
*Jadilah seperti berlian, yang berkilau dalam diamnya. Tunjukkan bahwa kita memiliki nilai yang berkualitas, yang pada akhirnya kita mampu memancarkan sinar terindah.
Melihat perkembangan zaman yang semakin maju, di era milenial ini para wanita seakan berlomba merombak penampilannya. Bahkan saking sibuk agar bisa mendapat "pengakuan", mereka sampai lupa untuk "menghargai" dirinya.
Tidak sedikit yang rela mengobral tubuhnya hanya demi menarik kata "cantik" agar melekat padanya.
Apa yang sebenarnya kita tuju? Kebahagiaan karena mendapat "penghargaan" dari orang lain?
Kalau kehormatan menjadi pakaianmu, maka ia akan tahan seumur hidup, tetapi kalau pakaianmu itu menjadi kehormatanmu maka ia akan robek dengan cepat. Hargailah setiap apa yang ada pada dirimu, jangan biarkan menjadi tontonan khalayak ramai.
Jangan jadikan dirimu layaknya rembulan, yang semua orang bisa memandangmu tanpa tertutup apapun. Wanita seharusnya seperti matahari, yang membuat mata orang-orang tertunduk sebelum melihatnya.
โWanita yang baik untuk lelaki yang baik. Dan lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula).โ - Surat An Nur 26
Zaman sekarang, banyak para muda mudi menginginkan pasangan sesuai kriteria yang mereka tentukan. Namun tak banyak yang bisa mengintropeksikan dirinya, mereka ingin memiliki pasangan terbaik, tetapi tidak berusaha untuk merubah diri mereka menjadi lebih baik.
Mulai sekarang, cobalah untuk membenahi diri, hargai lah setiap apa yang telah tetapkan untuk kita. Bercerminlah pada diri sendiri, jangan bercermin pada diri orang lain*.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Sakha dan Shara melanjutkan kembali niatnya berkeliling Alun-Alun Kota, setelah mengganjal perut mereka dengan cilok. Seperti biasa, Sakha selalu berjalan di depan Shara dengan jarak satu meter.
Walaupun bukan hari libur, tapi ramai orang-orang yang berkunjung kesana. Langkah Shara juga sesekali terhenti karena banyak dari pengunjung yang sekedar berswafoto di sepanjang jalanan masjid menuju Jl. Asia Afrika.
Tanpa sengaja seseorang menabrak tubuh Shara, membuatnya sedikit terhuyung.
"Eh, ma-maaf, Teh." Seseorang itu berlalu begitu saja setelah mengucap maaf pada Shara.
Shara menghela nafasnya, ia melanjutkan kembali langkahnya yang lumayan tertinggal jauh dari Shaka.
"Ish, Akha kemana sih?" gerutu Shara sembari mengedarkan pandangannya mencari Sakha.
Shara menoleh pada sebuah kursi yang terletak di pinggir trotoar, ia berjalan mendekat dan mendudukkan tubuhnya.
"Pegal sekali kakiku," gumam Shara.
"Teh, sendiri aja?" sapa salah satu dari tiga pemuda yang kini berdiri di dekat Shara.
Shara menundukkan wajah, ia menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada punggung kursi.
"Iya," jawab Shara singkat.
"Kaya yang takut gitu, Teh? Kita mah baik da," sahut pemuda lain.
Shara merasa risih, ia hendak beranjak dari tempatnya. Namun, salah satu dari pemuda itu menghadang dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kemana atuh? Disini aja bareng kita!" seru pemuda itu.
Shara gemetar, ia benar-benar takut pada ketiga pemuda itu yang seakan ingin mengganggunya.
"Permisi," ucap Shara, namun tak di gubris oleh mereka.
"Kamana atuh buru-buru banget, Teh?" tanya salah satu pemuda bahkan kini berani mencekal lengan Shara.
"Jangan sentuh saya!" bentak Shara sembari menepis tangan pemuda itu.
"Wih, meni galak si Teteh." ketiga pemuda itu tertawa menyaksikan ketakutan yang di tunjukkan Shara.
"Astagfirulloh, ya Allah tolong Ara. Shaka kamu dimana sih?" ucap Shara dalam hatinya, ia benar-benar ketakutan sekarang dan entah kenapa selain meminta pertolongan Allah, Shara justru teringat pada Shaka dan berharap ia datang menolongnya.
__ADS_1
Di dalam ketakutannya, tak lama ia terkesiap dengan suara seseorang yang sangat tak asing di telinganya.
"Punten, Kang. Kenapa mengerubungi istri saya?" tanya Sakha pada ketiga pemuda itu dengan nada yang ia paksa untuk terdengar sopan.
Ketiga pemuda itu menatap Sakha, tanpa berkata apapun mereka berlalu meninggalkan tempat itu.
Shara mengelus dadanya, ia kini menjatuhkan tubuhnya pada kursi.
"Alhamdulillah," ucapnya.
Sakha menatap wajah Shara yang kini terlihat jelas ketakutan, ia merasa bersalah telah berjalan meninggalkan Shara di belakangnya.
Sakha berjongkok tepat di hadapan Shara, ia menyodorkan sebotol air mineral pada Shara.
"Minum dulu," pintanya lembut.
Shara mengangguk, dan meraih botol minuman itu dari tangan Sakha.
"Bismillah," ucapnya sebelum meminum air itu.
"Maaf," ucap Sakha dengan nada bersalah.
Shara menatap pria yang kini berjongkok di depannya, ia menutup botol minuman dan menaruh disampingnya.
"Maaf kenapa?" tanyanya.
"Kalau saja Akha gak berjalan terlalu cepat, mungkin Ara gak bakalan ngalamin hal kaya gini," tutur Sakha.
Shara tersenyum kecil, entah kenapa setiap apa yang di ucapkan Sakha selalu membuatnya tersenyum.
"Ini bukan salah Akha, Ara-nya saja yang jalannya lelet."
"Sudah jangan seperti itu, berdiri Akha!" seru Shara.
Sakha mengangguk patuh, ia berdiri dan berpindah posisi menjadi di samping Shara.
"Ara mau jajan lagi?" tanya Sakha polos.
Shara terkekeh, ia benar-benar sangat menyukai sikap polos yang selalu di tunjukkan Sakha.
"Jajan apa lagi, Akha?" tanya Shara sembari menahan senyum
Sakha sejenak berpikir, mengingat makanan apa saja yang memang terkenal khas di Bandung.
"Batagor Kingsley, mau?" tanya Sakha.
"Mau," jawab Shara antusias.
Sakha tertawa kecil melihat tingkah Shara yang menurutnya menggemaskan, dan entah keberapa kalinya Sakha lagi-lagi terpesona pada Shara.
"Yasudah, ayo!" ajak Sakha dan di angguki cepat oleh Shara.
"Pegang tali tas Akha, biar Ara ga ketinggalan lagi!" seru Sakha dengan nada sedikit meledek.
Sakha tertawa, namun ia tetap menuruti perintah Sakha. Tangannya meraih tali tas gendong Sakha, kini mereka terlihat seperti orang yang tak sedang menjaga jarak.
***
Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera masuk dan memesan menu yang ada disana.
__ADS_1
"Mau apa? Batagor, atau somay?" tanya Sakha sembari memperhatikan menu disana.
"Umm, duh Ara pengen coba dua-duanya," jawab Shara terkekeh.
"Ok!" seru Sakha.
"A', somay sama batagornya satu yah," pinta Sakha pada pelayan disana.
"Duduk disana, Ra." Sakha berjalan menuju tempat yang sempat ia tunjuk dan di ikuti oleh Shara.
"Akha pesan dua-duanya?" tanya Shara sembari mendudukan tubuhnya di kursi.
"Iya, kita makannya barengan aja biar bisa coba dua-duanya," jawab Sakha sembari menyelipkan senyumnya.
Shara mengangguk paham, sekilas ia menatap Sakha yang tengah memainkan ponselnya.
"Jangan liatin Akha, nanti naksir loh!" seru Sakha seakan ia tahu bahwa Shara tengah memperhatikannya.
Shara terkesiap, ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Wajahnya seketika berubah menyerupai kepiting rebus, dan terlihat jelas oleh Sakha.
"Ara cantik kalau malu," imbuh Sakha.
Shara terdiam, jantungnya kini seakan terlepas dari tempatnya. Ia mencoba untuk setenang mungkin, walaupun dalam hatinya ia benar-benar merasa gugup.
"Ini pesanannya, A'."
Sakha mengalihkan pandangannya saat pelayan menaruh semangkuk somay dan batagor di depannya.
"Terima kasih."
Pelayan itu mengangguk, dan berlalu meninggalkan mereka.
"Makan, Ra. Udah dulu malunya!" seru Sakha.
Shara berdecak, ia benar-benar malu dibuatnya.
"Bismillah dulu," imbuh Sakha.
Mereka kini menyantap somay dan batagor yang memang sangat lezat.
"Enak banget," ucap Shara.
"Aaaa..." Sakha menyodorkan satu sendok somay pada Shara.
Sejenak Shara terdiam, namun lagi-lagi organ tubuhnya tak dapat menolak. Ia membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Sakha.
"Enak juga kan?" tanya Sakha.
Shara mengangguk, lidahnya bergoyang lincah menikmati rasa yang di timbulkan oleh somay itu.
"Minum nih," Sakha menyodorkan sebotol air mineral.
"Minumnya air putih aja yah, biar sehat!" imbunya.
"Iya,"
Shara merasa diperlakukan sangat baik oleh Sakha, membuat hatinya berdebar seketika.
"Perasaan apa ini? Kenapa selalu gugup seperti ini kalau di dekat Sakha. Ya Allah, Engkau maha membolak balikkan hati, jangan Engkau hadirkan perasaan yang memang tak sepantasnya aku rasakan." Shara berdoa dalam hatinya.
__ADS_1