
Sakha mencoba menjawab pertanyaan dari istrinya, ia berusaha untuk bersikap tenang.
Rasulullah SAW bersabda: “Semua wanita yang minta cerat [gugat cerai] kepada suaminya tanpa alasan, maka haram baginya aroma surga.” [HR Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad].
"Apa itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu, Dek?" tanya Sakha dengan gemetar.
Shara terdiam, mencerna jawaban yang diberikan oleh suaminya.
"Bagaimana alasannya jika seorang suami itu berbohong dan menyembunyikan hubungannya dengan wanita lain di belakang istrinya?" tanya Shara kembali.
"Baik Mas akan jawab sebisanya," jawab Sakha.
"Jawablah," sahut Shara sembari memalingkan wajahnya.
Sakha berjalan mendekati Shara, lalu ia meminta istrinya untuk duduk.
"Duduklah, tidak baik untuk bayi kita jika kamu berdiri terlalu lama."
Shara duduk, ia masih memalingkan wajahnya.
Sakha menghela nafasnya dengan berat, ia ingin menyelesaikan masalah ini tanpa emosi.
"Imam Nawawi menerangkan, ucapan merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan baik yang bisa dicapai tanpa harus berbohong maka haram hukumnya berdusta. Namun, jika untuk mencapai tujuan itu, satu-satunya jalan, yakni dengan berbohong maka berdusta boleh dilakukan.
Hukum berbohong dalam kondisi sebagai satu-satunya jalan keluar juga bertingkat. "Jika tujuannya mubah maka berbohong juga mubah, jika tujuannya wajib maka berbohong juga wajib," tulis Imam Nawawi.
Shara tertunduk diam, ia juga tahu tentang tulisan itu. Namun tetap hatinya tidak bisa menerima mendapati suaminya berbohong padanya.
"Kebohongan yang sudah Mas buat, apa itu mubah ataukah wajib?" tanya Shara masih menundukkan wajahnya.
Sakha tertegun, ia memang bersalah telah menutupi kebenaran dari istrinya. Namun apa yang menyebabkan istrinya sampai menyinggung tentang perceraian, apa istrinya salah paham terlalu jauh tentangnya.
"Apa yang membuatmu menyinggung tentang perceraian?" tanya Sakha dengan tegas.
Shara mengangkat wajahnya, hari ini juga ia ingin kejelasan akan semuanya.
"Saat kau berhubungan dengan Airin, dan berbohong padaku! Apa pantas seorang pria beristri bertemu dengan seorang wanita lajang yang jelas-jelas memiliki perasaan terhadapmu?" tanya Shara tak kalah tegas, nafasnya memburu.
Sakha mengusap wajahnya kasar, ia menyesal telah membuat Shara salah paham separah ini.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan, tapi sebelumnya darimana kamu tahu tentang Mas yang tak sengaja bertemu Airin malam itu?" tanya Sakha.
Shara kembali menunduk, ia juga merasa tidak enak karena telah menguping pembicaraan suaminya tempo hari.
"Aku tidak sengaja mendengar perbincangan antara Mas dengan Bima," ucap Shara.
Sakha menghela nafasnya, "astagfirulloh."
"Kamu salah paham, Dek." Sakha mencoba menggenggam tangan istrinya.
"Waktu itu Mas memang bertemu dengan Airin, tapi itupun tidak di sengaja. Mas mendapati dia yang tergeletak di jalanan, dan hanya ingin menolongnya. Tapi Airin malah menggunakan kesempatan itu untuk memfitnah Mas," ujar Sakha.
Shara kaget, "memfitnah Mas?" tanyanya.
Sakha mengangguk, "iya."
"Dia tiba-tiba saja berteriak meminta tolong seakan Mas telah berbuat tidak baik padanya, sampai segerombolan orang datang menghampiri kita. Dia berbicara yang tidak-tidak, orang-orang itu juga hampir percaya padanya. Untungnya, tanpa di sengaja Bima datang. Mas tidak tahu bagaimana jadinya jika Bima tidak ada waktu kejadian itu," imbuh Sakha.
Shara mendengarkan penjelasan suaminya dengan seksama, ia merasa sangat bersalah telah menuduh Sakha berbuat yang aneh-aneh.
"Lalu apa maksud Airin berbicara seperti itu padaku?" tanya Shara.
"Kapan kamu berbicara dengan Airin?" tanya Sakha.
"Saat aku meminta izin untuk pergi ke toko buku," ucap Shara dengan nada melemah.
Sakha menatap dalam wajah istrinya, kesalahpahaman ini berujung pada Shara yang juga berbalik membohonginya.
"Kebohonganku kamu balas dengan berbohong juga. Apa yang dia katakan?" Sakha menegaskan kalimatnya.
"Dia bilang apa yang di lakukan oleh pria dan wanita dewasa pada malam hari," ucap Shara penuh penyesalan.
Sakha menghembuskan nafasnya kasar, Airin benar-benar hampir berhasil merusak rumah tangganya.
"Dia berbohong, dan Mas pikir kamu tidak akan percaya semudah itu. Nyatanya," ujar Sakha. Ia merasa sedikit kecewa karena Shara mempercayai ucapan Airin.
Shara menundukkan wajahnya dalam, air matanya mulai menetes. Kini Shara mulai terisak, ia merasa sangat bersalah.
Sakha mendengar isakan istrinya, ia mencoba menahan emosi agar masalah tak kembali beruntut panjang.
__ADS_1
"Kenapa menangis?" tanya Sakha sembari mengangkat wajah istrinya.
Shara tak menjawab, tangisnya semakin menjadi ketika suaminya bertanya.
Sakha menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, ia berusaha menenangkan Shara.
"Maafkan Mas sudah membuatmu salah paham," ucap Sakha.
Shara tertegun, disini ia yang keterlaluan menuduh Sakha tetapi malah suaminya yang lebih dulu meminta maaf.
"Harusnya aku yang meminta maaf," ucap Shara.
"Maaf, sudah menuduh Mas yang tidak-tidak." Shara menambahkan.
Sakha tersenyum, tangannya mengusap lembut puncak kepala Shara.
"Dek, dengarkan Mas. Sampai kapanpun Mas tidak akan pernah mengkhianatimu, bahkan tidak pernah ada niatan sekalipun. Bahkan Mas akan memohon kepada Allah, untuk tidak pernah memudarkan rasa sayang Mas padamu."
Shara menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sakha, ia berharap hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.
Suasana berubah kembali harmonis, kini Sakha bersyukur masalah rumah tangga mereka bisa teratasi tanpa harus melibatkan emosi berlebih.
Sakha melepas pelukannya, lalu ia beralih pada perut istrinya yang semakin membuncit.
"Assalamuallaikum, sayang. Kamu lagi apa di dalam? Baik-baik di perut Ibu, yah. Maaf sudah membuat Ibumu menangis," ucap Sakha sembari mengecup perut istrinya.
Shara tersentuh melihat perlakuan suaminya, ia berharap tak ada lagi hal yang menggoyahkan cinta kasih diantara mereka.
***
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Shara juga sudah terlelap dalam tidurnya. Sakha bangun dari tempatnya, hendak mencari ponselnya.
Ia berniat menghubungi Bima, membicarakan masalah tentang Airin.
Tak ingin mengganggu tidur istrinya, Sakha
menghubungi Bima melalui pesan singkat.
"Bim, Airin sudah berbicara yang bukan-bukan tentang kejadian waktu itu pada Shara. Ini sudah keterlaluan, bantu aku untuk membuatnya jera."
__ADS_1