PRANIKAH

PRANIKAH
Tunggu Aku


__ADS_3

Carilah pria yang lisannya baik, ketika dia marah dia tidak akan pernah memakimu.


Carilah pria yang baik prilakunya, karena ketika dia marah dia tidak akan memukulmu.


Seperti itulah kira-kira menantu idaman para ayah.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Di ruang tamu, tersisa orang tua Shara dan Adam. Mereka tengah menyeselaikan apa yang menjadi masalah untuk Adam.


"Nak Adam, saya memang pernah mempercayakan putri saya untuk Nak Adam jaga. Karena saya pikir, anak dari sahabat karib saya mungkin pemuda yang baik untuk Shara. Tapi mungkin Nak Adam sudah melewati batas wajar, mungkin juga Nak Adam lupa kalau putri saya juga seorang manusia." Abi Shara menuturkan dengan luwes juga tegas.


"Shara merasa terkekang dengan sikap Nak Adam, dia bahkan tidak memiliki ruang untuk dirinya sendiri." Abi Shara menambahkan.


"Adam hanya ingin yang terbaik untuk Shara, Om. Adam tidak mau Shara salah dalam bergaul," bela Adam.


"Kalau memang begitu, halalkan saja putri saya. Dengan begitu Nak Adam bisa memiliki hak penuh atas putri saya," jawab Abi Shara.


Adam terdiam mendengar pernyataan ayah Shara, entah alasan apa yang membuat Adam belum mau menghalalkan Shara.


"Kenapa diam?" Tanya Umi Merry pada Adam.


"A-aku, ingin menghalalkan Shara. Tapi tidak sekarang," jawab Adam terbata-bata.


Orang tua Shara sejenak memperhatikan gelagat Adam, entah apa yang membuat pemuda itu tak kunjung menghalalkan putri mereka jika memang dia memiliki keinginan.


"Jadi hak kami juga untuk menerima khitbahan pemuda lain, karena memang Shara tidak terikat dengan siapapun." Abi Shara menegaskan perkataannya.


"Tapi saya mencintai Shara, Om, Tan." Adam kembali berdalih.


"Cinta itu harus di buktikan dengan tindakan, bukan hanya ucapan!" Seru Abi Shara lagi.


Umi Merry yang sudah merasakan suasana semakin panas antara suaminya dengan Adam, berniat untuk mengakhiri perbincangan diantara mereka.


"Nak Adam, sebaiknya kamu pulang. Biarkan kami istirahat, dan sepertinya Nak Adam juga mesti memikirkan kembali bagaimana sikap Nak Adam terhadap putri kami," ucap Umi Merry.


Adam menghela nafasnya kasar, ia juga beranjak dari tempatnya.


"Ya sudah, saya permisi," ucap Adam sembari berlalu meninggalkan kediaman Shara tanpa mengucap salam.


"Wa'allaikumussalam. Benar-benar tidak punya sopan santun! Astagfirulloh," ucap Abi Shara sembari mengusap kasar wajahnya.


Umi Merry mencoba untuk menenagkan suaminya, "sabar, Bi."


"Sepertinya dia bukan lelaki yang tepat untuk Shara, Mi." Abi Shara menyesali keputusannya untuk meng-amanahkan putrinya kepada pemuda yang tidak tahu sopan santun terhadap orang tua.


"Setidaknya sekarang Allah sudah menunjukkan siapa dia sebenarnya, Bi. Berprasangka baik saja pada Allah," ujar Umi Merry.


"Kita temui saja Shara, yuk." Umi Merry beranjak dari tempatnya hendak menuju kamar putrinya.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, Shara masih termenung. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan terus mengucap istigfar.


Terdengar ketukan dari luar kamarnya, Shara beranjak dan membuka pintu kamarnya.


"Abi, Umi. masuklah," ucap Shara.


Shara menbawa orang tuanya menuju sofa panjang yang ada di kamarnya.


"Ra, kau baik-baik saja?" Tanya Umi lembut.


Shara berusaha tersenyum, walaupun tak bisa ia pungkiri saat ini hatinya begitu sakit.


"Insya Allah, aku baik-baik saja, Umi." Shara mencoba meyakinkan orang tuanya.


"Kemarilah," rentangan tangan sang ibu, tidak dapat di tolak oleh Shara. Dengan cepat ia berhambur kedalam dekapan Umi-nya.


"Sabar, sayang. Ini hanya ujian kecil untuk kita," ujar Umi Merry.


"Abi sudah berbicara dengan Adam, dan mulai sekarang sebaiknya kamu tidak usah menghubunginya lagi," pinta Abi.


Shara menatap Abi-nya dengan tersenyum, ia benar-benar bisa terbebas dari kekangan Adam saat ini.


"Terima kasih, Abi." Shara beralih memeluk sang ayah.


"Maaf. Maaf jika pilihan Abi malah membuatmu susah," ucap Abinya tulus.


"Oh iya, apa Sakha mengabarimu?" Tanya Umi Merry.


Shara menggelengkan kepalanya, "belum, dan aku tidak tahu apa yang di pikirkan oleh orang tua Sakha saat ini tentangku," ucap Shara.


"Serahkan semuanya pada Allah, minta yang terbaik." Umi Merry menyarankan.


Shara mengangguk patuh, memang hanya dengan memasrahkan segalanya pada Allah lah yang mampu membuatnya tenang.


Memanglah sulit untuk menjalani sebuah masalah, apalagi untuk sebuah masalah yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita cintai. Akan tetapi setiap masalah dan musibah yang hadir dalam kehidupan kita adalah cara Allah untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik.


***


Keluarga Sakha baru saja tiba di kediaman mereka, selama perjalanan Sakha merasa tidak tenang.


Dan saat turun dari mobil pun, Ayah Sakha tak berkata sepatah kata pun.


"Ayah," panggil Sakha dengan sopan.


"Kenapa?" Tanya Ayahnya dengan datar.


"Apa Ayah akan benar-benar membatalkan lamaranku pada Shara?" Tanya Sakha dengan hati-hati.

__ADS_1


Sejenak ayah Sakha terdiam, ia mendudukkan tubuhnya di sofa untuk melepas penat.


"Kemarilah," pinta Ayah Sakha.


Sakha berjalan mendekati ayahnya, dan ikut duduk dia sebelahnya.


"Kau tahu siapa pemuda tadi?" Tanya ayah Sakha.


"Shara pernah menceritakan tentang pemuda itu padaku, dia hanya pria yang di tunjuk ayahnya untuk menjaga Shara." Sakha menjelaskan apa adanya.


"Apa kau benar-benar ingin bersama dengan Shara?" Tanya Ayah Sakha lagi.


Sakha mengangguk penuh kesungguhan, ia benar-benar tidak ingin terpisah lagi dengan Shara.


Ayah Sakha menghela nafasnya, tak lama beliau kembali menatap lekat anaknya itu.


"Perjuangkanlah dia!" pinta sang Ayah sembari menepuk bahu Sakha.


Sakha begitu bahagia, senyumnya melebar.


"Terima kasih, Yah." Sakha mencium tangan ayahnya berkali-kali.


Sakha lalu pamit untuk masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Sakha langsung mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Shara.


Ia mengetik sebuah pesan pada Shara.


"*Assalamuallaikum, Ara. Aku ingin memberitahu bahwa Ayah merestui kita, dan secepatnya kami akan kembali menemuimu. Semoga Allah juga meridhai kita, tunggu aku."


Send*...


***


Shara mendengar bunyi pesan masuk pada ponselnya, ia segera membuka pesan itu.


Alangkah senangnya ia ketika membaca isi pesan yang di kirim Sakha, ia berkali-kali berucap syukur.


"Alhamdulillah, ya Allah."


Shara berniat untuk membalas pesan dari Sakha, ia amat sangat bahagia saat ini.


"Wa'allaikumussalam. Barakallah, alhamdulillah kalau memang seperti itu. Aku akan menunggumu," balas Shara.


Shara berlari keluar kamar, hendak memberi kabar baik ini kepada orang tuanya. Matanya berbinar-binar, saking senangnya.


***


Allah tiupkan kekuatan melalui ujian-ujian yang datang kepadamu, Allah tangguhkan sesuatu untuk mengajarkan kita arti sabar,  Allah ambil sesuatu untuk mendidik kita agar ridha. Berprasangka baiklah pada Allah, agar hatimu tenang.

__ADS_1


Jangan berhenti berharap, karena Allah lebih tahu saat yang tepat untuk mengabulkan permintaan kita.


__ADS_2