
Hari lamaran telah berlalu, kini Sakha juga Shara tengah di sibukkan dengan urusan mereka masing-masing. Kedua keluarga itu sibuk mengurus keperluan menjelang pernikahan Shara dengan Sakha, selain itu juga mereka tidak di perbolehkan untuk bertemu dulu sampai hari pernikahan tiba.
"Umi, ada yang bisa Ara bantu?" tanya Shara.
"Tidak usah, kamu istirahat saja. Calon pengantin harus terlihat fresh ketika akad nanti," ujar Umi Merry.
"Tapi Umi, Ara bosan. Umi juga banyak yang harus di kerjakan, bukan?" tanya Shara.
"Sayang, ada Bibi juga Tante juga, kok. Sudah, kamu masuk kamar saja lagi," pinta Umi Merry.
Shara menghela nafasnya, ia benar-benar merasa bosan. Seminggu menjelang pernikahan, membuat Shara harus mengosongkan semua kegiatannya. Kini Shara hanya bisa bersantai di rumahnya, sesekali ia juga memainkan ponselnya.
Raut wajah Shara tiba-tiba saja berubah, ketika mendapati satu pesan yang di kirim oleh Sakha padanya.
"Assalamuallaikum, Ara. Sedang apa? Apa Akha mengganggu?"
_Sakha_
Shara dengan cepat membalas pesan itu, dengan perasaan senang kini jemarinya menari lincah di atas papan ketik.
"*Wa'allaikumussalam, Akha. Ara sedang duduk saja, bosan tidak ada kegiatan. Akha tidak menggangu, kok. Oh iya, Akha sendiri sedang apa?"
_Shara*_
Sakha tersenyum mendapat balasan pesan dari Shara, ia secepat mungkin membalas pesan itu. Setahu Sakha, bukankah perempuan itu tidak suka, kalau pasangannya lama dalam membalas pesan. Maka dari itu Sakha berusaha agar tidak membuat Shara menunggu.
"Akha sedang memikirkan calon istri,"
Sakha menjawab pesan itu dengan memberi kesan gombalan, dengan terkekeh ia mengirim balasan pesan pada Shara.
Shara yang menerima balasan itu pun ikut terkekeh.
"Hus, istigfar. Jangan di bayangkan terus, nanti malah timbul dosa," tegur Shara dengan lembut dalam pesannya.
Sakha tersenyum, ia merasa begitu bersyukur mendapat calon istri seperti Shara yang berpegang teguh pada agamanya.
*Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Wanita umumnya dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung*.
Sakha teringat dengan permintaan Bima yang meminta agar Shara mau membimbing Airin untuk berhijrah, ia segera meminta izin untuk menelepon agar bisa lebih leluasa untuk membicarakan maksudnya.
__ADS_1
"Ra, boleh aku menelepon? ada yang ingin Akha bicarakan," Sakha segera mengirim pesan itu, dan dengan cepat ia mendapat balasan dari Shara yang memperbolehkannya untuk menelepon.
"Assalamuallaikum, Ra." Sakha menyapa.
"Wa'allaikumussalam, kenapa Kha?" tanya Shara di balik ponsel.
"Begini, Ra. Emm, apa kau bersedia membimbing seseorang yang ingin berhijrah?" tanya Sakha dengan hati-hati.
"Seseorang? siapa memangnya? Dan kenapa Akha menanyakan ini pada Ara?" tanya Shara.
"Emm, karena Akha pikir Ara orang yang tepat." Sakha memaparkan.
"Memang siapa?" tanya Shara semakin di buat penasaran.
"Dia adalah Airin," jawab Sakha dengan ragu.
Sejenak Shara terdiam, ia tidak mengerti kenapa Sakha memintanya untuk membantu Airin dalam berhijrah. Namun, tidak baik pula jika menolak permintaan seseorang yang ingin memperbaiki dirinya.
"Ra, bagaimana? Tapi kalau Ara keberatan juga tidak apa," tanya Sakha, ia juga merasa tidak enak hati pada Shara.
"Aku mau," jawab Shara.
Sakha terhentak mendengar jawaban Shara, ia tak menyangka jika calon istrinya itu mau membantu mantan pacarnya untuk berhijrah.
"Iya, aku mau membantunya." Shara menegaskan jawabannya.
"Tetapi tidak dalam waktu dekat ini, karena saat ini Ara tidak di perbolehkan keluar rumah," imbuhnya.
Sakha mengerti dengan kondisi Shara, memang dalam beberapa adat melarang calon pengantin untuk berdiam diri di rumah, atau istilahnya di pingit.
"Akha mengerti, nanti Akha bicarakan hal ini pada Bima." Sakha menuturkan.
"Bima? Apa hubungannya dengan Bima?" tanya Shara.
"Iya, karena Bima yang meminta Akha untuk membicarakan hal ini pada Ara," jawab Sakha.
Shara merasa sedikit lega, dengan begitu mungkin Sakha tidak berhubungan langsung dengan Airin. Mungkin yang saat ini tengah di rasakan Shara adalah cemburu, tetapi ia tak menyadarinya.
"Baiklah kalau begitu," sahut Shara.
"Yasudah, aku tutup dulu. Terima kasih, Ra. Assalamuallaikum," ucap Sakha.
"Sama-sama, wa'allaikumussalam." Shara mematikan panggilan dari Sakha dan kembali menaruh ponselnya di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Semoga hal ini tidak akan berdampak buruk pada hubunganku dengan Sakha, berpikir positif Ara!" Serunya dalam batin.
Saat pernikahan hanya tinggal menghitung hari, jangan kaget jika tiba-tiba datang seseorang yang seketika mampu menggetarkan hati. Hubunganmu dan pasangan akan diganggu oleh orang ketiga yang tak jarang malah datang dari masa lalu. Hati-hati sebelum bertindak, selalu libatkan pasangan pada setiap keputusan.
***
Sakha berniat menghubungi Bima untuk memberitahu jika Shara menyetujui permintaannya, walau dalam hatinya ia sedikit cemas, namun sebisa mungkin ia tetap berpikir positif.
"Halo, assalamuallaikum, Kha." Bima menyaut lebih dulu di balik ponsel.
"Wa'allaikumussalam, Bim." Sakha juga menyauti.
"Ada apa menghubungiku, Kha?" tanya Bima.
"Tidak apa-apa, hanya ingin memberitahu kalau Shara setuju dengan permintaanmu," jawab Sakha.
"Benarkah? Alhamdulillah," ucap Bima.
"Iya, benar. Tetapi, sebenarnya aku sedikit cemas Bim," ujar Sakha.
"Apa yang kau cemaskan?" tanya Bima.
"Emm, aku hanya takut jika hal ini akan menimbulkan masalah dalam rumah tanggaku nanti, karena Shara bisa membimbing Airin jika pernikahan kita sudah di laksanakan," tutur Sakha.
Bima mengerti yang di cemaskan oleh Sakha, ia juga memaklumi kondisi mereka saat ini.
"InsyaAllah, tidak akan terjadi hal buruk pada pernikahan kalian. Airin sudah ingin berubah," ujar Bima meyakinkan.
"Iya, aku juga berharap seperti itu. Kau tahu sendiri bagaimana aku memperjuangkan Shara," sahut Sakha.
"Iya, aku sangat mengerti." Bima memahami.
"Oh iya, bagaimana studio?" tanya Sakha, untuk beberapa hari kedepan ia tak dapat membantu Bima di studio photo milik mereka.
"Tenang, studio aman. client juga terkendali, kau fokus saja pada pernikahanmu." Bima mencoba meyakinkan Sakha.
"Alhamdulillah, terima kasih. Bim, kau memang sahabat terbaikku," ucap Sakha dengan tulus.
"Sama-sama, jelas aku yang terbaik. Karena temanmu kan cuma aku," Bima tergelak, Sakha pun ikut tertawa. Indah memang jika kita memiliki sahabat yang selalu ada dan membawa kita pada kebaikan.
Persahabatan tidak terjalin dengan orang yang istimewa. Namun, kita jadi istimewa karena bersahabat. Sahabatlah yang mengistimewakan kita.
Bersyukurlah jika kalian memiliki sahabat yang selalu mengistimewakan, dan membawa kalian pada kebenaran.
__ADS_1