PRANIKAH

PRANIKAH
Malam Yang Terasa Panjang


__ADS_3

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” 


(HR Muslim IV/2167 no 2813)


***


Sakha benar-benar geram, hampir saja ia tak bisa menahan emosinya. Kelakuan Airin hari ini tidak pernah terpikir olehnya, Sakha benar-benar tak mengenalinya sikapnya sama sekali.


"Airin berhenti, apa-apaan kau ini?" bentak Sakha.


Dari kejauhan datang beberapa orang yang mendengar teriakan Airin, mereka berniat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Tolong, aku mohon siapapun..."


Airin semakin menjadi.


"Mbak, Mas, ada apa ini?" tanya seorang petugas keamanan yang tengah berjaga di sekitar area itu.


Dengan wajah memelas, Airin terisak dan memulai rencananya.


"Pak tolong saya, pria ini sudah berbuat tidak baik padaku."


Sakha begitu terkejut, tanpa sadar ia mengepalkan tangannya.


"Cukup Airin, kau keterlaluan. Pak dia berbohong," ujar Sakha.


"Mas apa yang sudah kau lakukan? Kenapa wanita ini terlihat tidak berdaya?" tanya seorang warga lainnya.


"Saya tidak berbuat apa-apa, Mas, Pak." Sakha berusaha menjelaskan.


"Bohong, dia berbohong. Tolong aku Pak," Airin semakin menampakkan wajah tak berdaya.


"Mas mari ikut kami, kau harus menjelaskan semuanya di kantor polisi."


Usul salah satu warga.


"Tunggu, Mas, Pak, demi Allah saya tidak berbuat apa-apa. Begini saya melihatnya tengah berjalan sempoyongan dan dia terjatuh, saya hanya berniat menolongnya." Sakha terus meyakinkan.


"Airin kau sangat keterlaluan, tega sekali kau berbuat seperti ini." Sakha berucap dalam batinnya.


Dari kejauhan cahaya menyorot tepat pada kerumunan di depannya, karena kerumunan itu menghalangi jalan pemilik mobil itu berniat untuk turun dan melihatnya.


Seorang itu berjalan mendekati kerumunan, beberapa orang juga memberikan jalan untuk seorang tersebut.

__ADS_1


"Permisi, Mas ini ada apa?" tanya Bima.


Matanya begitu terkejut ketika melihat dua orang yang tengah menjadi tontonan orang-orang itu, "Sakha, Airin."


"Mas, kenal sama mereka?" tanya petugas keamanan pada Bima.


"Iya Pak, ada apa sebenarnya?" tanya Bima sembari melirik pada Sakha dan Airin.


"Begini Mas, wanita ini mengaku telah di lecehkan oleh pria ini." Petugas keamanan itu menerangkan.


Bima begitu terkejut, ia merasa ada sesuatu hal yang tidak beres.


"Sial, kenapa Bima harus muncul?" umpat Airin dalam hatinya.


"Ah Pak, Mas, sepertinya kalian salah paham. Saya yakin pria ini tidak berbuat seperti yang di tuduhkan perempuan ini. Lagi pula dia ini... istri saya." Bima mencoba mengalihkan.


Sakha dan Airin menatap ke arah Bima, Sakha berharap Bima bisa membantunya keluar dari situasi ini.


"Dia istri anda?" tanya petugas keamanan.


"Iya."


"Bukan."


Airin dan Bima menjawab bersamaan, membuat orang kebingungan.


Bima sedikit menjauh dari kerumahan, dan mulai berdiskusi.


"Begini, Pak. Pria itu sebenarnya teman saya, dan istriku tengah mengalami depresi akibat kehilangan buah hati kami."


Bima memasang wajah semeyakinkan mungkin.


Petugas keamanan itu mengangguk, perkataan Bima begitu mudah membuatnya mengerti.


"Baiklah kalau begitu, saya turut prihatin atas apa yang menimpa istri anda."


Bima mengangguk sedih, dalam hatinya ia merasa lega karena telah berhasil meyakinkan semua orang.


Bima berjalan kembali mendekati kerumunan, ia langsung membantu Airin berdiri dan sedikit menyeretnya menuju mobil.


Sakha tak berkata apapun, namun lirikan dari Bima menandakan semua masalah telah di selesaikan.


"Mas, maaf untuk ketidaknyamanan ini. Mas bisa kembali melanjutkan perjalanan," ujar Petugas keamanan itu.

__ADS_1


Sakha mengangguk lesu, ia berjalan menuju motornya.


Sebelumnya Sakha melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia segera pergi menuju rumahnya.


***


Sudah beberapa kali Shara melirik ke arah jam dinding, jam menunjukkan pukul 2 malam namun Sakha belum juga pulang.


Shara sangat cemas, ia berusaha berpikiran baik tentang suaminya itu.


"Ya Allah, lindungi dimana pun suami hamba berada."


Shara tak henti melihat dari balik jendela kamarnya, berharap Sakha segera datang.


Mengingat sikap Airin yang berubah drastis, membuat Shara sedikit terganggu.


Teringat ketika pertama kali bertemu dengan Sakha, ia tak pernah menyangka akan berlanjut seperti sekarang ini.


"Aku tidak bermaksud merebut Sakha dari Airin, perasaan itu muncul begitu saja. Allah pun memberi jalan untuk kita berdua, apa disini aku yang bersalah?"


Shara bertanya-tanya dalam benaknya, ia merasa bersalah pada Airin.


"Perubahan sikapnya di dasari karena kejadian itu, apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan Airin lagi?" gumam Shara.


Sakha baru saja sampai, ia sengaja mematikan mesin motornya ketika hendak masuk ke pekarangan rumah.


Mereka memegang kunci rumah masing-masing, membuat Sakha tak perlu mengganggu istirahat istrinya untuk membukakan pintu.


Perlahan Sakha berjalan menuju kamarnya, ia berjalan dengan sangat hati-hati. Sakha tidak ingin mengganggu tidur istrinya, ia bahkan tak tega jika harus mengetuk pintu kamar dan membangunkan Shara.


Sakha menurunkan badannya, menyenderkan punggungnya pada pintu.


"Dek, maafkan Mas. Tidak seharusnya Mas membiarkanmu sendirian," ucap Sakha dalam hati.


Sakha menyandarkan kepalanya, ia merasa lelah dan tanpa di sadari matanya pun terpejam.


Hal yang sama terjadi di dalam kamar, Shara merasa kantuknya hilang. Shara berjalan menuju pintu kamar, ia hendak keluar dan menunggu suaminya di ruang tengah.


Niat Shara di urungkan ketika merasa takut untuk berada di luar kamar sendirian.


Perasaannya kalut, pikirannya berkecamuk.


Shara menjatuhkan tubuhnya dan bersandar pada pintu kamarnya.

__ADS_1


"Dimana kamu, Mas?"


Shara menundukkan kepalanya, dan menekukkan kedua lututnya.


__ADS_2