
Shara menangis setibanya di dapur, ia begitu tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Kakinya seakan tak kuasa menopang tubuhnya, ia menyesal telah mendengar percakapan suaminya tadi.
"Harusnya aku tidak mendengar semua itu," gumamnya.
"Astagfirulloh, kenapa aku ini? Mas Sakha tidak mungkin mengkhianati aku, dia tidak seperti itu." Shara menyeka air matanya.
"Aku harus bicarakan hal ini dengan Mas Sakha," ucap Shara.
Setelah tangisnya mereda, Shara memutuskan untuk kembali menemui suaminya.
Shara berjalan dengan perlahan, ia berusaha untuk menghilangkan jejak tangisan di wajahnya.
Pintu tiba-tiba saja terbuka, ketika Shara hendak membuka pintu itu juga.
"Dek, kamu dari mana saja?" tanya Sakha.
Shara tersenyum tipis, ia bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Aku tadi dari dapur," ucap Shara dengan terbata.
Sakha merasa aneh dengan nada bicara istrinya, namun ia memilih tak menghiraukan perasaannya.
"Mas mau sarapan sekarang?" tanya Shara.
Sakha mengangguk, "boleh."
Shara ikut mengangguk dan mengajak Sakha menuju meja makan.
"Aku belum sempat memasak sarapan, jadi hanya ada roti dan selai. Mas mau sarapan ini atau yang lain?" tanya Shara.
"Mas sarapan sama roti saja," sahut Sakha.
Sakha mengangguk dan ia mengambilkan selembar roti untuk suaminya.
"Mau selai apa, Mas?" tanya Shara.
"Coklat kacang saja," ucap Sakha sembari melihat-lihat berita di surat kabar yang ada di atas meja.
Shara menyiapkan roti dengan selai coklat kacang di atasnya, lalu ia menaruh roti itu di atas piring dan memberikannya pada Sakha.
"Makan, Mas."
Sakha segera menaruh surat kabar yang tengah ia baca, dan menyantap roti yang telah di buatkan istrinya.
"Kamu juga makan, Dek."
Shara mengangguk, dan mengambil selembar roti lagi untuknya.
Shara tengah mencari waktu yang tepat untuk menanyakan perihal kejadian semalam pada Sakha, ia sangat takut namun juga penasaran.
"Mas, apa aku boleh bertanya?" tanya Shara dengan nada gemetar.
"Tentu saja boleh, memangnya kamu mau tanya apa?" tanya Sakha.
Shara terdiam sejenak, ia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
"Kenapa Mas pulang sangat larut semalam?" tanya Shara dengan hati-hati.
__ADS_1
Sakha yang tengah mengunyah, seketika menghentikan kunyahanya dan segera melarutkannya dengan seteguk air putih.
"Semalam, Mas dan Bima tengah menyelesaikan pemotretan dengan client yang cukup besar. Kita harus menyelesaikannya malam itu juga jadi Mas dan Bima pulang terlambat," ujar Sakha dengan hati-hati pula.
Shara mengangguk pelan, bukan jawaban itu yang sebenarnya ingin ia dengar.
"Lalu, setelah itu kalian kemana?" tanya Shara.
"Kemana, bagaimana maksudnya?" tanya Sakha.
"Maksudku, apa Mas dan Bima pergi ke suatu tempat untuk makan atau apa gitu." Shara berucap dengan sangat canggung. Ia tak terbiasa mengintrogasi seperti ini, namun ia juga ingin menghilangkan rasa penasarannya.
Sakha terdiam, ia tampak bingung menjawab pertanyaan istrinya.
"Aku tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Shara, aku takut dia kepikiran."
"Mas, langsung pulang. Hanya saja, Mas harus mampir untuk mengambil motor di studio karena lokasi pemotretan cukup jauh dan Bima menyarankan untuk menggunakan mobil." Sakha menerangkan, berharap Shara percaya dengan kata-katanya.
Shara terdiam, entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya.
"Mas, kenapa kau tidak berbicara yang sebenarnya. Apa yang tengah kau tutupi dariku," ucap Shara dalam batinnya.
"Begitu, yah."
Shara tampak murung, ia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa pada suaminya.
"Sepertinya, aku harus menemui Airin." Shara kembali bertekad dan mencari tahu yang sebenarnya.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Sakha.
Shara terhentak, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Mas, apa hari ini Mas akan berangkat bekerja?" tanya Shara.
"Aku boleh menumpang?" tanya Shara.
"Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Sakha.
"Emm, aku ingin ke toko buku." Shara mencoba untuk mencari alasan yang bisa meyakinkan suaminya.
Sakha mengangguk dan menyetujui keinginan istrinya, ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang berbeda dari Shara.
***
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, dan Sakha tengah bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Shara juga menunggu suaminya, ia sudah rapih dengan pakaiannya.
"Nanti kalau sudah beli bukunya, kamu hubungi Mas. Biar nanti Mas yang jemput kamu," ucap Sakha.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang sendiri," jawab Shara.
Sakha menghela nafasnya, ia sebenarnya khawatir dengan keadaan Shara jika bepergian sendiri.
"Tapi kamu harus janji akan terus menghubungi Mas," pinta Sakha.
"Iya," jawab Shara.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang."
__ADS_1
Sakha menggandeng tangan istrinya, dan kini mereka berjalan beriringan keluar rumah.
"Sebentar, aku kunci pintu dulu."
Shara melepas genggaman tangan suaminya, dan merogoh kunci rumah yang berada di bagian dalam pintu.
Setelah selesai merekapun langsung berangkat menuju tempat tujuan, tentunya ini kali pertama Shara bepergian menggunakan sepeda motor lagi.
"Hati-hati, Mas. Jangan kebut-kebutan," pinta Shara.
"Iya, baca doa dulu."
Shara menuruti apa yang di perintahkan suaminya, mereka berboncengan menelusuri tiap jalan.
Sesampainya di toko buku, Shara segera turun dari motor.
"Mas berangkat dulu, kamu hati-hati. Kabari Mas terus," ucap Sakha.
Shara mengangguk patuh, "iya, Mas."
"Ya sudah Mas berangkat, assalamuallaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Shara memandang punggung suaminya yang mulai menjauh, setelah tak terlihat lagi Shara segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Assalamuallaikum, bisa bertemu hari ini? di toko buku," ucap Shara pada seseorang di balik ponsel.
"Terima kasih," Shara menutup sambungan teleponnya dan berjalan menuju sebuah bangku yang ada di depan toko buku itu.
Shara menunggu hampir setengah jam lamanya, ia sesekali juga memainkan ponselnya.
"Ada apa memintaku kemari?" tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri Shara.
Shara mendongak, dan beranjak dari tempatnya.
"Bisa kita bicara disana," pinta Shara sambil menunjuk pada salah satu bangku.
Seseorang itu mengikuti arah telunjuk Shara, dan kembali menatap ke arah sebelumnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!" Serunya.
Shara menarik nafasnya terlebih dulu, ia juga telah bersiap untuk menghadapi apapun jawaban yang akan di dengarnya.
"Kemarin malam, apa kau berada dengan suamiku?" tanya Shara dengan gemetar.
Wanita yang tak lain adalah Airin terdiam sejenak mendengar pertanyaan Shara, mungkin Sakha tidak memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya diantara mereka. Tentunya Airin tidak menyia-nyiakan kesempatan, ini sangat menguntungkannya.
"Benar, kenapa memangnya?" tanya Airin dengan sombong.
Nafas Shara mulai memburu, baru satu jawaban singkat saja sudah membuat dadanya sesak.
"A-apa yang kalian lakukan?" tanya Shara dengan gugup.
Airin tersenyum sinis, ia melipat kedua tangannya di atas perut dan memperhatikan mimik wajah Shara yang mulai terlihat kecewa.
"Menurutmu, apa yang di lakukan seorang wanita dam pria dewasa di tengah malam hari?" tanya Airin dengan penuh penegasan.
Shara tertegun, matanya mulai memerah. Sekuat tenaga ia menahan agar tak menangis di depan Airin.
__ADS_1
"Jika kalian saling mencintai dan saling percaya satu sama lain, mengapa Sakha tidak berkata yang sebenarnya padamu." Ujar Airin sembari pergi meninggalkan Shara yang masih mematung di tempatnya.
Shara menahan gemuruh di dadanya, ia merasa lemas sekarang. Pikirannya berkecamuk, ia tak percaya hal ini terjadi pada rumah tangganya.