PRANIKAH

PRANIKAH
Keyakinan Bima


__ADS_3

Airin masih menatap penuh tanya pada Bima, begitupun dengan Sakha. Mereka masih berusaha mencerna ucapan Bima, terlebih Sakha.


"Bim, apa maksud ucapanmu?" tanya Sakha.


Bima menatap keras mata Sakha juga Airin, langkah kakinya perlahan bergerak mendekati Airin


"Rin, dengarkan aku. Berikan barang itu padaku, setelah itu kita bicara baik-baik." Bima berjalan dengan hati-hati mendekati Airin, ia tak ingin menggertak sehingga dapat mencelakai Airin.


Airin melangkah mundur, ia masih tak menanggapi perkataan Bima. Mata Airin masih menuju pada Sakha, ia berharap Sakhalah yang membujuknya.


Bima menatap Airin yang lengah, ia segera memanfaatkan momen itu untuk meraih benda tajam yang tertuju pada pergelangan tangan Airin.


Bima meraih benda itu dengan paksa dan cepat, membuat Airin tak mampu melawan sedikitpun.


"Bima, kembalikan!" teriak Airin.


Bima menjauh dari Airin, ia menyembunyikan benda tajam itu di bawah tumpukan buku-buku.


Sakha menarik tas Airin, yang membuat mantan kekasihnya itu tertarik mundur.


"Rin, istigfar. Buka mata kamu!" Seru Sakha.


Airin menatap tajam, "buka mata? Harusnya kamu yang buka mata, Sakha. Apa kamu gak lihat gimana perasaan aku sama kamu? Kamu jahat, Kha. Kamu bahagia diatas penderitaan aku!" sahut Airin dengan emosi yang meledak-ledak.


"Astagfirulloh, Rin. Semua sudah Allah atur dengan baik, siapapun gak ada yang bisa mencegah kuasaNya!" seru Sakha.


Dari arah belakang, Bima sudah berdiri di dekat Airin. Ia berjaga-jaga jika Airin berbuat hal aneh lainnya, namun ia lengah. Airin malah berlari keluar ruangan, Bima dan Sakha tidak tahu apa yang akan di lakukan Airin. Mereka memutuskan untuk mengejar Airin, bahkan Sakha berlari mendahului Bima.


Sakha hampir meraih tali tas milik Airin, namun tangannya di tepis oleh Airin dengan kasar.


Bima dan Sakha terus mengejar Airin, sampai ia menerobos kendaraan yang tengah terhenti di lampu merah.


Sakha dan Bima berusaha mengejar Airin, namun ketika Sakha hendak menyebrang jalanan lampu hijau tiba-tiba menyala membuat para kendaraan kembali melaju.


Dari arah sebrang Airin melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, dengan sigap ia kembali ke arah Sakha dan mendorongnya.


"Airin..."


Sakha dan Bima berteriak sangat kencang, tubuh Airin terpental jelas didepan mata mereka berdua.


Darah segar bercucuran menutupi hampir setengah wajah Airin, membuat Sakha dan Bima berlari untuk menolongnya.


"Ya Allah, Rin. Bim, panggil ambulance!" seru Sakha dengan panik.


Bima mengangguk, dan segera menghubungi rumah sakit terdekat dari tempat mereka.


"Sebentar lagi datang," ucap Bima dengan gemetar.


Bima dan Sakha di bantu oleh orang-orang dan para pengendara yang berhenti untuk menolong Airin, mereka membawa Airin ke pinggir jalan.


"Ya Allah, Bim. Aku takut," ucap Sakha dengan raut yang sangat tegang.


"Kha, kita berdoa saja. Mudah-mudahan Airin baik-baik saja," ucap Bima.


Sakha mengangguk pasrah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Bima terduduk lesu, ia menatap Airin yang tak berdaya.


Tak lama terdengar bunyi yang berasal dari mobil ambulance, Sakha dan Bima segera berdiri. Mereka meminta beberapa orang untuk memasukan Airin ke dalam mobil, Sakha ikut masuk begitu juga Bima.


Pikiran mereka sangat kalut saat ini, mengingat kejadian tragis yang terjadi pada Airin tepat di depan mata mereka.


Mobil ambulance melaju dengan kecepatan tinggi, suara nyaring yang di timbulkan dari sirine seketika memecah kemacetan yang menghalangi jalan mereka.


***


Sesampainya di sebuah rumah sakit, para petugas medis mengeluarkan Airin dari mobil dan membawanya ke ruangan unit gawat darurat.


Sakha dan Bima hanya bisa menunggu dengan harapan ada hal baik yang akan mereka dapat, terdengar sayup-sayup doa yang dipanjatkan untuk Airin dari keduanya.


Bima duduk di samping pintu UGD, sangat tampak jelas kecemasan pada raut wajahnya.


Sakha ikut duduk di samping Bima, keduanya kini menunduk lesu menunggu kabar tentang kondisi Airin.


Sakha teringat pada istrinya, ia merogoh ponsel didalam saku celananya dan berniat untuk menghubungi Shara.


Tiga kali Sakha mencoba menghubungi Shara, hingga akhirnya Shara menerima panggilan telepon dari suaminya itu.


"Assalamuallaikum, Mas? Ada apa?" tanya Shara di balik ponsel.


"Wa'allaikumsalam, Dek. Ini Mas cuma mau kasih tahu, kalau sekarang Mas ada di rumah sakit," ucap Sakha dengan suara gemetar.


"Asfagfirulloh, Mas kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Shara dengan panik.


"Nanti Mas cerita, Mas hanya tidak ingin membuatmu cemas kalau nanti Mas pulang telat," ujar Sakha.


"Mas ada di rumah sakit X, Mas juga sama Bima disini." Sakha menuturkan.


"Oh baiklah, aku kesana sekarang."


Shara menutup panggilan telepon suaminya secara sepihak.


"Tidak usah, Dek. Halo, Dek?" Sakha melirik layar ponselnya, dan panggilan memang sudah tidak terhubung lagi.


"Astagfirulloh, Dek. Kenapa teleponnya di tutup, sih." Sakha menggerutu.


Sakha menatap layar ponselnya, lalu ia kembali memasukkannya ke dalam saku celana.


Suasana masih menegangkan, tak kunjung ada kabar dari pihak media yang menangani Airin.


***


Setelah menerima panggilan dari suaminya, Shara yang di temani oleh Ibu juga Ayah Sakha segera menuju rumah sakit.


Mereka sangat terlihat panik, apalagi Sakha belum memberitahu apa yang terjadi sehingga dirinya berada di rumah sakit.


Shara juga orangtua Sakha pergi menggunakan taksi, mereka meminta pada supir agar melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang perjalanan, Shara hanya bisa berdo'a agar suaminya selalu di lindungi oleh Allah. Ia tak ingin berpikiran buruk apapun tentang suaminya, begitupun orangtua Sakha.


Membutuhkan waktu setengah jam lebih, sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Dengan tergesa, mereka menyusuri lorong menuju tempat dimana Sakha berada.


Dari kejauhan, Shara melihat suaminya yang tengah tertunduk. Dengan langkah cepat, Shara segera menghampiri Sakha.


"Asslaamuallaikum, Mas. Kamu baik-baik saja?" tanya Shara sembari memegang bahu suaminya.


Kedatangan Shara beserta orangtuanya, membuat Sakha sedikit terkejut. Bima yang sedari tak bergeming di samping Sakha, kini ikut berdiri dan siap untuk menjelaskan apabila terjadi kesalahpahaman.


"Wa'allaikumsalam, Dek. Ayah, Ibu, kenapa bisa datang sama Shara?" tanya Sakha.


"Ibu sama Ayah kebetulan sedang berkunjung ke rumahmu, dan Ibu kaget pas kamu bilang lagi ada di rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi, Kha?" tanya Ibu Sakha.


Sakha melirik pada Bima, mereka kini saling bertukar pandang.


"Sakha, kenapa diam? Apa yang terjadi?" tanya Ayah Sakha dengan tegas.


Saat Sakha hendak menjelaskan apa yang terjadi, tiba-tiba saja pintu ruangan UGD terbuka.


Sakha dan Bima sontak menoleh, membuat orangtua Sakha juga Shara ikut menoleh.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Bima dengan penasaran.


Dokter menampakkan raut wajah kurang baik, membuat Sakha juga Bima semakin merasa khawatir.


"Begini, Mas. Kecelakaan yang terjadi pada pasien tampaknya cukup keras, sehingga membuat benturan pada kepala pasien lumayan parah. Kami sudah melakukan tindakan operasi di bagian tengkorak, dan kita hanya bisa berdoa saja agar pasien secepatnya mampu melewati masa kritisnya." Dokter menjelaskan secara garis besar.


Sakha dan Bima terdiam, tak ada yang bisa mereka lakukan lebih dari sekarang. Mereka hanya bisa pasrah, dan berdoa agar Airin segera siuman.


"Dok, siapa yang dokter maksud? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Shara dengan rasa penasaran.


"Oh, saya kurang tahu. Hanya saja tadi Mas-Mas ini mengantarkan seorang pasien perempuan dengan luka cukup parah di kepalanya." Papar dokter itu.


Shara menatap Sakha penuh tanya, sedangkan Bima hanya bisa menunduk entah apa yang harus di lakukannya saat ini.


"Sakha, jelaskan!" pinta Ayah Sakha dengan nada tegas.


"Airin, Yah, Bu, Dek. Dia tertabrak mobil tepat dihadapan kami," ujar Sakha dengan hati-hati.


Shara terkejut, begitupun kedua orangtua Sakha.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Ibu Sakha.


Sakha menunduk, dan membuat Bima berinisiatif untuk menjelaskan semuanya pada istri juga orangtua Sakha.


Shara hanya bisa terdiam mendengar semua penjelasan Bima, ia tak bergeming sedikitpun.


"Sudah berapa kali Ayah bilang putuskan hubunganmu dengan wanita itu!" seru Ayah Sakha dengan nada tinggi.


"Yah, Bu, demi Allah Sakha sudah tidak ada hubungan apapun dengan Airin. Sakha juga tidak tahu kenapa Airin sampai berbuat seperti itu," bela Sakha.


"Om, Tante, Shara, apa yang di bilang Sakha benar. Sakha sudah memutuskan hubungannya dengan Airin sejak lama, hanya saja memang Airin yang belum mampu menerima kenyataan tentang pernikahan Sakha dengan Shara. Om, Tante, kalian harus percaya pada Sakha, Bima jamin Airin tidak akan berulah lagi. Bima aka pastikan itu," sahut Bima dengan penuh keyakinan.


Melihat keyakinan Bima kedua orangtua Sakha tak menimpali apapun, Shara hanya bisa menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia hanya berharap yang terbaik untuk masalah ini.


Dan melihat kesungguhan Bima, Sakha yakin sahabatnya itu memang memiliki perasaan lebih pada Airin.

__ADS_1


__ADS_2