
Barang barang telah siap semua, Sakha dan Shafa segera berangkat menuju rumah baru mereka. Bima sengaja menyewa mobil untuk mengangkut barang-barang berukuran besar, sisanya ia angkut menggunakan mobil pribadinya.
"Sudah beres semua?" Tanya Bima pada Sakha.
"Sepertinya tidak," jawab Sakha.
Bima mengangguk, dan ia memberikan alamat pada sopir yang akan mengantarkan barang-barang milik Sakha.
"Umi sama Abi juga Shara naik mobil Bima saja, Akha bawa motor." Sakha mengintruksikan.
"Baiklah," jawab Abi Fadlan.
Semua kini pergi, tak lupa Umi Merry juga mengunci pintu rumahnya terlebih dulu.
"Bismillah," ucap Bima sembari mulai melajukan kendaraanya.
Sebelum pergi, Sakha juga mengunci pintu gerbang. Setelah di rasa aman, ia pun segera menyusul yang lainnya.
Sesekali Sakha melirik kaca spionnya, entah apa yang membuat Sakha melakukan hal itu.
Hampir sepanjang jalan, ia beberapa melakukan hal yang sama.
Namun, ia terus berpikir positif.
***
Tak berselang lama kini mereka telah tiba di tempat tujuan, barang-barang mulai di turunkan satu persatu.
Sakha berjalan mendekati pintu, dan merogoh kunci rumah yang ia simpan di dalam saku kemejanya.
Setelah pintu terbuka, semua orang masuk ke dalam rumah secara bergantian sembari memasukkan barang-barang.
Sakha dan Bima menyusun beberapa barang besar, sedangkan Shara juga Umi Merry merapihkan pakaian kedalam lemari.
"Ra, tetangga disini apa ramah-ramah?" Tanya Umi Merry.
"Entahlah, Ara juga kan baru pertama kesini." Shara menjelaskan.
"Semoga mereka ramah ya Ra," ucap Umi Merry.
"Iya," jawab Shara.
"Setelah ini kita siapkan minum untuk mereka," ajak Umi Merry dan di angguki oleh Shara.
Sakha tengah menata ruang tamu, banyak barang yang sengaja di tinggalkan oleh pemilik rumah membuat Sakha dan Shara tak harus membeli perabotan lain.
"Alhamdulillah Aldi baik sekali membiarkan kita memakai sebagian perabotan rumah miliknya," ucap Sakha.
"Tenang Kha, Aldi itu lahir dari keluarga yang bisa di bilang sangat mampu. Kalau hanya sekedar kursi, perabotan dapur, dan yang kecil-kecil bukan masalah untuk dia." Bima menjelaskan.
"Kau kenal baik dengan pemilik rumahnya?" Tanya Abi pada Bima.
"Alhamdulillah, Bi."
Abi Fadlan mengangguk, dan mereka melanjutkan kembali pekerjaan masing-masing. Shara di temani Umi Merry tengah membawa minuman untuk ketiga pria yang tengah sibuk menata ruangan, mereka pun dengan sumringah langsung menghentikan aktifitas yang cukup melelahkan itu.
"Wah, kebetulan aku sudah haus sekali." Bima berjalan mendekati minuman yang tersaji di atas meja.
"Maaf hanya minuman saja," ucap Shara.
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup kok." Bima meneguk minuman itu hingga habis.
"Kamu haus, apa doyan Bim?" Tanya Sakha dengan nada meledek.
Bima menyengir kuda, "dua-duanya."
Semua tertawa melihat tingkah Bima, dan tak lama tawa itu terhenti ketika seseorang mengetuk pintu.
"Siapa yang bertamu malam-malam?" Tanya Bima.
__ADS_1
"Mungkin tetangga sebelah," sahut Abi Fadlan.
"Sebentar biar Shara buka," ujar Shara sembari berjalan menunu pintu.
Shara perlahan membuka pintu rumahnya, matanya seakan menyiratkan keterkejutan melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Kamu?" Ucap Shara.
"Siapa, Dek?" Teriak Sakha dari dalam.
Shara hendak menjawab pertanyaan Sakha, namun seseorng itu menerobos masuk tanpa menghiraukan Shara sama sekali.
"Assalamuallaikum."
Semua orang menatap pada sumber suara, Umi dan Abi memasang wajah datar sementara Bima juga Sakha tampam terkejut.
"Wa'allaikumussalam," ucap Umi Merry.
"Silahkan duduk," imbuh Umi Merry.
Seorang itu mengangguk patuh, dan ia mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di hadapan Sakha.
"Kamu temannya Shara?" Tanya Umi Merry.
"Iya," jawab seorang itu seadanya.
"Oh namamu siapa? Kenapa bertamu malam-malam, itu kan bahaya untukmu?" Tanya Umi Merry.
"Tidak apa-apa, aku tadinya ingin ikut membantu Shara pindahan tapi tadi ada sedikit urusan. Oh iya, namaku Airin."
Umi Merry mengangguk, lalu ia beralih menatap pada Shara yang tengah mematung berdiri tak bergerak di tempatnya.
"Ra, kenapa berdiri disitu? Buatkan minum untuk temanmu," pinta Umi Merry.
Shara mengangguk, dengan penuh tanya ia melangkah menuju dapur.
"Umi, Akha menyusul Shara dulu."
Bima berniat untuk berbicara empat mata dengan Airin, ia dengan canggung meminta izin pada Umi juga Abi Shara.
"Permisi Umi, Abi, ada yang ingin Bima bicarakan dengan Airin."
Bima memberi kode agar Airin mengikuti langkahnya.
Airin beranjak dari tempatnya dan mengikuti langkah Bima.
"Ada apa?" Tanya Airin.
Bima mengerutkan keningnya, ia tak percaya dengan sikap Airin akhir-akhir ini.
"Ada apa katamu?" Tanya Bima.
"Iya, ada apa?" Tanya Airin dengan santainya.
Bima menghela kasar nafasnya, ia mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Dari siapa kau tahu rumah Sakha?" Tanya Bima dengan nada mengintrogasi.
"Bukan dari siapa-siapa," jawab Airin.
"Astagfirulloh, Airin aku tahu kau memiliki niat lain. Katakan, apa yang kau mau?" Tanya Bima.
Airin memalingkan wajahnya, ekspresinya berubah menjadi kesal.
"Memangnya tidak boleh silaturahmi pada orang yang baru saja pindah rumah?" Tanya Airin.
"Bukan tidak boleh, tapi aku tahu itu bukan alasan utamanya kan?" Tanya Bima.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang aku mau, dan aku hanya ingin mengikuti apa kata hatiku." Airin berbicara dengan ambigu.
__ADS_1
"Jangan ganggu rumah tangga Sakha dan Shara," ucap Bima penuh penekanan.
"Aku tidak akan menganggu mereka," jawba Airin.
"Lalu apa maumu?" Bentak Bima.
Airin mengerutkan keningnya, ia tak percaya Bima bisa berbicara dengan nada tinggi padanya.
"Kau ini kenapa Bima? Sudah, aku tidak ada urusan denganmu." Airin berlalu meninggalkan Bima yang masih menahan rasa kesal padanya.
"Ya ampun, kenapa kau seperti itu Airin?" Tanya Bima dalam hatinya.
***
Di dapur Shara tengah membuatkan minuman untuk Airin, ia tak menyadari kedatangan sang suami di belakangnya.
"Sayang," panggil Sakha dengan lembut.
shara menoleh, dan membalikkan tubuhnya menghadap Sakha.
"Kenapa Mas?" Tanya Shara.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sakha.
Shara mengangguk, lalu ia menaruh gelas di atas nampan untuk di bawa ke ruang tamu.
"Biar aku yang bawa," ucap Sakha.
"Tidak usah," tolak Shara dengan lembut.
"Ya sudah, hati-hati."
Sakha berjalan di belakang istrinya, ia merasa tidak enak dengan kedatangan Airin malam ini.
Sesampainya di ruang tamu, Shara menaruh minuman untuk Airin di atas meja.
"Terima kasih, Ra."
Shara tersenyum tipis, lalu ia kembali berdiri.
"Duduk, sayang."
Sakha mengarahkan Shara untuk duduk di sampingnya.
Airin menatap dengan rasa tidak suka, namun ia menahan agar tak seorangpun yang menyadari ketidaksukaannya.
"Kau sangat perhatian sekali pada Shara," ucap Airin.
"Tentu, aku ingin memastikan keselamatan juga kesehatan istri dan calon anakku," ucap Sakha.
Airin terkejut, ia baru mengetahui bahwa Shara kini tengah mengandung darah daging mantan kekasihnya.
"Benarkah? Selamat kalah begitu," ucap Airin dengan terpaksa.
"Nak Airin, silahkan diminum airnya." Umi Merry menyarankan.
"Iya, Bu."
Airin menatap air yang dibuatkan Shara untuknya, rasanya ia enggan mencicipi minuman itu walau sedikitpun.
"Bu, saya minta maaf bukannya tidak menghargai minuman yang dibuatkan Shara, tapi..." Airin menggantung perkataannya.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai minumannya?" Tanya Umi Merry.
Airin mengangguk dengan memasang wajah bersalah, "aku tidak bisa meminum minuman yang mengandung gula," jawabnya.
Mata Bima dan Sakha terbelalak, ua tak menyangka Airin melakukan hal seperti itu.
"Sejak kapan Airin tidak menyukai minumam manis?" Tanya Sakha dalam batinnya.
__ADS_1
"Airin, kau keterlaluan! Apa maksudmu berbicara seperti itu," Sakha geram dengan sikap Airin yang berbohong tidak menyukai minumam manis.
Shara tertegun, ia masih bertanya-tanya dari siapa Airin mengetahui alamat rumah baru mereka.