
Sakha menatap tajam pada Airin, ia merasa kesal dengan sikap tidak sopan Airin di depan mertuanya.
"Ini sudah malam, kau boleh pulang. Tidak baik perempuan pulang larut malam," ucap Bima pada Airin.
"Yang punya rumah saja belum menyuruhku pulang," jawab Airin dengan tenang.
Umi Merry menatap kearah suaminya, ia berniat untuk meminta agar Abi Fadlan berbicara pada Airin.
"Begini Nak Airin, apa yang dikatakan oleh Bima itu ada benarnya." Abi Fadlan berbicara dengan hati-hati.
Umi Merry merasa ada sesuatu hal yang terjadi diantara anak juga menantunya itu, ia tak ingin suasana tidak nyaman berlarut menyelimuti malam itu.
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu, terima kasih sudah mengizinkanku untuk berkunjung kesini. Bu, aku pamit." Airin menyalami Umi Merry.
"Siapa yang memberikan izin?" gerutu Sakha dalam batinnya.
Airin beranjak dari tempatnya, sekilas ia menatap Sakha yang tampak kesal padanya.
"Lain kali aku akan mampir lagi, jaga kesehatanmu Ra. Assalamuallaikum," ucap Airin.
"Wa'allaikumussalam," jawab semua.
Airin keluar rumah Sakha tanpa di temani oleh siapapun, membuatnya pergi dengan perasaan kesal.
"Ini hanya permulaan," ucapnya dalam hati.
***
Bima juga Sakha sama-sama menyandarkan punggungnya pada sofa, mereka tak habis pikir dengan perubahan yang terjadi pada Airin.
Shara masih terdiam tanpa kata, entah kenapa ia merasa cemas akan kehadiran Airin. Perlahan tangan Shara mengelus lembut perutnya, ia berdoa untuk kebaikan anak juga keluarganya.
Kedua orang tua Shara memutuskan untuk menginap semalam, karena waktu juga tidak memungkinkan untuk mereka kembali saat itu juga.
Umi dan Abi pamit untuk beristirahat di kamar tamu, Shara tengah berada di kamarnya sedangkan Bima dan Sakha masih terduduk di ruang tengah.
"Kha, aku sedikit tidak nyaman dengan sikap Airin." Bima terang-terangan tentang apa yang dirasakannya terhadap sikap Airin.
Sakha menghela nafasnya, ia juga merasa khawatir jika Airin berbuat yang tidak-tidak.
"Aku khawatir Airin berbuat nekat, terutama pada Shara."
Bima mengangguk paham, ia juga tidak ingin jika Airin mengusik rumah tangga sahabatnya itu.
"Aku harus menemui Airin."
Sakha menoleh, "apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.
"Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan, tetapi yang pasti aku hanya ingin Airin tidak salah jalan." Bima menuturkan.
__ADS_1
Sakha paham maksud Bima, ia juga tidak ingin terus-terusan terganggu dengan sikap Airin.
"Coba lihat istrimu, aku takut dia tersinggung karena ucapan Airin tadi." Bima menyarankan.
Sakha mengiyakan saran dari Bima, ia segera berlalu untuk menemui istrinya.
Dengan hati-hati Sakha membuka pintu kamarnya, tampak Shara yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Dek, kamu sudah tidur?" tanya Sakha sembari berjalan mendekat.
Shara tak menoleh, ia larut dalam lamunannya. Sakha menyadari bahwa istrinya tengah melamun, ia berniat untuk lebih mendekat pada Shara.
Sakha membaringkan tubuhnya tepat di belakang Shara, perlahan tangannya mulai memeluk istrinya dengan hangat.
Shara tersadar, ia merasakan sentuhan lembut dari suaminya.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Sakha.
"Aku tidak apa-apa, Mas." Shara menjawab seadanya.
Sakha beralih mengelus lembut kepala istrinya, ia sangat paham akan kegusaran yang tengah istrinya rasakan.
"Mas tidak tahu dari mana Airin tahu alamat rumah kita," ucap Sakha.
"Sudah tidak apa-apa, Mas. Aku tidak merasa terganggu dengan hal itu," sahut Shara.
Sakha terdiam, ia tahu apa yang kini dirasakan oleh istrinya. Shara bukan wanita yang pintar menyembunyikan perasaannya, ia juga bukan wanita yang terang-terangan mau berbicara tentang perasaan.
"Maaf untuk apa?" tanya Shara sembari membalikkan tubuhnya menghadap Sakha.
"Maaf jika Mas belum bisa membuatmu nyaman, maaf jika Mas selalu membuatmu khawatir." Sakha menatap dalam istrinya.
Shara tersenyum lembut, ia mengusap kening suaminya.
"Alasan apa yang membuatku tidak merasa nyaman denganmu, Mas? Aku merasa jauh lebih baik jika selalu denganmu," ucap Shara.
Sakha tersenyum ia memeluk erat istrinya, bibirnya mengecup lembut kening Shara.
Sementara di ruang tengah, Bima terdiam dengan tampang kesal.
"Hah yang benar saja, aku jadi nyamuk disini? Umi dengan Abi, Si Sakha yang katanya hanya ingin berbicara dengan Shara malah betah tidak menampakkan lagi batang hidungnya. Nasib nasib..."
Bima meratapi kesendiriannya, ia memutuskan untuk tidur di sofa.
***
Salah satu cara agar terhindar dari rasa kecewa adalah dengan tidak mengharapkan apapun kepada siapapun. Mungkin hal itu yang seharusnya Airin lakukan sejak awal perpisahannya dengan Sakha, namun ia malah gelap mata.
Airin putus asa, ia tak memiliki pendirian yang kuat. Keputusannya untuk berhijrah kini kembali goyah, bahkan semakin salah kaprah.
__ADS_1
Airin merubah kembali penampilannya. Jilbab longgar yang pernah ia kenakan, kini berubah menjadi pakaian ketat juga rok di atas lutut.
Hampir satu bulan Airin tak terdengar kabarnya, suatu hal yang mungkin cukup berpengaruh baik pada rumah tangga Sakha juga Shara.
Kehamilan Shara yang kini menginjak usia empat bulan, Sakha semakin lebih jeli dalam hal menyangkut kesehatan dan keselamatan calon anak juga istrinya.
Suatu hari Sakha tengah melakukan pemotretan hingga tengah malam, tentunya pekerjaan apapun ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
"Dek, kamu tidur lebih dulu jangan menunggu Mas pulang." perbincangan Sakha dengan Shara di balik ponsel.
"Jangan lupa minum vitaminnya, Mas lanjut kerja lagi. Assalamuallaikum," ucap Sakha.
Sakha menyimpan kembali ponselnya, dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Waktu menunjukkan pukul setengah satu malam, Sakha dan Bima baru saja beristirahat dari kesibukan mereka.
"Kha, kau mau pulang denganku? Ini sudah lewat tengah malam, aku khawatir jika kau pulang menggunakan sepeda motor." Bima menerangkan.
"Tidak usahlah, antar aku mengambil motor saja ke studio setelah itu kau pulanglah." Sakha menuturkan.
"Kau yakin?" tanya Bima.
"Iya aku yakin, lagipula aku tidak tenang jika membiarkan Shara tidur sendiri di rumah."
Bima mengangguk paham, mereka pun segera berniat menuju studio untuk mengambil motor Sakha.
Perjalanan menuju studio hanya sekitar setengah jam, sesampainya disana Sakha langsung pergi menuju rumahnya.
***
Suasana malam itu sangat sepi, bahkan bisa di bilang tidak ada satupun orang yang melintas.
Airin yang baru saja pulang entah dari mana, ia berjalan sempoyongan. Pakaiannya hanya terbalut gaun pendek, membuat angin malam begitu leluasa menusuk tulangnya.
Di perjalanan Airin terjatuh, kesadarannya hampir saja hilang.
Dari kejauhan cahaya dengan tajam menyorot pada Airin, dan pengendara itu segera turun untuk menghampiri Airin.
"Astagfirulloh, Airin kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" teriak Sakha.
Airin dengan setengah sadar, ia menatap Sakha. Ia tersenyum seakan penuh kemenangan, tangannya hendak menyentuh wajah Sakha namun keinginannya itu terhenti ketika Sakha menepisnya.
Dengan gemetar Airin berusaha bangkit dari tempatnya, dan tanpa Sakha mengerti Airin berteriak sekencang mungkin.
"Tolong... Siapapun tolong aku," teriak Airin.
Sakha terkejut, ia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah di lakukan oleh Airin.
__ADS_1
"Airin apa yang kau lakukan? Kenapa berteriak seperti itu," ucap Sakha dengan nada kesal.
"Tuhan pun tengah berada di pihakku Sakha." Airin berbicara dalam hatinya.