
Hari ini Sakha dan Shara memutuskan untuk membicarakan perihal rencana mereka untuk pindah rumah, Sakha sudah benar-benar yakin dengan keputusannya.
"Dek. ayo kita temui Abi dan Umi," ajak Sakha pada istrinya yang baru saja selesai dengan aktifitasnya.
Shara mengangguk patuh, ia mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Sebenarnya berat untuknya meninggalkan kedua orangtuanya, tetapi ia sadar akan ketaatan seorang istri pada suaminya.
Keduanya kini telah berdiri dihadapan orang tua Shara, dengan perasaan gugup mereka berdua mulai mengutarakan maksudnya.
"Abi, Umi. Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Sakha dengan sopan.
"Apa ini? Duduklah," sahut Abi Fadlan.
Sakha dan Shara kini duduk bersebelahan menghadap kedua orang tua mereka.
"Bicaralah, apa ada yang bisa Abi bantu?" tanya Abi.
"Begini, aku ingin mengajak Shara untuk pindah. Kita ingin belajar mandiri," ungkap Sakha penuh keyakinan.
Kedua orang tua Shara saling bertukar pandang, keputusan anak juga menantunya membuat mereka terkejut.
"Kenapa tiba-tiba, Kha?" tanya Umi Merry.
"Sebetulnya, ini tidak mendadak. Kami sudah membicarakannya sebelumnya," ucap Sakha.
Umi Merry menatap anak perempuannya, ia merasa sedih jika harus berpisah dengan Shara. Namun tak bisa dipungkiri, kewajiban seorang istri adalah harus taat kepada suaminya. Itulah yang harus dilakukan oleh Shara.
*Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan—sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah—, tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya.
Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.” Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW. Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, “Taatilah suami kamu.” Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami*.
Umi Merry termenung, dan seketika kembali tersadar karena tepukan pada pundak yang diberikan oleh suaminya.
"Umi, kenapa melamun?" tanya Abi Fadlan.
Umi Merry tersenyum lirih, ia mengusap matanya yang telah menggenang air bening didalamnya.
"Umi hanya sedih saja jika harus berjauhan dengan Ara," sahut Umi.
Shara tersentuh, ia berjalan setengah membungkuk menuju hadapan Umi-nya.
"Umi, Ara akan sering berkunjung menemui Umi juga Abi. Sakha pasti tidak akan keberatan," ucap Shara sembari melirik ke arah suaminya.
"Benar Umi, kita akan usahakan untuk rutin berkunjung menemui Umi dan Abi. Kita hanya ingin menjalani biduk rumah tangga kami dengan mandiri, merasakan suka dukanya dalam kehidupan pernikahan." Sakha mencoba meyakinkan Ibu mertuanya itu.
"Ya sudah, baiklah. Kapan kalian akan pindah?" tanya Umi.
"Secepatnya, Akha akan cari rumah kontrakan dulu." Sakha menuturkan.
"Biar Umi coba tanyakan pada teman, sepertinya ada yang memiliki rumah sewa yang lumayan bagus," saran Umi Merry.
"Umi, tidak usah. Biarkan mereka berusaha sendiri, kita cukup doakan saja." Abi Fadlan menyarankan.
__ADS_1
"Tapi Abi, apa salahnya jika Umi membantu mencarikan tempat tinggal? Biar Umi tanya teman dan Umi juga bisa bayar uang mukanya," sahut Umi Merry.
"Mi, Abi bilang jangan. Biarkan mereka belajar mandiri," Abi Fadlan kekeh dengan pendiriannya.
"Benar Umi, biarkan itu menjadi tanggung jawab Sakha." Sakha menambahkan.
"Tapi, apa kalian sudah menyiapkan bekal untuk hidup pisah dengan Umi?" tanya Umi Merry.
Sakha sejenak terdiam, "Akha bisa jual mobil untuk modal awal kita," ucapnya.
Shara sedikit terkejut, karena bahwasannya ia baru mendengar jika Sakha berniat menjual mobil hasil usaha suaminya dulu.
"Mas, itukan mobil hasil jeri payah kamu." Shara menuturkan.
Sakha menatap dalam mata istrinya, ia mencoba meyakinkan Shara agar setuju dengan keputusannya.
"Percaya saja pada Mas," ucap Sakha.
Shara mengangguk, matanya tak lepas menatap mata Sakha yang tampak penuh keyakinan.
"Aku serahkan semuanya pada Mas," ucap Shara.
Sakha tersenyum lega, ia bersyukur memiliki istri yang mempercayainya.
"Oh iya, satu hal lagi yang ingin kita beritahukan kepada Umi dan Abi," ungkap Sakha.
"Apa itu, Kha?" tanya Abi.
"Alhamdulillah, Ara kamu hamil?" tanya Umi Merry antusias.
Shara mengangguk sembari tersenyum bahagia, Umi-nya segera berhambur memeluk anak perempuan satu-satunya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Ya Allah selamat, Nak."
Kedua orang tuanya begitu bahagia.
"Kamu sedang hamil muda sekarang, lalu kenapa kalian pindah rumah?" tanya Umi dengan perasaan sedikit kecewa.
"Umi, Ara akan baik-baik saja. Insya Allah, Mas Sakha akan siaga menjaga Ara. Benarkan, Mas?" tanya Shara.
"Benar Umi, Abi. Sakha akan menjadi suami yang sigap menjaga Shara juga calon anak kami," ucap Sakha.
"Emm, baiklah. Umi percayakan Shara dan calon cucu Umi padamu," ujar Umi Merry.
"Terima kasih, Umi, Abi."
Keluarga itu larut dalam kebahagiaan, tampak sempurna jika dalam sebuah keluarga terdapat rasa saling menghormati dalam hal apapun.
***
Hari ini Sakha pergi ke tempat jual beli mobil, ia sudah memutuskan untuk menjual mobilnya. Bukan karena ia tak memiliki tabungan, hanya saja ia benar-benar ingin merintis semuanya dari awal.
__ADS_1
Sakha tampak berjabat tangan dengan seorang yang menerima mobilnya, ia juga tampak menyerahkan surat kelengkapan beserta kunci mobil miliknya.
"Terima kasih, Pak."
Sakha berlalu meninggalkan tempat itu, di ujung jalan Sakha tengah menunggu kendaraan umum untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Bismillah, semoga keberkahan selalu Allah limpahkan kepada keluarga kecilku," ucap Sakha.
Sebuah mobil angkutan umum berhenti, Sakha dengan cepat masuk kedalamnya. Ini bukan pertama kalinya ia menggunakan angkutan umum, semasa kuliah Sakha juga sering menggunakan angkot untuk pergi dan pulang kuliah.
Setibanya di simpangan jalan menuju komplek rumah mertuanya, Sakha mesti harus berjalan kaki untuk sampai pada tujuannya.
Peluh kini tampak pada keningnya, ia mengusap keringatnya menggunakan punggung tangannya.
"Semoga lelahku menjadi berkah," ucapnya dalam hati.
Shara tengah menunggu sang suami di depan gerbang rumahnya, ia merasa khawatir karena Sakha sudah melewati waktu yang ia sebutkan.
Dari kejauhan tampak seorang pria yang sangat dikenalnya, matanya tiba-tiba saja merasa perih. Air bening kini bertumpuk pada pelupuk matanya, ia merasa iba karena sang suami harus berjalan kaki untuk sampai dirumahnya.
Shara berjalan mendekati Sakha yang kini berjarak sekitar lima meter didepannya, ia mendekat dengan perasaan sedih.
"Mas, kamu jalan kaki?" tanya Shara.
"Keringatmu," imbuhnya sembari mengusap pelan kening suaminya.
"Iya, sambil olahraga Dek." Sakha menjawab dengan entengnya.
"Kenapa tidak naik ojeg online?" tanya Shara.
Sakha tersenyum tipis, "aku ingin lebih bersyukur menikmati indahnya nikmat berjalan yang Allah berikan padaku," ucap Sakha.
Shara terenyuh mendengar jawaban sang suami, namun rasa iba nya tak kunjung hilang.
"Dek, berjalanlah di sampingku. Kita rajut kisah kita dari awal, temani Mas berjuang dari bawah hingga mencapai puncak."
Shara meraih tangan suaminya, dengan penuh cinta ia menatap dalam wajah lelaki yang amat dicintainya itu.
"Bawalah aku kemanapun kamu pergi, Mas. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Shara.
"Terima kasih, semoga kamu yang Allah jadikan bidadari untukku di surga nanti," ujar Sakha.
"Aamiin," jawab Shara.
***
Securam apapun jalannya, jangan pernah berpikir untuk menyerah. Karena kamu tidak akan pernah tahu, apa yang menantimu di ujung jalan sana.
Mari berjuang bersama...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1