PRANIKAH

PRANIKAH
Gelombang Cinta


__ADS_3

Tak ada satu hari terlewatkan oleh Bima, setiap harinya ia selalu menjenguk bahkan menemani Airin yang masih belum sadarkan diri.


Entah kenapa, dalam hati Bima muncul rasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bima merasa bahwa hari-harinya seakan diharuskan untuk sekedar melihat Airin, bahkan setiap menemani Airin ia selalu menceritakan apa yang dilaluinya setiap hari.


Bima berusaha berbincang dengan Airin, menanyakan kabarnya, mengajaknya bercengkrama, bahkan bercanda. Hal itu Bima lakukan untuk membantu kondisi Airin, ia berharap dengan ini bisa membantu proses penyembuhannya.


Tak terasa sudah hampir beberapa bulan Airin terbaring koma, dan dengan setia Bima selalu menemaninya. Lantunan ayat-ayat suci al-quran selalu Bima bisikan pada telinga kanan Airin, dengan sabar ia selalu menunggu waktu dimana Airin akan membuka matanya.


***


Usia kehamilan Shara kini menginjak trimester akhir, tepatnya tiga puluh delapan minggu. Hanya tinggal menunggu beberapa hari untuknya dan Sakha bertemu dengan sang buah hati, Sakha juga sigap menemani istrinya untuk berolahraga yang dimana akan membantu proses kelancaran persalinan Shara nantinya.


"Mas, habis jalan-jalan pagi kita ke rumah sakit, yah." Shara menawarkan.


Sakha mengangguk, sembari menjinjing sepasang sandal milik istrinya Sakha berjalan pelan mengikuti langkah kaki istrinya.


"Boleh, tapi jangan lama juga. Kamu kan harus istirahat," ucap Sakha.


Sakha begitu antusias menyambut kelahiran anak pertamanya, ia telah mempersiapkan sejumlah keperluan yang akan di perlukan istri juga bayinya nanti.


"Dek, nanti kamu lahirannya mau normal atau operasi?" tanya Sakha.


"Aku sih gimana nanti saja, Mas. Semua wanita pasti berharap kalau mereka bisa lahiran normal, tapi kita juga harus melihat gimana kondisinya nanti." Shara memaparkan.


Sakha mengangguk, "semoga semua dilancarkan, yah."


"Aamiin," jawab Shara dengan tulus.


 "Kehadiran anak memang membahagiakan. Tapi kamu pun tetap harus bahagia, entah sebelum memilikinya atau setelah memilikinya."


***


Sakha tengah menunggu istrinya bersiap untuk pergi menjenguk Airin, melihat Shara yang tampak kesusahan menutup resleting bajunya membuat Sakha berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Mas bantu, yah." Sakha meraih resleting baju istrinya, dan menariknya kearah atas.


Sakha memeluk istrinya dari belakang, mengelus lembut perut Shara yang semakin membesar.


"Terima kasih sudah mau bersusah payah mengandung anakku," ucap Sakha sembari menenggelamkan wajahnya pada bahu Shara.


Shara tersenyum, ia membalikkan badannya menghadap Sakha.


"Tidak ada kata terima kasih untuk cinta," sahutnya.


Sakha membalas senyuman istrinya, ia juga mengecup lembut kening Sakha.


"Kita pergi ke rumah sakitnya pakai taksi aja, yah." Sakha menyarankan.


"Loh kenapa? Pakai motor juga tidak apa-apa kok, Mas." Shara membujuk.


Sakha menggelengkan kepalanya, "enggak, deh. Kalau pakai motor nanti kita di tilang polisi," ujar Sakha.


Shara mengerutkan keningnya, "kenapa di tilang? Kita kan pakai pelindung kepala, Mas juga punya SIM."


"Kita kan boncengannya bertiga, Dek. Nanti ditilang kalau bertiga," jawab Sakha asal.


Shara kebingungan menanggapi maksud ucapan Sakha, apa yang dimaksud oleh suaminya. Selama ini mereka bepergian hanya berdua, lalu yang di maksud bertiga itu apa.


"Bertiga gimana sih maksudnya, Mas?" tanya Shara keheranan.

__ADS_1


Sakha menghela nafasnya, "iya bertiga itu aku, kamu, dan cinta." Sakha menjawab sembari mencubit pelan hidung istrinya.


Pipi Shara memerah, ia merasa malu mendapat rayuan dari suaminya.


"Ih kamu gombal Mas," sahut Shara sembari memalingkan wajahnya.


Sakha tertawa kecil, tingkah istrinya saat malu terlihat sangat lucu di mata Sakha.


"Dih, pipinya merah." Sakha masih belum berhenti menggoda Shara.


Shara semakin merasa malu, ia lalu pergi keluar kamar untuk menghindari godaan suaminya.


***


Sakha memutuskan untuk menggunakan taksi, ia khawatir jika istrinya masih bepergian menggunakan sepeda motor.


Selama di perjalanan, Shara tampak sedikit gelisah. Sesekali ia juga meringis, namun Shara masih menahannya agar tak membuat Sakha khawatir.


Sakha menoleh kearah istrinya, ia merasa Shara sedang merasa tidak nyaman saat itu.


"Dek, kamu baik-baik aja?" tanya Sakha.


Shara terkesiap, ia lalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa padanya.


"Eh, kenapa memangnya Mas? Aku baik-baik aja kok," jawab Shara sembari tersenyum tipis.


Sakha menatap istrinya, memastikan bahwa memang tidak terjadi apa-apa pada Shara.


"Kalau kamu ngerasain sesuatu bilang sama Mas yah," pinta Sakha.


Shara mengangguk patuh, "iya Mas."


Shara kembali merasakan nyeri pada punggungnya, ia juga merasa perutnya sangat kencang. Namun Shara mencoba untum merilekskan dirinya, karena ia berpikir ini hanya tanda awal kelahiran.


Benar saja, rasa nyeri itu kembali menghilang. Membuat Shara menghembuskan nafas leganya, ia benar-benar menahan rasa sakit itu agar tak membuat suaminya panik.


Kini Sakha dan Shara telah sampai di rumah sakit, mereka segera masuk dan berjalan menuju ruangan dimana Airin di rawat.


Mereka kini telah sampai di ambang pintu, sekilas Sakha melihat Bima yang tengah duduk di samping tempat tidur Airin.


"Assalamuallaikum," ucap Sakha sembari membuka pintu.


Bima menoleh ke sumber suara, ia segera berdiri dan menyambut sahabatnya itu.


"Wa'allaikumsalam," jawabnya.


"Airin gimana, Bim?" tanya Sakha.


Bima menoleh kearah Airin yang masih memejamkan matanya, "ya gitu Kha, masih sama."


Sakha terdiam, ia juga prihatin dengan apa yang terjadi pada Airin. Kecelakaan waktu itu membuat Airin koma beberapa bulan terakhir ini, hal itu juga membuatnya merasa bersalah.


"Sabar, Bim. Kita harus yakin kalau Airin akan segera sadar," ucap Sakha.


"Iya, Kha."


Bima beralih melirik Shara yang tengah memegang perutnya, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Shara meringis.


"Kha, Shara kenapa?" tanya Bima.

__ADS_1


Sakha segera menoleh kearah istrinya, ia terlihat sangat panik ketika mendengar Shara meringis.


"Dek, kenapa kamu?" tanya Sakha.


"Ah, Mas perutku. Mas, sakit," ucap Shara dengan suara tertahan.


Sakha mendudukkan istrinya pada sofa yang ada di ruangan, ia mencoba untuk tidak terlalu panik.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Bima.


Sakha mengangguk cepat, "iya tolong panggilkan dokter Bim," pinta Sakha.


Bima segera berlari keluar ruangan, ia menyusuri lorong dan mencari seorang dokter.


Shara masih meringis, kali ini ia bahkan menangis. Hal itu membuat Sakha semakin panik.


"Dek, ya Allah. Apa kamu mau lahiran?" tanya Sakha.


Shara tak menggubris pertanyaan suaminya, ia hanya bisa menahan merasakan sakit yang menjalar di tubuhnya.


"Astagfirulloh Mas, sakit." Shara kembali meringis.


"Tahan Dek," pinta Sakha dengan panik.


Pada saat bersamaan terdengar suara lirih, suara itu perlahan memanggil nama Sakha.


"Sa... Kha," ucapnya. Suara itu terdengar berulang kali.


Sakha menoleh, mencari sumber suara. Begitu terkejutnya Sakha saat mendapati suara itu berasal dari Airin, perempuan itu terus bergumam memanggil nama Sakha.


Sakha beralih menuju Airin, ia berniat untuk memastikan apakah benar Airin yang memanggilnya atau bukan. Dan ternyata memang suara itu berasal dari Airin, Sakha bersyukur karena Airin telah siuman. Namun Sakha kembali teralihkan oleh ringisan istrinya, dengan cepat ia kembali menghampiri Shara dan menguatkannya.


"Dek, sabar. Sebentar lagi dokter datang," pinta Sakha.


Tak lama terdengar hentakan beberapa pasang kaki yang berlari kearah Sakha, yang tak lain itu adalah Bima juga dokter. Beberapa perawat juga ikut bersama Bima, dengan membawa kursi roda untuk memindahkan Shara ke ruang pemeriksaan.


"Kha, angkat Shara kesini." Bima menyodorkan kursi roda pada Sakha.


Sakha mengangguk, dengan cepat ia mendudukkan istrinya pada kursi roda.


"Bawa segera ke ruang bersalin," pinta dokter pada perawat.


Perawat itu mengangguk dan mendorong kursi roda menuju tempat yang diperintahkan.


Ketika hendak mengikuti dokter yang membawa istrinya, tiba-tiba Sakha juga Bima mendengar suara Airin yang kembali memanggil nama Sakha.


Bima dan Sakha menoleh bersamaan, mereka berhambur mendekati Airin.


"Alhamdulillah, Rin. Kamu sudah sadar?" tanya Bima dengan bahagia.


Airin perlahan membuka matanya, ia melihat Sakha juga Bima yang kini berdiri di sampingnya.


Sakha melirik kearah Bima, ia seakan meminta izin untuk pergi menemani istrinya yang tengah berjuang menahan sakit.


Bima seakan paham maksud tatapan Sakha, tanpa aba-aba Bima menganggukkan kepalanya dan Sakha segera berlari keluar ruangan menyusul istrinya.


Airin melihat Sakha yang berlalu meninggalkannya, hal itu membuatnya begitu kecewa.


Bima memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Airin, ia juga berulang kali berucap syukur atas kembalinya kesadaran Airin.

__ADS_1


"Sakha, begitu tidak berartinya aku untukmu? Sampai saat aku baru saja membuka mataku, kau malah pergi begitu saja." Airin menitikkan air matanya, meratapi nasib buruk yang menimpanya.


__ADS_2