PRANIKAH

PRANIKAH
Kebahagiaan Yang Sederhana


__ADS_3

Hari ini Sakha memutuskan untuk libur bekerja, dan berniat untuk mencari rumah sewaan.


Ia ingin secepatnya pindah dari rumah mertuanya, dan memulai hidup mandiri bersama istrinya.


Sakha sempat di beritahu oleh Bima bahwa ada salah satu kenalannya yang ingin menyewakan rumah, dan Sakha berniat untuk mengunjungi langsung tempat tersebut.


"Sepertinya ini benar rumahnya," ucap Sakha dalam hati. Sejenak ia menelisik bagian depan rumah yang tampak terlihat rapih dan terawat.


Sakha berjalan masuk menuju pintu, ia memencet bel rumah tersebut.


"Assalamuallaikum."


Hanya beberapa detik, tak lama pemilik rumah pun membuka pintu.


"Wa'allaikumussalam. Maaf cari siapa, yah?" tanya seorang pria yang berusia tak jauh beda dengan Sakha.


"Cari pemilik rumah ini, Mas."


"Saya pemiliknya. Kenapa ya Mas?" tanya pemilik rumah.


"Oh Mas yang punya rumah, kenalkan saya Sakha."


Sakha menyodorkan tangannya, bermaksud untuk menyalami sang pemilik rumah.


Pemilik rumah itu menyambut jabatan tangan Sakha dengan ramah," Saya Aldi."


"Ada keperluan apa, Mas?" tanya Aldi.


"Begini Mas, saya dapat info kalau rumah Mas mau di sewakan. Apa benar, Mas?" tanya Sakha.


"Iya benar Mas, silahkan masuk, Mas." Aldi mengajak Sakha untuk berbincang lebih lanjut didalam rumah.


"Silahkan duduk," pinta sang pemilik rumah.


Sakha mengangguk dan duduk berhadapan dengan Aldi.


"Iya bagaimana Mas?" tanya Aldi pada Sakha.


"Begini, saya dapat info dari teman kalau rumah Mas akan di sewakan." Sakha menjelaskan.


"Kalau boleh tahu, teman Mas siapa?" tanya Aldi.


"Bima, Mas."


"Oh Bima," ucap Aldi.


"Iya. Mas kenal sama Bima?" tanya Sakha.


"Iya saya kenal, Mas. Dia teman sewaktu kecil dulu," jawab Aldi.


"Oh seperti itu, sempit sekali yah dunia," ucap Sakha terkekeh.


"Iya," jawab Aldi dengan tawa kecilnya.


"Kalau boleh tahu harga sewa per bulan atau per tahunnya berapa, Mas?" tanya Sakha.


"Satu tahun itu saya menaruh harga 18 juta Mas," sahut Aldi.

__ADS_1


Sakha mengangguk paham, ia tengah menghitung pengeluaran rumah tiap bulannya.


"Itu sudah termasuk listrik, Mas?" tanya Sakha.


"Oh belum, Mas. Untuk listrik itu kita pakai token, jadi bisa sesuai pemakaian Mas tiap bulannya." Aldi menjelaskan dengan rinci.


Sakha sejenak berpikir, ia juga terlanjur menyukai rumah itu. Tanpa ragu Sakha pun memutuskan untuk menyewa rumah Aldi, dan menyelesaikan pembayaran untuk satu tahun ke depan.


Aldi dan Sakha kembali berjabat tangan, mereka juga tak sungkan bergurau ringan.


"Saya permisi dulu, nanti saya kabari untuk kepindahan kami," ucap Sakha.


"Iya, Mas. saya tunggu, terima kasih."


"Saya juga terima kasih, Mas. Assalamuallaikum." Sakha pamit undur diri, dan pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Wa'allaikumussalam."


***


Seperti sudah biasa, Sakha memutuskan untuk berjalan mencari angkutan umum. Rencananya ia juga akan membeli sepeda motor sebagai kendaraannya.


Dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan Sakha yang sedang menunggu angkutan umum, ia tak lain adalah Airin.


Mobil Airin berhenti tepat di hadapan Sakha, ia segera turun dan berjalan mendekati mantan pacarnya itu.


"Sakha, kamu sedang apa disini?" tanya Airin.


Sakha sejenak mengerutkan keningnya, memperhatikan pakaian yang kini di kenakan oleh Airin. Kini Airin tampak tidak seperti pertama ia memutuskan untuk berhijrah, Airin kini tampil dengan hijab modis.


"Sedang menunggu angkutan umum," jawab Sakha.


"Aku jual, kamu sendiri dari mana?" tanya Sakha.


"Di jual? Kenapa?" Airin tak menjawab pertanyaan Sakha, ia merasa terkejut ketika mendengar mobil milik Sakha di jual.


"Tidak apa-apa," jawab Sakha mulai risih.


"Lalu, kenapa kamu ada di daerah sini? Dapat client sekitar sini?" tanya Airin lagi.


Sejenak Sakha menghembuskan nafasnya, ia mulai tidak nyaman ketika banyak pertanyaan yang Airin lontarkan.


"Aku habis mencari rumah sewaan, dan sekarang aku akan pulang."


Airin sadar dengan perubahan nada bicara Sakha, ia juga tak ingin Sakha memberi kesan buruk terhadapnya.


"Kalau begitu, pulang denganku saja. Kebetulan kita searah," tutur Airin.


"Tidak, terima kasih. Aku pulang sendiri saja," tolak Sakha dengan halus.


Tanpa Sakha dan Airin sadari ada sepasang mata yang tengah menelisik ke arah mereka, seseorang itu tampak tidak nyaman melihat Airin juga Sakha.


Tak lama sebuah angkutan umum pun melaju, dengan cepat Sakha menghentikan mobil itu dan masuk ke dalamnya.


Airin hanya memandang kepergian mobil yang membawa mantan pacarnya itu, dengan perasaan penuh tanya.


***

__ADS_1


Ketika seorang pria mengatakan “saya terima nikahnya” pada suatu akad nikah, itu artinya dia juga mengatakan bahwa saya siap menerima tanggung jawab untuk melayani istri saya, mencintai dan melindunginya.


Itulah yang ingin Sakha buktikan saat ini, ia mampu untuk bertanggung jawab apapun demi istrinya.


Sakha kini berada di sebuah dealer motor, ia tengah memilah milih motor yang cocok dengannya.


Hampir setengah jam Sakha bernegosiasi, akhirnya ia selesai dengan urusannya.


Sakha terlihat bahagia, ia ingin memberi kejutan pada istrinya dengan pulang membawa sepeda motor.


"Semoga Shara bisa menerima aku apa adanya," pinta Sakha dalam hatinya.


Ia bergegas pulang, Sakha tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.


Besar harapannya untuk menjadi seorang imam yang baik untuk istrinya, ia ingin menjadi suami yang mampu membahagiakan pendamping hidupnya.


Sakha sampai di rumahnya, ia berlari kecil menemui Shara.


"Assalamuallaikum," ucap Sakha.


"Wa'allaikumussalam," Shara berjalan mendekati Sakha yang tengah tersenyum di ambang pintu.


"Mas, kenapa berdiri disini?" tanya Shara.


"Umi sama Abi kemana?" tanya Sakha.


"Sedang pergi, kenapa memangnya? Ayo masuk Mas," ajak Shara.


Langkah kaki Shara terhenti ketika tangannya tertahan oleh Sakha, "kenapa Mas?" tanya Shara.


"Ikut Mas."


Shara mengerutkan keningnya, ia mengikuti langkah kaki Sakha yang membawanya menuju gerbang rumah.


Mata Shara menunjukkan tanya, mempertanyakan sebuah benda yang kini ada dihadapannya.


"Ini motor siapa, Mas?" tanya Shara.


"Motor kita," jawab Sakha dengan riang.


Shara masih terdiam, matanya memperhatikan setiap inci sepeda motor tersebut.


"Alhamdulillah, jadi Mas tidak akan jalan kaki lagi?" tanya Shara dengan mata berbinar.


Sakha mendekat pada Shara, dan meraih kedua tangan istrinya.


"Bukan Mas tidak akan berjalan kaki lagi, tapi insya Allah sekarang Mas bisa mengantarmu kemanapun," ucap Sakha.


"Maaf, untuk sekarang hanya hal ini yang bisa Mas lakukan, tapi Mas berjanji akan selalu berusaha memberikan kehidupan yang layak untukmu," imbuh Sakha.


Shara begitu terharu dengan ucapan Sakha, ia benar-benar bersyukur karena Allah telah memberinya suami yang begitu bertanggung jawab.


"Bukan hanya untukku, tapi untukmu juga Mas. Untuk anak kita juga," sahut Shara.


Buliran air bening kini membasahi pipi bersih Shara, membuat wajah putihnya berubah kemerah-merahan.


"Aku harap ini air mata kebahagiaan. Sungguh kebahagiaanmu adalah pelancar jalan hidupku," ucap Sakha sembari memeluk erat istrinya.

__ADS_1


***


Kebahagiaan yang sederhana, membantu kita lebih bersyukur dalam menjalani hidup. Kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari hal-hal besar saja, kita bahkan bisa berbahagia dengan sebuah hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Jika kita dapat berbahagia dengan hal kecil, itu menandakan kita telah bersyukur dengan apa yang kita miliki. 


__ADS_2