
Tiga bulan berlalu, rumah tangga Sakha juga Shara berjalan begitu harmonis. Sakha juga akhir-akhir ini mengurangi jarak antara Airin juga istrinya, ia tak ingin Shara selalu merasa tidak tenang.
Hari ini rencananya Sakha ingin mengajak istrinya untuk pergi jalan-jalan, hanya sekedar untuk menonton film di bioskop dan makan malam diluar. Sebenarnya Shara sedang tidak ingin bepergian, entah kenapa rasanya ia sangat merasa tidak enak badan. Namun ia juga tidak ingin mengecewakan suaminya, dan lagipula jarang sekali mereka memiliki waktu untuk berjalan-jalan setelah menikah.
Shara tengah bersiap-siap, ia mengenakan pakaian berwarna lavender. Sakha yang sedari tadi memperhatikan istrinya, melihat sesuatu yang berbeda pada raut wajah istrinya.
"Dek, kamu baik-baik saja?" tanya Sakha.
Shara menoleh, lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Kenapa memangnya, Mas?" tanya balik Shara.
"Emm, sepertinya wajahmu terlihat pucat." Sakha menempelkan telapak tangannya pada pipi Shara.
"Aku baik-baik saja," jawab Shara dengan tersenyum tipis.
"Kau yakin? Jika kamu sedang merasa tidak enak badan, kita batalkan saja jalan-jalannya," ucap Sakha.
Shara menghela nafasnya, ia meraih tangan suaminya.
"Aku baik-baik saja, aku sudah siap. Kita berangkat sekarang," ajak Shara.
"Ya sudah, ayo." Sakha meraih lengan istrinya, dan kini mereka berjalan keluar kamar.
***
Sakha dan Shara berjalan menuruni anak tangga, di ruang tamu terlihat Umi Merry juga Abi Fadlan yang tengah menonton televisi.
"Kalian mau kemana?" tanya Umi Merry.
"Jalan-jalan, Mi." Shara menjawab.
"Oh, ya sudah. Hati-hati," ucap Umi.
"Baik, Mi. Assalamuallaikum," ucap Sakha juga Shara.
"Wa'allaikumussalam," jawab Umi dan Abi.
Shara dan Sakha berlalu, mereka kini berjalan menuju mobil. Sakha menyalakan mesin mobilnya, dan segera melaju meninggalkan tempat tinggal mereka.
Hari ini jalanan cukup padat merayap cuaca juga tampak terik, membuat hawa didalam mobil terasa panas.
Shara memijat pelan keningnya, ia merasa pusing seketika.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Sakha saat melihat raut wajah istrinya yang tambah memucat.
"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing, mungkin karena cuacanya panas hari ini." Shara menuturkan.
__ADS_1
"Apa kita putar balik saja?" tanya Sakha.
"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja," sahut Shara.
Sakha sejenak menatap istrinya, lalu ia kembali memfokuskan tatapannya pada jalan raya.
***
Sesampainya di suatu pusat perbelanjaan, Sakha dan Shara menuju tempat tujuan awalnya yaitu bioskop. Dikarenakan jam tayang film yang mereka akan tonton masih sekitar satu jam lagi, mereka memutuskan untuk berkeliling mall terlebih dulu.
Di tengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba saja Shara kembali merasakan berat pada kepalanya. Ia kembali memijat keningnya, kali ini rasa pusing itu bersatu dengan mual yang dirasakannya.
"Hooekk..."
Seketika Shara memegang perutnya yang serasa diaduk-aduk, ia juga muntah tanpa mengeluarkan apapun.
Mendapati hal itu, Sakha dibuat panik oleh kondisi istrinya.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Sakha sambil memegang kedua bahu istrinya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mas, bisa belikan aku minuman dingin?" pinta Shara.
Sakha terdiam sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya.
Sebelum pergi membeli minuman yang diminta oleh istrinya, Sakha terlebih dulu memapah Shara untuk duduk dikursi yang ada di salah satu sudut sebuah toko.
Sakha berlari meninggalkan Shara, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari kedai minuman segar.
Sesampainya di kedai yang ia cari, Sakha segera memesan satu cup minuman jus mangga yang ia pikir bisa meredakan mual yang dirasakan oleh istrinya.
Saat tengah menunggu pesanan, tanpa sengaja dari jarak sekitar 3 meter ia melihat Airin yang tengah berjalan dengan terlihat sedikit sempoyongan.
Sakha terkejut ketika melihat Airin yang kini ambruk di tengah ramainya orang berlalu lalang, ia segera berlari mendekati Airin.
"Mbak, bangun!" teriak salah satu pengunjung mall yang berusaha menyadarkan Airin.
Orang-orang kini tengah mengerubungi Airin, mereka mencoba untuk membantu Airin sadar.
"Permisi," ucap Sakha.
Seketika orang yang menghalangi jalan Sakha langsung menggeser posisinya, memberi ruang untuk Sakha melihat kondisi Airin.
"Astagfirulloh, Rin bangun." Sakha menepuk pelan bahu Airin.
"Mas, ini temannya?" tanya salah seorang pengunjung.
"Iya ini teman saya, Mbak."
__ADS_1
"Bawa ke rumah sakit saja, Mas. Takutnya terjadi apa-apa," saran salah seorang lainnya.
Sejenak Sakha merasa bingung, satu sisi istrinya tengah menunggunya dan disisi lain ia juga tidak tega melihat kondisi Airin yang tak sadarkan diri ditempat umum.
"Ya Allah, aku harus apa?" tanya Sakha dalam batinnya.
***
Ditempat lain, Shara merasakan mual yang begitu hebat. Ia tak tahan dengan pusing dan mual yang dirasakannya, Shara memutuskan pergi dari tempatnya menuju tempat yang mungkin bisa mengatasi rasa mual dan pusingnya.
Shara berjalan sekuat tenaga, menahan rasa yang tidak enak pada tubuhnya.
Tanpa sengaja Shara melihat kerubungan orang banyak, sejenak ia juga memperhatikan orang-orang yang berada disana.
Matanya membulat ketika melihat sosok yang sangat dikenalinya tengah membantu seorang perempuan yang juga ia kenal tak sadarkan diri.
Shara hendak menghampiri kerubungan orang itu, namun kembali rasa mual membuatnya berlari meninggalkan tempat itu.
Sakha yang hendak membantu Airin berdiri, tangannya telah menyentuh kedua bahu Airin namun ia mengurungkan niatnya ketika mengingat seseorang yang juga membutuhkannya.
"Mas, kenapa? Ayo bantu dia," ucap salah satu orang.
"Mbak, bisa tidak jika Mbak yang membantunya? Saya akan pesankan taksi. Istri saya sedang menunggu, dan saya tidak mungkin membiarkannya sendiri," ujar Sakha.
"Oh, Baiklah."
Airin kini di bantu oleh beberapa orang pria juga wanita, sedangkan Sakha kini tengah menghubungi taksi untuk datang menjemput Airin.
Setelah selesai dengan Airin, Sakha kembali ke kedai untuk mengambil pesanannya dan kembali menemui Shara.
Sakha berlari secepat mungkin, ia juga merasa khawatir dengan kondisi istrinya.
Sesampainya ditempat dimana ia mendudukkan Shara, Sakha dibuat bingung karena tak mendapati istrinya disana.
Ia mengedarkan pandangannya mencari Shara, ia juga beberapa kali menghubungi Shara namun tak mendapati jawaban.
Sakha berinisiatif untuk mencari Shara ke toilet, ia menanyakan istrinya pada beberapa orang disana namun mereka tak melihat sosok yang dimaksud oleh Sakha.
Sakha beralih menuju bioskop, ia berharap Shara tengah menunggunya disana. Lagi-lagi pencariannya tak membuahkan hasil.
"Astagfirulloh, kamu kemana Dek?" tanya Sakha dalam batinnya.
Sakha berlari menuju parkiran mobil, mungkin istrinya memutuskan untuk kembali ke mobil dan beristirahat, pikirnya.
Dengan langkah cepat dan raut wajah yang cemas, Sakha menuju mobilnya dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Di tempat parkir mobil, Sakha kembali dibuat khawatir karena tak mendapati istrinya didalam mobil. Sakha kembali mencoba menghubungi Shara, kali ini nomor yang ditujunya tidak aktif.
__ADS_1
"Ya Allah, kamu kemana? Apa jangan-jangan kamu melihatku yang hendak membantu Airin?" Sakha bertanya-tanya dalam hatinya. Ia kini memutuskan kembali menuju rumahnya, berharap Shara sudah kembali ke rumah dan ia akan menjelaskan segalanya pada istrinya.