
Sebelum itu ia membersihkan tubuhnya terlebih dulu, dan melaksanakan ibadah salat maghrib.
Selepas itu ia kembali pada rencananya.
"Yah, Bu." Sakha menyapa sembari berjalan mendekati orang tuanya.
"Kenapa, Kha?" Tanya Ibunya.
Sakha mendudukkan tubuhnya di sofa, menghadap ke arah kedua orang tuanya.
"Begini, akha ingin membicarakan kembali tentang lamaran." Sakha mulai membuka pembicaraan.
"Oh iya, Ayah sampai lupa. Bagaimana? Saran Ayah sama Ibu, lebih cepat lebih baik." Ayah Sakha menyarankan.
"Akha ikut bagaimana baiknya, Yah." Sakha memasrahkan segalanya kepada orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu, lusa kita ke rumah Shara." Ayah Sakha memutuskan.
"Baiklah, Yah."
Sakha melanjutkan perbincangan laun dengan kedua orang tuanya, sesekali mereka juga tertawa bersama.
Hingga waktu menunjukkan pukul 19:30 malam, Sakha pamit untuk menunaikan ibadah salat isya.
Sakha beribadah dengan khusyuk, ia pusatkan hati dan pikiran hanya kepada Allah azza wa jalla.
__ADS_1
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS al-Baqarah [2]: 45).
Manfaat shalat khusuyuk tersebut, juga akan diperoleh kelak pada hari kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bahwa di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah adalah yang berzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendirian (kesunyian), kemudian air matanya mengalir.