PRANIKAH

PRANIKAH
Hal Tatazawajani


__ADS_3

*Suatu ketika aku pernah berada di suatu posisi, dimana harus merelakan hal yang sama sekali tidak ingin aku lepaskan.


Butuh proses dan hati yang kuat, untuk meyakinkan diri bahwa ada rencana lebih indah yang telah Tuhan siapkan untukku*.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Bima membawa Sakha kembali masuk ke dalam mobilnya, ia menyodorkan sebotol air mineral untuk Sakha.


"Minumlah dulu," pinta Bima.


Sakha menurut, ia meneguk air yang di berikan oleh sahabatnya.


"Alhamdulillah," ucapnya.


"Eh iya, Kha. Bukanya kamu sudah punya nomor ponsel Shara?" Bima mencoba mengingatkan.


"Oh iya, aku sampai lupa." Sakha merogoh ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya.


Ia mencari kontak bernama Shara, setelah menemukannya ia langsung mencoba untuk menghubungi nomor tersebut.


Berkali-kali Sakha menghubungi Shara, namun tidak juga di jawab.


"Bagaimana?" Tanya Bima.


"Tidak di jawab," ucap Sakha kecewa.


"Ya sudah, mungkin Shara masih sibuk." Bima berusaha membantu agar Sakha berpikiran baik.


Sakha mengangguk, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Kita kemana sekarang?" Tanya Bima.


"Studio saja," jawab Sakha.


"Baiklah."


Bima menyalakan mesin mobilnya, dan langsung melajukan kembali mobil itu menuju tempat yang di minta oleh Sakha.


***


Di rumah Shara, ia baru saja tiba. Langkahnya terhenti di ambang gerbang rumah, ketika melihat Adam yang telah berdiri di depan pintu rumahnya.


Shara melangkah dengan sedikit malas, sebab memang ia tidak ingin bertemu dengan Adam lagi.


"Assalamuallaikum," ucapnya.


"Wa'allaikumussalam, dari mana?" Tanya Adam ketus.


"Seminar," jawab Shara singkat.


"Dengan siapa? Kenapa tidak memberitahu aku, kan bisa aku antar." Adam menyaut dengan mada sedikit kesal.


Shara menghela nafasnya, ia hendak masuk ke dalam rumah namun langkahnya terhalang oleh Adam yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Permisi, aku masuk. Aku capek," ucap Shara.


"Jawab pertanyaanku!" Seru Adam mulai terpancing emosi.


"Bukan urusanmu!" Shara menjawab dengan sedikit bentakkan.


"Oh, sudah berani membentak?" Tanya Adam sembari melipatkan kedua tangannya di atas perut.


Shara tidak menjawab, dari arah belakang keluarlah Umi Shara.

__ADS_1


"Eh, kamu sudah pulang, Ra?" Tanya Umi Merry sembari menyodorkan tangan kanannya pada Shara.


"Iya, Umi. Ara baru sampai," jawab Shara.


"Ara masuk dulu, Umi." Shara berlalu meninggal Adam juga Umu-nya.


"Ra, kok masuk?" Tanya Adam dengan nada kesal.


Shara tak memperdulikan Adam, ia berlalu masuk ke dalam rumah.


"Nak Adam, mari masuk dulu." Merry mempersilahkan Adam untuk masuk ke dalam rumahnya.


Adam duduk di ruang tamu, menunggu Merry yang tengah membuatkan minuman untuknya.


Tak berselang lama, Merry kembali dengan membawa segelas minuman dingin juga cemilan.


"Di minum, Nak." Merry meletakkan bawaannya di atas meja, lalu ia duduk di kursi yang berada di sebelah Adam.


"Maafkan Shara ya, Nak Adam," ucap Merry.


"Tidak apa, Tan. Adam hanya khawatir pada Ara," sahut Adam dengan sopan.


"Tante mengerti, dan Tante berterima kasih karena Nak Adam sudah sangat peduli pada Shara. Namum, ada hal yang harus Tante sampaikan," ujar Merry.


"Apa itu, Tan?" Tanya Adam.


"Begini, sebenarnya Shara merasa sedikit tidak nyaman ketika harus selalu di temani oleh Nak Adam kemanapun dia pergi, mungkin Shara juga ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri." Mira menuturkan dengan berhati-hati.


"Tidak nyaman seperti apa maksudnya, Tan? Selama ini yang Adam lakukan hanya untuk kebaikan Shara, Adam ingin melindunginya." Adam meminta kejelasan.


"Ya... Mungkin Shara tidak ingin selalu di temani, Nak." Merry mencoba memberi pengertian.


"Lho, kan Tante dan Om yang menitipkan Shara pada Adam, jadi Adam merasa harus melakukan itu, dong." Adam berbicara sedikit emosi.


"Apa Nak Adam tidak berniat untuk meminang Shara? Maksud Tante mungkin dengan seperti itu, Shara dapat kembali menerima Nak Adam," tanya Merry.


"Saya, mau menikahi Shara. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini." Adam menjawab sembari menundukkan wajahnya.


"Kalau begitu Umi putuskan, Nak Adam boleh mendekati Shara, tapi tidak sekarang. Jika Nak Adam berniat serius pada putri Tante, maka segerakanlah." Merry akhirnya bersikap tegas pada Adam.


Adam terkejut dengan apa yang di ucapkan Merry, ia kesal namun tidak dapat meluapkan kekesalannya.


"Saya permisi, Tan. Assalamuallaikum." Adam beranjak dari tempatnya, dan berlalu meninggalkan kediaman orang tua Shara.


"Wa'allaikumussalam," jawab Merry lirih.


***


Di dalam kamar, Shara tengah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia merasa sangat lelah.


Shara merogoh ponselnya di dalam tas, keningnya mengerut melihat ada beberapa panggilan masuk pada nya dengan nomor yang tidak di kenal.


"Siapa ini?" Shara berucap pelan.


Ia berniat untuk mengirim pesan pada nomor tak di kenal itu.


~ Assalamuallaikum. Maaf, dengan siapa ini?" ~


β€’Shara || send...


Pesan terkirim, Shara kembali menaruh ponselnya. Baru saja ia hendak mengambil buku, ponselnya kembali berdering. Ia melihat nomor tak di kenal itu membalas pesan yang di kirimnya.


"Cepat sekali," gumam Shara. Ia membuka pesan masuk pada ponselnya.

__ADS_1


~ Wa'allaikumussalam. Alhamdulillah akhirnya kau menghubungiku juga ☺️~


β€’ 085xxxxxxx β€’


Shara semakin di buat bingung, kenapa orang yang membalas pesannya terlihat sangat senang. Shara pun kembali membalas pesan itu.


~ *Maaf, dengan siapa ini? ~


β€’ Shara || send*...


Ponsel itu kembali berdering.


~ Aku merindukanmu, kamu ada dimana? Bisakah kita bertemu kembali? Batagor kingsley. ~


β€’ 085xxxxxxx β€’


Shara kembali membuka pesan itu, matanya membulat, dadanya seakan berdebar hebat.


"Apa, ini Sakha?" Gumam Shara.


Belum sempat Shara membalas pesan itu, tetapi nomor itu kini menghubunginya.


"Astagfirulloh, dia menelfonku." Shara merasa gugup, perlahan ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Ha-halo, assalamuallaikum." Shara berbicara dengan terbata-bata.


"Wa'allaikumussalam," suara seorang pria di sebrang sana begitu tak asing di telinga Shara, entah mengapa matanya kini berbinar seketika.


"Sakha..." Shara memanggil nama itu dengan lirih.


"Hay, Ara. Apa kabar?" Tanya Sakha dengan suara yang juga terdengar lirih.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?" Jawab Shara dengan canggung.


"Akha sebelumnya tidak baik tetapi saat Akha sudah bisa mendengar suara Ara lagi, Akha mendadak sangat baik." Sakha mulai dengan sikap kekanak-kanakkannya.


Shara tertawa kecil, seketika itu pula air matanya terjatuh. Bukam air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia ketika bisa kembali mendengar kabar dari seseorang yang dia anggap penting dalam hatinya. Begitulah seorang wanita, ketika bahagia mereka menangis, ketika sedih juga mereka menangis. Namun yang lebih hebatnya, wanita mampu tersenyum saat hatinya begitu terluka sekalipun.


"Aku mencarimu, setiap seminar aku kunjungi berharap ada kamu disana. Dan benar saja, aku melihatmu. Tapi Allah belum mentakdirkan kita bertemu, dan mungkin memang seharusnya kita bertukar kabar melalui ponsel terlebih dulu." Sakha memaparkan.


"Benarkah? Ara sempat mendengar seperti ada yang memanggil, tapi Ara tidak tahu kalau itu kamu." Shara pun menjelaskan apa yang di alami nya tadi.


"Ara, kapan kita bertemu?" Tanya Sakha.


Beberapa menit Shara tak menjawab pertanyaan Sakha.


"Ara, kau masih disana?" Tanya Sakha lagi.


"Emm iya." Shara menjawab seenaknya.


"Bagaimana? Kapan kita bisa bertemu?" Sakha mengulang pertanyaanya.


"Jangan datang lagi, kalau tidak akan menetap. Aku tidak mau kecewa untuk kedua kalinya." Shara memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Ara, aku berjanji tidak akan pergi lagi. Bagaimana aku bisa pergi, kalau yang aku cari ada padamu. Bismillah Ara, hal tatazawajani (maukah kamu menikah denganku)?" Sakha langsung pada niatnya.


Shara terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Sakha, lidahnya kelu tak dapat melisankan sepatah kata pun.


"Sakha jangan main-main dengan ucapanmu, kumohon." Shara masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sakha.


"Kirimkan alamat rumahmu, aku akan datang bersama orang tuaku." Sakha berucap dengan mantap.


Shara kembali terkejut, matanya kini berkaca-kaca. Hatinya begitu bahagia mendengar kalimat itu dari Sakha, berkali-kali ia mengucap syukur.

__ADS_1


***


Lelaki yang benar-benar serius padamu, ialah lelaki yang berani untuk mengajak menikah bukan pacaran.


__ADS_2