PRANIKAH

PRANIKAH
Hari Lamaran


__ADS_3

H-1 acara khitbah telah berlalu, hari ini adalah hari lamaran Sakha. Tampak kedua orang tua Sakha di bantu oleh sanak saudara menyiapkan hantaran untuk Shara. Sakha terlihat begitu rapih, dengan balutan baju koko berwarna putih yang di padupadankan celana katun berwarna hitam. Kini Sakha bersama keluarga besarnya tengah menuju ke rumah Shara, Sakha terus berusaha untuk bersikap tenang.


Sama halnya dengan Shara, ia terlihat gugup. Di rumahnya kini telah siap menyambut kedatangan keluarga Sakha. Keluarga besarnya juga tampak hadir dalam acara lamaran hari ini. Shara terlihat sangat cantik juga anggun, dengan balutan jilbab berwarna putih senada dengan khimar yang ia kenakan.


"Ra, kenapa kau terlihat cemas?" Tanya Umi Merry pada putrinya.


"Emm, Ara takut Umi." Shara terlihat gusar.


"Takut kenapa?" Tanya Umi lagi.


"Aku takut ada hal yang kembali menggagalkan acara lamaran ini," ujar Shara.


Umi Merry menatap lekat putrinya, ia mencoba memberikan ketenangan.


"InsyaAllah tidak akan, berdo'alah." Umi Merry menyarankan.


Shara mengangguk, ia memeluk erat Umi-nya.


Tak lama terdengar suara ketukan rumah, dengan cepat asisten rumah tangga membuka pintu dan mempersilahkan keluarga Sakha masuk.


"Assalamuallaikum," ucap Ayah Sakha.


"Wa'allaikumussalam, mari masuk," sambut Abi Shara.


Keluarga Shara menyambut kedatangan keluarga Sakha, mereka kini berkumpul di ruang tamu.


"Apa kabar Pak, Bu?" Tanya Abi Fadlan kepada kedua orang tua Sakha.


"Alhamdulillah, baik. Bapak dan Ibu bagaimana?" Tanya balik Ayah Sakha.


"Alhamdulillah. Nak Sakha, sehat?" Tanya Abi lagi.


"Alhamdulillah, Om." Sakha menjawab seadanya.


"Alhamdulillah kalau begitu," ujar Abi Fadlan.


"Mungkin lebih baik kita mulai saja, Pak. Kedatangan kami kemari tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melamar putri Bapak juga Ibu," ucap Ayah Sakha.

__ADS_1


"Mungkin ada yang ingin di ucapkan oleh Sakha kepada Nak Shara." Ayah Sakha mempersilahkan putranya untuk mengutarakan maksudnya.


Sakha mengangguk, sejenak oa menarik nafasnya dalam sebelum memulai ucapannya.


"Bismillahirrahmanirrohim, *assalamuallaikum.


teruntuk Shara, aku di sini bukan untuk diriku sendiri. Aku memutuskan hal besar ini karena ketakutanku pada Allah. Seraya menjalankan perintahNYA.


Aku hanya ingin menjalankan sunnah sang baginda rasulullah SAW.


Aku berada disini juga untuk dirimu, yang suatu saat nanti akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Allah dan Rasul-Nya.


Aku ingin kau menjadi perhiasan terindah dalam hidupku, yang kelak akan bersama denganku mengarungi jalan menuju surga dan menggapai ridho-Nya.


Izinkan aku memberikan pembuktian atas perasaan yang Allah anugrahkan padaku. Sejak awal bertemu, aku sudah memiliki rasa padamu. Aku menahan diri, bukan karena tidak ingin memilikimu.


Aku hanya ingin menjagamu, sampai tiba waktu halal bagiku untuk menyentuhmu. Dan hari ini, aku ingin menyatakan apa yang selama ini aku pendam.


“Bismillah, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku*.” Sakha berucap dengan penuh keyakinan.


Shara begitu tersentuh dengan ucapan Sakha, matanya kini berkaca-kaca.


"Bagaimana, Ra? Apa kamu bersedia menerima lamaran dari Sakha?" Tanya Abi Fadlan pada putrinya.


Shara mengatur nafasnya yang tak beraturan, "Bismillahirrahmanirrohim, Umi dan Abi yang Shara sayangi, dengan memohon ridha Allah SWT, lalu dengan restu dari Abi juga Umi serta restu keluarga besar… Shara bersedia lahir batin menerima lamaran dari Sakha," ucap Shara.


"Alhamdulillah," ucap Sakha di sertai juga oleh keluarga besarnya.


Selanjutnya Ibu Sakha menyerahkan seserahan pada Umi Shara, di lanjutkan dengan penyematan cincin yang di lakukan juga oleh Ibu Sakha kepada Shara.


Acara berlangsung khidmat, semua orang larut dalam suasana haru juga bahagia ini.


Alhamdulillah, kini Sakha dan Shara telah resmi bertunangan. Langkah selanjutnya adalah penentuan tanggal untuk melangsungkan akad nikah. Dan berkahir dengan kesepakatan bahwa akad akan di langsungkan seminggu setelah acara lamaran ini. Keluarga Sakha juga Shara tidak ingin menunda lebih lama acara pernikahan, karena meminimalisir hal yang tidak di inginkan.


Sakha berniat menghubungi Bima yang berhalangan hadir dalam acara pentingnya, ia ingin berbagi bahagia dengan sahabatnya itu.


"Assalamuallaikum, Bim." Sakha menyapa setelah panggilan telefonnya tersambung.

__ADS_1


"Wa'allaikumussalam, Kha. Bagaimana? Lancar?" Tanya Bima antusias di balik ponsel.


"Alhamdulillah, Bim. Semua berjalan dengan lancar, dan tanggal untuk akad juga sudah di tentukan," jawab Sakha tak kalah antusias.


"Alhamdulillah, kapan itu?" Tanya Bima lagi.


"Seminggu dari sekarang, Bim. Kau harus menemaniku nanti, yah." Sakha sedikit merengek.


"Iya, insyaAllah nanti aku akan menemanimu." Bima merasa lega atas lancarnya acara lamaran sahabatnya itu.


Sakha yang baru menyadari bahwa sudah berdiri Shara di sampingnya sembari membawa secangkir minuman, segera mengakhiri pembicaraannya dengan Bima.


"Maaf, Ara ganggu, yah?" Tanya Shara.


"Tidak, kenapa Ra?" Tanya Sakha.


"Ini, minumlah," pinta Shara sembari menyodorkan minuman yang di bawanya.


"Terima kasih, Ara." Sakha menerima gelas berisi minuman yang di bawa Shara.


"Ra, terima kasih sudah mau menerima lamaran Akha," ucap Sakha tulus.


Shara tersenyum, "sama-sama."


Sekilas Sakha menatap lekat Shara yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Sebentar lagi atas ridho Allah, kau akan menjadi istriku. Aku akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk Ara."


Shara tertunduk malu, ia tak berani menatap Sakha dengan waktu yang lama.


Suasana begitu hangat terasa, dua keluarga besar tengah bersyukur merayakan kebahagiaan yang di limpahkan oleh Allah saat ini.


***


Di luar rumah, tampak Airin yang tengah memperhatikan kehangatan dua keluarga yang kini bersatu. Sesekali ia juga menyeka air matanya, ia benar-benar telah kehilangan Sakha.


Airin berusaha untuk tidak lagi mengharapkan Sakha, namun tetap saja hatinya sakit ketika harus menerima kenyataan pahit seperti saat ini.

__ADS_1


"Kau tampak lebih bahagia di kehidupanmu sekarang, Sakha. Walaupun kebaikan untukku atas perpisahan ini belum juga ku temui, semua berusaha ku syukuri. Ku ucapkan terimakasih pada Tuhan karena pernah menjadikanku bagian penting dalam hidup orang sehebat kamu." Airin menyalakan mesin mobilnya, lalu ia berlalu meninggalkan kediaman Shara, dengan luka yang masih menganga.


__ADS_2