
Berubahlah karena keinginan sendiri, jangan berubah karena permintaan orang. Jangan pernah berubah demi orang yang kamu cintai, berubahlah karena dirimu sendiri.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sakha baru saja tiba di rumahnya, ia segera masuk dan mencari istrinya.
Keadaan rumah yang sepi, membuatnya bergegas naik untuk mencari keberadaan istrinya.
Sakha membuka pintu kamar, dilihatnya beberapa barang yang telah tersusun rapih di dalam wadah.
"Shara membereskan ini semua?" gumamnya dalam hati.
"Dek, kamu di dalam?" teriak Sakha sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban, membuat Sakha menjadi cemas.
Ia keluar dari kamar, ia merasa khawatir terjadi sesuatu pada Shara.
"Shara? Dek, kamu dimana?" teriak Sakha.
Sakha semakin khawatir, ia berlari mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Sakha berusaha menghubungi istrinya, namun telinganya kini mendengar dering ponsel yang berasal dari dalam kamar.
"Astagfirulloh, Shara meninggalkan ponselnya."
Sakha kini berlari keluar rumah, ia hendak menanyakan pada tetangga.
Langkahnya hampir di ujung pintu, tetapi sosok yang datang dari arah luar rumah membuatnya berhenti seketika.
"Alhamdulillah, kamu dari mana?" tanya Sakha pada Shara yang baru saja datang dengan membawa sekantung keresek belanjaan.
Shara terheran dengan sikap suaminya, ia dengan polosnya mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Sakha.
"Assalamuallaikum, Mas. Sudah pulang dari tadi?" tanya Shara.
"Wa'allaikumussalam, lumayan. Kamu dari mana? Mas nyari-nyari kamu dari tadi," ujar Sakha.
"Aku dari toko deket rumah, maaf sudah membuatmu khawatir." Shara memasang raut wajah bersalah.
Sakha mengelus pelan puncak kepala istrinya, ia merasa lega karena tidak terjadi hal buruk pada Shara.
"Lain kali, bilang dulu. Biar Mas tidak kelimpungan nyari kamu," pinta Sakha.
"Iya, Mas. Maaf," ucap Shara dengan tulus.
"Ya sudah, kita masuk. Kamu beli apa?" tanya Sakha.
"Cuma beli cemilan, dede di perut pengen ngemil terus Mas." Shara merengek.
Sakha tersenyum, lalu ia mengelus lembut perut istrinya.
__ADS_1
"Nak, baik-baik kamu di dalam perut yah."
"Dek, kamu membereskan barang-barang di kamar?" tanya Sakha.
"Sedikit, Mas." Shara menjawab dengan hati-hati.
Sakha menghela nafasnya, istrinya memang tidak pernah mau berdiam diri.
"Itu banyak, Dek. Lain kali jangan lakukan hal yang terlalu banyak," pinta Sakha.
"Iya, Mas."
"Oh iya, Umi sama Abi kemana?" tanya Sakha.
"Ada urusan katanya, kenapa?" tanya balik Shara.
"Oh, tidak apa-apa. Mas mau mandi, setelah itu kita siap-siap untuk pindahan."
"Iya, aku akan siapkan makanan untuk Mas," jawab Shara.
Keduanya pun kini tengah mengerjakan pekerjaan masing-masing, Shara juga bergegas menyiapkan makanan untuk suaminya.
***
Sakha telah selesai membersihkan diri, sebelum melanjutkan membereskan barang ia terlebih dulu mengisi perutnya yang keroncongan.
"Mas, ayo makan dulu." Shara menyiapkan piring juga menata makanan di atas meja makan.
Sakha berjalan mendekat, dan segera mendudukkan tubuhnya.
"Biar aku yang buka," ucap Shara menghentikan Sakha yang hendak beranjak dari tempatnya.
Shara berjalan menuju pintu, dan segera membuka untuk melihat siapa yang bertamu.
"Assalamuallaikum," ucap Bima.
"Wa'allaikumussalam, Mas Bima. Silahkan masuk," pinta Shara.
"Siapa, Dek?" tanya Sakha.
"Tamu agung, sambutlah diriku ini." Bima merentangkan tangannya seolah meminta sambutan dari Sakha.
"Cih, macam artis saja minta di sambut." Sakha menjawab dengan ledekan.
Bima menatap makanan yang terhidang di atas meja makan, ia juga menelan air liurnya.
"Rezeki anak sholeh," ucapnya sambil duduk di depan Sakha.
Sakha menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan sikap nyeleneh sahabatnya itu.
"Makan, Mas Bima." Shara memberikan piring juga gelas berisi air putih pada Bima.
__ADS_1
"Bima saja, Ra. Panggilan Mas hanya untuk suamimu seorang," sahut Bima sembari melirik ke arah Sakha yang kini tengah menatap tajam padanya.
Shara tersenyum melihat tingkah keduanya, dan kini mereka menyantap makanan bersama-sama.
Selesai makan, mereka langsung membereskan barang-barang. Bima dan Sakha juga Abi Fadlan yang baru saja tiba di rumah mengemasi barang berukuran besar, sedangkan Shara dibantu oleh Umi-nya membereskan barang berukuran kecil.
"Ra, apa ga di tunda saja pindahannya," ucap Umi pada Shara.
"Umi, Ara cuma ikut kemauan Mas Sakha. Lagi pula apa bedanya malam ini ataupun besok," sahut Shara.
Umi Merry tak menyaut, ia hanya tertunduk sembari memasukkan satu persatu jilbab Shara ke dalam koper.
"Kamu jaga diri disana," ucap Umi dengan nada bergetar.
Shara menghentikan aktifitasnya, ia menatap dalam wajah Umi-nya yang masih tertunduk.
"Umi menangis?" tanya Shara.
Umi Merry menggelengkan kepalanya, rasanya ia tak mampu untuk sekedar mengeluarkan suara. Air matanya tertahan, dadanya terasa sesak. Sekuat tenaga Umi Merry menahan tangisnya, ia tak mau membuat anaknya khawatir.
Shara memeluk Umi-nya, ia paham perasaan sang Ibunda saat ini.
"Umi, Shara minta maaf."
Umi Merry kini tak mampu membendung air matanya, ia menangis memeluk erat putri satu-satunya yang amat sangat dicintainya.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Umi dengan getir.
"Maaf jika selama ini Ara sering merepotkan Umi, Ara selalu menyusahkan Umi dan Abi. Maaf, Ara belum bisa menjadi anak yang kalian idamkan. Ara belum sempat membalas semua jasa Umi dan Abi, Ara minta maaf Umi." Shara larut dalam dekapan Umi-nya, menumpahkan segala apa yang ingin ia katakan.
"Tidak, Nak. Kamu anak yang paling Umi dan Abi banggakan, Umi bersyukur dikaruniai anak sebaik dirimu. Umi yang harus meminta maaf, Umi dan Abi belum bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk kamu. Maaf jika Umi tidak bisa memenuhi semua keinginanmu, maafkan Umi." Umi Merry semakin mengeratkan pelukannya.
"Umi, dengarkan Ara. Semua yang Umi dan Abi berikan pada Ara, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan jika semua di uangkan, Ara tidak mungkin pernah bisa mengembalikan sepeserpun pada Umi dan Abi. Kalian guru terbaik untuk Ara." Shara bersimpuh bersujud dihadapan Umi-nya.
"Bangun, Nak. Umi selalu mendoakan yang terbaik untukmu, semoga Allah selalu melimpahkan karunia-Nya pada keluarga kecilmu," ucap Umi dengan lirih.
"Aamiin."
Seseorang menjawab doa Umi Merry, keduanya pun menoleh pada sumber suara.
Sakha yang ditemani oleh Abi Fadlan berjalan mendekat pada Umi dan Shara, mereka mensejajarkan tubuhnya.
"Umi, percayalah pada Sakha."
Umi Merry tersenyum, lalu ia menganggukan kepalanya.
"Umi percayakan Shara padamu, jaga dia. Jangan pernah menyakiti hatinya, jika itu terjadi sama saja kamu menyakiti hati Umi juga hati Ibumu."
Sakha mengangguk, "Insya Allah, Sakha akan selalu menjaga Shara. Sakha akan menyayangi Shara seperti Sakha menyayangi Ibu juga Umi, restu kalian sangat berarti untuk kami."
Mereka kini saling mendoakan, larut dalam suasana haru.
__ADS_1
Di balik itu, Bima tengah memandangi keluarga bahagia sahabatnya itu.
"Siapa yang menaruh bawang disini, mataku jadi berair, kan. Kapan ya Allah aku mendapatkan jodoh?" rengek Bima dalam hatinya.