PRANIKAH

PRANIKAH
Pujian Untuk Istri


__ADS_3

Suasana pagi ini terasa sangat berbeda, kini Shara tengah menjalani aktifitas barunya sebagai seorang istri. Semua keperluan sang suami dengan ikhlas disiapkannya, tak terkecuali pakaian yang akan dikenakan suaminya.


"Selamat pagi, sayang." Sakha menyapa sembari memeluk istrinya dari belakang.


Shara yang sedari tadi tengah merapihkan pakaian Sakha ke dalam lemari, sontak berbalik menghadap suaminya.


"Selamat pagi juga, Mas." Shara membalas sapaan suaminya.


"Kita sarapan sekarang," ajak Shara.


"Ayo." Sakha mengangguk dan kini mereka berjalan menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Umi, Abi," sapa Sakha juga Shara.


"Pagi, Ra, Sakha. Mari kita sarapan bersama," ajak Umi Merry pada anak juga menantunya.


Sakha dan Shara mengangguk patuh, kini mereka semua menikmati sarapan dengan tenang.


***


Untuk beberapa hari kedepan, Sakha memutuskan libur bekerja. Ia ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya, juga lebih mengakrabkan diri dengan mertuanya.


Setiap hari keluarga itu selalu meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama, Sakha juga merasa tidak kesulitan untuk dekat dengan kedua mertuanya.


Satu minggu sudah ia menikmati hangatnya kebersamaan bersama keluarga barunya, kini Sakha kembali pada aktifitasnya. Ia kembali bekerja, mengerjakan kembali pekerjaannya yang tertunda.


Sakha sangat menikmati peran barunya saat ini, ia bekerja dengan semangatnya. Kedua mertua juga istrinya tak keberatan dengan pekerjaan Sakha yang memang menyukai bidang fotografi, studionya juga banyak diminati, mereka menyukai hasil jepretannya.


"Kha, bagaimana kelanjutan soal Shara yang akan membantu Airin?" tanya Bima.


"Oh, soal itu aku belum sempat membicarakannya lagi dengan Shara," jawab Sakha sembari menaruh kamera di atas meja kerjanya.


Bima terdiam, "apa kau akan mengurungkan niatmu?" tanyanya.


"Maksudmu?" tanya Sakha ia merasa bingung dengan pertanyaan Bima.


"Maksudku, apa kau tidak akan mengizinkan istrimu untuk membantu Airin berhijrah?" perjelas Bima.


Sejenak Sakha menghela nafasnya, bukan itu yang ia pikirkan. Namun, ia hanya sedikit cemas dengan situasi antara istri juga mantan pacarnya.


"Bukan seperti itu, Bim. Sepulang dari sini, aku akan kembali bicarakan hal ini pada istriku." Sakha meyakinkan sahabatnya.


"Baiklah, terima kasih." Bima tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Sakha.


***


Sore hari Sakha baru saja pulang bekerja, langkahnya memburu sang istri.


"Assalamuallaikum, dek?" sapa Sakha sembari mengedarkan pandangannya mencari sang istri.


"Wa'allaikumussalam, Mas. Aku di dapur," sahut Shara sambil sedikit menaikkan nadanya.


Sakha berjalan cepat menuju dapur, saat melihat sosok yang dicarinya ia segera berhambur memeluk sang istri.


Shara meraih tangan suaminya, diciumi tangan yang setiap harinya bekerja mencari nafkah untuk dirinya. Sakha membalas dengan mencium kening sang istri, suasana hangat seketika tercipta diantara keduanya.


Wahai istri, bisakah kamu menyambut suamimu sepulang ia bekerja dengan menyenangkannya? Baik itu pada waktu siang, sore bahkan malam hari?


Sungguh, istri yang mampu menyebarkan aroma wangi kasih sayangnya, perhatiannya dan cintanya kepada suaminya adalah gudang emas yang tak ternilai harganya.


"Masih belum selesai masaknya?" tanya Sakha saat melihat kegiatan istrinya di dapur.


"Sudah, kok. Tinggal mencuci bekas memasak saja," jawab Shara.


"Biar Mas saja yang mencuci piringnya," Sakha menggulung lengan bajunya hendak mencuci peralatan dapur yang kotor.


Sakha tersenyum, tak ia menganggukkan kepalanya. Ia pun berlalu meninggalkan istrinya, dan bergegas membersihkan tubuhnya.


Shara melanjutkan kembali pekerjaan dapurnya, dan mempersiapkan makanan untuk suaminya.


Selesai dengan pekerjaannya, Shara bergegas menuju kamarnya menyiapkan pakaian ganti untuk Sakha.


Sakha keluar dari kamar mandi, mendapati sang istri yang tengah menyiapkan pakaiannya. Ia begitu bersyukur dengan nikmat yang telah Allah berikan padanya, sungguh Shara adalah wanita yang begitu diidam-idamkannya.


"Mas, ini pakaiannya. Aku tunggu di bawah, yah." Shara menuturkan.


"Iya," jawab Sakha sambil tersenyum.


Shara membalas senyuman suaminya, lalu ia pergi meninggalkan kamar dan menuju meja makan.


***


Sakha kini tengah menikmati makanan yang disiapkan istrinya, ia menyantap begitu lahapnya.


"Bagaimana Mas? Suka sama masakannya?" tanya Shara.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, enak sekali. Terima kasih," ucap Sakha dengan tulus.


"Benarkah? Mas tidak bohong?" tanya Shara lagi.


"Untuk apa Mas berbohong," sahut Sakha sembari memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah kalau Mas suka," ujar Shara, ia merasa lega.


Moment yang selalu membuat Sakha tidak akan pernah berhenti bersyukur, sebisa mungkin ia akan selalu berusaha untuk menyenangkan hati istrinya.


Salah satu yang dilupakan dalam hubungan suami istri adalah saling memuji satu dan lainnya. Istri lupa memuji suami dan suami lupa memuji istrinya. Karena pujian seperti ini bisa membangkitkan hubungan yang mungkin makin redup.


“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).


Pujian pada istri tanda baiknya seorang suami padanya. Apalagi melihat perjuangan istri di rumah dengan mendidik anak dan mengurus berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan memperhatikan kebutuhan suami.


Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.”


(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)


***


Malam hari selesai menunaikan ibadah shalat isya, Sakha tengah membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Dek, kamu ingat permintaan Bima tentang Airin?" tanya Sakha dengan hati-hati.


Shara yang sedari tadi tengah mengelus rambut suaminya, sontak menghentikan kegiatannya.


"Emm, memangnya jadi?" tanya Shara.


Sakha mengangguk, ia memandangi wajah istrinya.


"Bagaimana?" tanya Sakha.


"Boleh, tapi aku juga tidak pandai soal itu Mas. Tapi kalau hanya untuk mengajak dalam kebaikan, in syaa Allah aku akan membantu sebisaku," jawab Shara.


"Kamu ikhlas, dek?" tanya Sakha memastikan.


Shara mengangguk, "in syaa Allah."


"Ya sudah, nanti Mas bicarakan pada Bima," ujar Sakha.


Shara tersenyum, dalam hatinya ia masih merasa khawatir.

__ADS_1


"Ya Allah, jika Engkau meridhoi lancarkan niat baik Airin untuk berhijrah. Tetapkan niatnya hanya untuk memperbaiki dirinya, dan lindungi keluarga dari hal yang tidak baik." Shara dalam batinnya.


__ADS_2