PRANIKAH

PRANIKAH
Prasangka


__ADS_3

Bima mengantarkan Airin untuk pulang, dengan terpaksa wanita itu mengikuti keinginan Bima.


Bima melirik sekilas ke arah Airin, dengan rasa tidak suka Bima melemparkan sebuah jaket pada Airin.


"Tutup tubuhmu dengan jaket itu!" bentak Bima.


Airin menatap tajam kearah Bima, ia meraih jaket itu dengan kasar.


"Harusnya kau tidak ikut campur dengan urusanku!" bentak Airin.


Bima mendengus kesal, sungguh Airin kini jauh berbeda dengan Airin yang dulu.


"Aku benar-benar tidak habis pikir kau akan berbuat serendah ini," ucap Bima.


"Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu," sahut Airin sembari memalingkan wajahnya keluar jendela mobil.


Bima menghentikan laju mobilnya, membuat Airin terheran.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin.


Bima menatap tajam pada Airin, ia sekuat tenaga untuk tidak berkata kasar pada Airin.


"Rin, apa kau sadar dengan semua yang kau lakukan? Apa kau tidak malu dengan hakikat sebagai perempuan?" tanya Bima dengan penuh penekanan.


"Aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, apa aku salah? Apa aku salah ingin kembali mengambil kebahagiaanku, Bima?" tanya Airin dengan terisak.


Bima mengusap wajahnya kasar, ia harus mencari cara untuk bisa mengingatkan Airin dengan cara yang tepat.


"Rin, apa kamu tidak percaya pada Allah? Apa kau meragukan kehendak-Nya?" tanya Bima, namun Airin tak menggubris pertanyaan Bima.


"Allah tahu apa yang terbaik untukmu! Jika hari ini kau kehilangan harapanmu, Allah akan memberitahumu bahwa rencana-Nya lebih indah dari mimpimu. Apa kau yakin akan bahagia dengan cara merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain? Apa yang kau rasakan jika hal itu terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Bima.


"Jika Shara tidak hadir di antara aku dan Sakha, mungkin semuanya masih baik-baik saja! Aku tidak akan menjadi wanita sekejam ini," ucap Airin sembari menangis.


"Shara hadir karena Allah, mereka di pertemukan hingga akhirnya menikah semua itu atas izin Allah. Kau juga akan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, akan ada seseorang yang jauh lebih mencintaimu dari Sakha." Bima masih berusaha menyadarkan Airin.


"Siapa? Siapa yang akan mencintaiku lebih dari pada saat aku bersama Sakha? Siapa, hah? Kau?" tanya Airin dengan sedikit membentak.


Bima tertegun, ia seakan menghindari pertanyaan yang dilontarkan oleh Airin.


"Kenapa kau tidak menjawab, hah?" tanya Airin lagi.


"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat saat ini. Aku akan mengantarmu pulang, kau butuh istirahat."


Bima kembali melajukan mobilnya, pertanyaan Airin masih terngiang didalam benaknya.

__ADS_1


***


*Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Hingga menjelang shubuh ia tidak menjumpai suaminya tersebut tidur di sebelahnya.


Dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah sedang tidur di depan pintu.


"Mengapa Nabi tidur di sini?"


"Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu," jawab Nabi.


Tidak aneh, setiap Aisyah ditanya soal kepribadian Nabi, ia selalu menjawab tegas,ย kana khuluquhu al-qur'an. Akhlaknya tak ubahnya Alquran.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน*


Shara terbangun dari tidurnya, ia kaget karena tertidur ketika menunggu kepulangan Sakha.


Shara segera berdiri, jam menunjukkan pukul empat pagi.


Shara berniat untuk keluar dari kamarnya, namun matanya begitu terkejut ketika pintu kamar terbuka.


Shara melangkah mundur, ketika tubuh Sakha terjatuh karena pintu yang disandari oleh Sakha terbuka.


"Astagfirulloh, Mas."


"Kenapa buka pintu mendadak, Dek?" Ringis Sakha sembari tertawa kecil.


"Aku tidak tahu kalau ada Mas di depan pintu, lagi pula kenapa kamu malah tidur disini?" tanya Shara.


"Maaf Mas pulang lewat larut malam, Mas tidak mau mengganggu tidurmu." Sakha dengan perasaan bersalahnya.


"MasyaAllah Mas, semalaman juga aku menunggumu." Shara memperhatikan suaminya yang terlihat sangat lelah.


"Kita masuk dulu," ajak Shara pada Sakha.


Sakha mengangguk dan mengikuti istrinya.


"Mau aku buatkan air hangat?" tanya Shara.


"Boleh, Dek." Sakha menjawab dengan letih.


"Tunggu sebentar, aku buatkan dulu." Shara berlalu meninggalkan Sakha, dan berjalan tergesa menuju dapur.


"Hati-hati, Dek. Tidak usah terburu-buru jalannya," ucap Sakha.


Sakha merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur, tulang-tulangnya terasa remuk.

__ADS_1


Sakha mengatur nafasnya, ia juga memejamkan matanya untuk mendapat ketenangan.


Tiba-tiba Sakha kembali teringat kejadian yang menimpanya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan Airin terhadapnya.


Sakha bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Ia berniat untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke mesjid, namun ia lupa mengeluarkan ponsel di dalam sakunya.


Di dalam kamar mandi Sakha mendapat panggilan dari Bima, ia juga teringat bahwa belum sempat menanyakan kejadian semalam pada Bima.


"Assalamuallaikum, Bim." Sakha menyapa.


"Wa'allaikumsalam, Kha." Bima menyaut.


"Bim maaf aku belum sempat menanyakan kabarmu, aku benar-benar lelah semalam," ucap Sakha dengan nada bersalah.


"Tidak apa, semua baik-baik saja?" tanya Bima.


Sakha menghela nafasnya, ia benar-benar tidak tahu akan seperti apa jika Bima tak muncul saat itu.


"Aku tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu, Bim. Ini sudah diluar batas wajar," ujar Sakha.


"Ya aku paham, Airin kali ini benar-benar keterlaluan."


Dari luar Shara tengah berjalan kembali ke kamarnya, ia tak mendapati suaminya ketika sudah berada di dalam kamar.


"Mas Sakha kemana?" gumam Sakha.


Shara menaruh gelas berisi teh hangat untuk Sakha di atas nakas, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencaritahu keberadaan suaminya.


Ketika hendak mengetuk pintu kamar mandi, tanpa sengaja Shara mendengar perbincangan Sakha di dalam sana.


"Mas Sakha sedang menerima telepon dari siapa? Kenapa harus di dalam kamar mandi?" Shara mulai bertanya-tanya.


Shara dengan gugup mendekatkan telinganya pada pintu, dan mendengar sayup-sayup apa yang tengah di bicarakan oleh suaminya.


"Kau benar semalam Airin benar-benar sudah gila," sahut Sakha.


Shara terkejut, dengan refleks tangannya menutup mulutnya. Air matanya tiba-tiba saja menetes, Shara berjalan mundur menjauh dari pintu kamar mandi.


"Apa yang di lakukan Mas Sakha dengan Airin semalam? Apa maksud semua ini?"


Shara kini tengah berpikir yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.


"Mas, kenapa? Kenapa kau tega padaku," Shara berlari keluar dari kamar, saat ini ia bahkan tak sanggup jika harus bertatap muka dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2