PRANIKAH

PRANIKAH
Bertemu Airin


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Sakha berniat untuk bekerja, ia diantar oleh sang istri menuju mobilnya.


"Mas berangkat, kamu baik-baik dirumah." Sakha meraih tas gendong berisi kamera yang sedari tadi dibawakan oleh istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati," sahut Shara.


"Pasti, assalamuallaikum." Sakha menyodorkan tangan kanannya.


"Wa'allaikumussalam, kabari jika sudah sampai." Shara meraih tangan Sakha dan menciumnya.


Sakha berjalan menuju mobilnya, ia segera melajukan kendaraannya menuju tempatnya bekerja.


***


Di perjalanan menuju studio photo, tanpa sengaja ia melihat Airin yang tengah berdiri di halte bus. Jalanan hari ini cukup padat hingga sesekali terjadi kemacetan, tanpa di duga mobil milik Sakha pun terhenti tepat dihadapan Airin.


Airin mengenal kendaraan itu, ia menajamkan matanya menatap kedalam kaca mobil milik Sakha.


Begitupun Sakha, ia menyadari Airin yang tengah menatapnya.


Sakha membuka kaca mobilnya, ia hendak menyapa Airin yang masih menatap kearahnya.


"Assalamuallaikum, Airin. Sedang apa kamu disini?" tanya Sakha basa-basi.


"Wa'allaikumussalam, aku sedang menunggu bus." Airin menjawab dengan perasaan yang campur aduk.


Sakha mengangguk, sejenak ia memikirkan sesuatu.


"Ya sudah hati-hati, aku duluan." Sakha pamit, dan kembali melajukan kendaraannya.


Airin mengangguk pelan, raut wajahnya berubah sedih.


"Sakha, aku kira kau akan berbaik hati untuk sekedar memberiku tumpangan. Tetapi nyatanya..."


Airin menyeka air matanya, ia tersenyum getir menahan rasa perih dihatinya.


Dari jauh, Sakha melihat Airin menggunakan kaca depan mobilnya. Sejenak ia merasa bersalah, namun Sakha akan lebih merasa bersalah pada istrinya jika ia menaikkan seorang wanita ke dalam mobilnya walau niatnya baik sekalipun.


"Maafkan aku Airin, aku hanya ingin menjaga diriku saat berada jauh dari istriku. Aku tidak ingin terjadi fitnah, maafkan aku." Sakha kembali memfokuskan matanya menatap jalanan kota.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”


***


Sesampainya di studio, Sakha bergegas masuk kedalam. Seperti biasa, Bima selalu sampai lebih dulu.


"Pagi, Bim." Sakha menyapa.


"Cih, tumben sekali kau mengucapkan selamat pagi kepadaku," ledek Bima.


"Kenapa memangnya?" tanya Sakha acuh.


"Ah sudahlah," sahut Bima.


"Oh iya, Bim. Tentang Airin, Shara setuju." Sakha menuturkan.


Bima tersenyum lega, akhirnya Shara mau membantu Airin untuk berhijrah.


"Alhamdulillah, kalau begitu aku akan memberitahu Airin soal ini." Bima meraih ponselnya hendak mengabari Airin.


Bima mulai mengirim pesan pada Airin, dan ia kembali terdiam ketika mendapat balasan pesan dari Airin.


Sakha menatap perubahan raut wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kenapa kau?" tanya Sakha.


"Ini, Airin meminta nomor telepon Shara." Bima berucap dengan hati-hati.


Sakha pun ikut terdiam, sejenak ia berpikir apa yang harus diputuskannya.


"Bagaimana?" tanya Bima, sontak membuat Sakha terhentak.


"Ya sudah, aku akan memberikan nomor ponsel Shara." Sakha mencoba berprasangka baik pada Airin.


"Kau yakin?" Bima mencoba memastikan.


Sakha mengangguk, ia merogoh ponselnya dan memberikan nomor Shara pada Bima untuk dikirim kepada Airin.


Bima meraih ponsel Sakha, ia langsung mencatat nomor Shara dan mengirimnya pada Airin.


Selesai itu, mereka berdua kembali di sibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.


***


Shara tengah duduk santai diruang keluarga, ia membaca sebuah buku untuk mengurangi kejenuhannya.


Saat Shara tengah larut pada bacaan yang ada dalam buku itu, tiba-tiba saja terdengar dering ponsel.


Shara segera meraih ponselnya, ia mengerutkan keningnya saat nomor tak di kenal tertera dilayar ponselnya.


Shara menggeser tombol hijau, dan menjawab panggilan tersebut.


"Assalamuallaikum, dengan siapa ini?" tanya Shara.


Seseorang diseberang sana tak langsung menjawab salam dari Shara, membuatnya mengulang kembali sapaannya.


"Assalamuallaikum, maaf ini siapa, yah?" tanya Shara lagi.


Shara mengerutkan keningnya, suara seseorang itu seakan tak asing ditelinganya.


"Maaf, ini siapa?" tanya Shara memastikan.


"Aku... Airin," sahutnya.


Shara terhentak, ia terdiam sejenak.


"Oh iya, kenapa?" tanya Shara dengan canggung.


"Emm, mungkin suamimu sudah memberitahumu tentang niatku," jawab Airin.


"Iya, lalu? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Shara.


"Bisa kita bertemu?" tanya Airin.


Shara terdiam sejenak, ia tak bisa memutuskan sendiri tawaran Airin.


"Kapan?" tanya Shara.


"Hari ini, jam dua siang. Bagaimana?" tanya Airin.


"Aku harus meminta izin pada suamiku dulu," jawab Shara.


"Ya sudah, aku tunggu. Terima kasih sebelumnya," sahut Airin.


"Iya, sama-sama. Ada yang ingin kau bicarakan lagi?" tanya Shara.


"Tidak, nanti saja jika bertemu." Airin menuturkan.

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup teleponnya. Assalamuallaikum," ucap Shara.


"Iya, wa'allaikumussalam." Airin menjawab.


Sambungan telepon diantara mereka berakhir, Shara berniat untuk segera menghubungi Sakha dan meminta izin.


***


Sakha mengangkat panggilan yang masuk pada ponselnya, ia tersenyum mendapati seseorang yang meneleponnya.


"Halo, assalamuallaikum dek," jawab Sakha.


"Wa'allaikumussalam, Mas. Mas, aku mau minta izin," ujar Shara.


"Izin untuk apa?" tanya Sakha.


"Airin mengajakku bertemu," jawab Shara.


Sejenak Sakha terdiam, ia tak langsung menjawab permintaan istrinya.


"Mas? Bagaimana?" tanya Shara kembali.


"Oh iya maaf, dimana?" tanya Sakha.


"Entah, dia belum memberitahu." Shara menuturkan.


"Emm, Mas izinkan. Nanti kasih tahu dimana tempatnya, biar Mas jemput pulangnya," pinta Sakha.


"Iya, makasih Mas. Sudah dulu, lancar kerjanya," ujar Shara.


"Iya, I love you. Assalamuallaikum," ucap Sakha.


Shara tersenyum simpul, "I love you too, wa'allaikumussalam." Shara menutup panggilan teleponnya.


Shara mengirim pesan pada Airin, ia memberitahu bahwa mereka dapat bertemu hari ini. Airin membalas pesannya, dan memberikan alamat tempat dimana mereka akan bertemu.


Shara segera bersiap-siap, sebelumnya ia juga menunaikan shalat dzuhur terlebih dulu karena memang sudah masuk waktunya.


***


Sesampainya ditempat yang telah ditentukan Airin, Shara mengedarkan pandangannya mencari sosok Airin. Tatapannya terhenti pada seseorang yang tengah berdiri kearahnya, Airin melambaikan tangannya pada Shara.


Shara berjalan mendekati meja tempat Airin duduk, dengan canggung ia mulai menyapa wanita yang pernah mengisi hati suaminya itu.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Shara sembari tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa, duduklah." Airin mempersilahkan Shara untuk duduk di hadapannya.


"Maaf merepotkanmu," imbuh Airin.


"Tidak juga, apa yang bisa aku bantu?" tanya Shara.


"Sebenarnya aku tidak tahu harus memulainya darimana, aku hanya ingin menjadi lebih baik saja," ujar Airin sedikit tertunduk.


Airin membulatkan matanya, ketika wanita yang membuat kekasihnya berpaling itu menggenggam erat tangannya.


"Jika memang kau ingin menjadi lebih baik, aku akan membantumu sebisaku," ucap Shara dengan tulus.


Airin terdiam, ia menelan salivanya pelan.


"Kenapa kau baik padaku?" pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.


"Karena kau tidak berbuat jahat padaku," jawab Shara dengan pasti.

__ADS_1


"Astaga, kini aku tahu apa yang membuat Sakha dengan mudahnya berpaling dariku dan lebih memilih dia. Sikapnya begitu lembut, tutur katanya pun sangat santun. Aku iri padamu Shara," ucap Airin dalam batinnya.


__ADS_2