
Hari ini Sakha pergi bekerja seperti biasanya, ia berpamitan pada istrinya dan tak lupa pada calon anaknya.
Shara meraih dan mencium punggung tangan suaminya, terselip doa menyertai sang suami. Sakha mengelus lembut puncak kepala sang istri, dan membalas dengan mencium keningnya.
Sungguh pemandangan yang banyak di idamkan para pasangan yang berumah tangga.
Pada dasarnya dalam suatu hubungan rumah tangga, saling menghormati dan menghargai satu sama lain adalah kewajiban. Namun, tak sedikit yang mempertanyakan alasan kenapa seorang lelaki harus mencium kening istri dan seorang istri harus mencium tangan suaminya.
Semangat dan ketenangan seorang suami terletak pada kening istrinya, sedangkan sumber ketenangan dan kekuatan seorang istri terletakĀ pada punggung tangan suaminya.
Hal yang dilakukan seseorang ketika mengecup kening istri atau mencium tangan suami, hakikatnya adalah merupakan sebuah simbol dari satu hal yang paling mahal dalam hubungan suami istri yaitu adanya saling percaya.
Ketika seorang suami mencium kening istrinya itu adalah cara dirinya mendapatkan ketenangan, sedangkan bagi seorang istri mencium tangan suami bukan semata hanya tentang siapa yang lebih tinggi derajatnya.
Akan tetapi, itu adalah tanda bahwa rasa ikhlaslah yang menuntunnya. Karena perempuan juga tahu, di tangan suaminya terdapat keridhaan dari Allah SWT.
***
Setelah Sakha pergi, Shara kembali masuk ke dalam rumah. Ia memasukkan kembali sisa makanan kedalam lemari, ia juga membereskan rumah seperti biasanya.
Shara selalu menolak saat Sakha menyarankan untuk memperkerjakan asisten rumah tangga, ia ingin belajar mengurus rumah juga kebutuhan lainnya sendiri.
Perutnya yang semakin membuncit otomatis mengurangi pasokan tenaganya, sesekali Shara mengistirahatkan tubuhnya di tengah-tengah aktifitas membersihkan rumah.
Saat ia tengah membersihkan rumah, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Shara menoleh dan segera berjalan menuju pintu.
Ketika ia membuka pintu, alangkah bahagianya Shara melihat siapa yang bertamu.
"Ayah, Ibu," ucap Shara sembari menyalami kedua mertuanya.
"Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau kesini, kan Ara bisa masak lebih banyak untuk Ayah dan Ibu." Imbuh Shara.
"Justru itu, kita tidak mau merepotkan kamu," sahut Ibu Sakha.
Shara menghela, "ayo masuk, Yah, Bu."
Keduanya pun mengangguk, dan masuk kedalam rumah.
"Sakha pergi bekerja, Ra?" tanya Ayah Sakha.
"Iya, Yah. Belum lama Mas Sakha berangkat, mungkin sekitar setengah jam yang lalu." Shara memaparkan.
"Kamu sendiri di rumah, Ra?" tanya Ibu Sakha sembari mengedarkan pandangannya.
"Iya, Bu. Kenapa memangnya?" tanya Shara.
"Kenapa tidak cari asisten rumah tangga? Kamu kan lagi hamil," ujar Ibu Sakha.
__ADS_1
"Iya, jangan terlalu banyak melakukan aktifitas berat Ra." Ayah Sakha menambahkan.
"Emm, tidak usah, Yah, Bu. Ara masih bisa kok beresin rumah sendiri," jawab Shara.
"Tapi perutmu semakin membesar, dan tidak baik jika terlalu lelah. Pokoknya kalau kehamilan kamu sudah masuk trimester ketiga, Ibu akan paksa Sakha buat cari asisten rumah tangga," Ucap Ibu Sakha dengan tegas.
Shara tersenyum pasrah, ia mengerti dengan kekhawatiran Ibu juga Ayah mertuanya.
"Iya, Bu. Nanti kalau masuk usia kehamilan tujuh bulan Ara akan cari ART" sahut Shara.
"Ara buatkan minum dulu yah, Bu, Yah."
Shara berdiri dan berjalan menuju dapur. Disana ia membuat dua gelas minuman, kopi susu untuk Ayah mertuanya, dan teh manis hangat untuk Ibu mertuanya.
Sekembalinya Shara dari dapur, ia tal mendapati Ayah di ruang tamu, hanya ada Ibu mertuanya.
"Loh, Ayah kemana, Bu?" tanya Shara.
"Ayah lagi keliling rumah, lihat-lihat halaman belakang." Ibu Sakha membantu Shara menaruh minuman ke atas meja.
Shara mengangguk, dan ikut duduk kembali bersama Ibu mertuanya.
"Ra, Ibu minta maaf waktu itu tidak bisa mengantar kalian pindahan." Ibu Sakha memulai perbincangan lagi.
"Iya tidak apa-apa, Bu. Umi dan Abi juga maklum, Kok." Shara membesarkan hati Ibu mertuanya.
Shara menatap penuh tanya pada Ibu mertuanya, beliau terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Ibu Sakha tersenyum tipis, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Ibu hanya kangen sama Sakha," ucapnya lirih.
Shara menggenggam erat tangan Ibu mertuanya, ia juga paham akan perasaan Ibu Sakha.
"Ibu merasa kehilangan?" tanya Shara dengan hati-hati.
Ibu Sakha terdiam, dengan ragu ia menganggukkan kepalanya.
Shara tersenyum, ia lebih merapatkan duduknya pada Ibu Sakha.
"Bu, tenang saja. Kepatuhan Mas Sakha masih milik Ibu, tapi Mas Sakha juga berkewajiban atas Ara. Ibu jangan merasa kehilangan, Ara juga tidak akan membuat jarak antara Ibu dengan anak laki-laki Ibu. Aku milik Mas Sakha, tetapi Mas Sakha tetap milik Ibu. Kapanpun Ibu membutuhkan Mas Sakha, Ibu boleh memintanya untuk datang berkunjung, tetapi Ibu juga harus ikhlas bahwa sekarang Mas Sakha berkewajiban untuk menafkahi Ara."
Ibu Sakha menyimak dengan pikiran yang terbuka, tak ada perselisihan diantara mereka.
"Ibu percaya padamu, Ra. Ibu doakan yang terbaik untuk kalian," ucap Ibu Sakha sembari memeluk hangat menantunya.
***
__ADS_1
Di tempat kerja Sakha, tampak mereka tidak terlalu sibuk.
Sakha tengah mengedit foto-foto clientnya, sedangkan Bima ia tengah memeriksa hasil video yang telah selesai di kerjakan olehnya.
Di tengah rutinitas mereka, tiba-tiba saja datang seseorang yang tak diduga.
Airin menerobos masuk kedalam ruangan Bima juga Sakha, sontak perbuatannya membuat Bima terkejut terlebih Sakha.
"Apa-apaan kamu, Rin. Main masuk ke tempat orang sembarangan!" seru Bima.
Airin tak menggubris ucapan Bima, ia menatap tajam kearah Sakha.
Airin menggerakkan tangannya, lalu memasukkannya kedalam tas.
Tangannya kembali ditarik, langkah terkejutnya Sakha juga Bima melihat hal yang dilakukan oleh Airin.
Sebilah pisau kini ia arahkan ke pergelangan tangannya, nafasnya memburu.
"Airin, apa yang kau lakukan? nyebut, Rin!" teriak Bima.
Sakha menahan Bima yang hendak berlari mendekati Airin, ia tak ingin terjadi hal buruk jika Bima nekat mendekati Airin.
"Bim, tenang!" seru Sakha.
"Katakan, apa maksud perbuatanmu itu?" tanya Sakha.
"Sakha, kau tahu betapa hancurnya aku? Kau tahu betapa buruknya aku setelah kau tinggal pergi? Apa salahku? Begitu mudahnya kau menjalani hidup dengan wanita lain, sedangkan aku disini harus susah payah menahan rasa sakit atas ulah kalian!" teriak Airin.
Sakha mencoba bersikap setenang mungkin, ia tak ingin gegabah dalam bertindak. Bima juga mulai bisa menguasai emosinya, ia berusaha untuk berbicara baik-baik dengan Airin.
"Rin, sudahlah! Sampai kapan kau akan seperti ini? Ini bukan Airin yang kita kenal," ucap Bima.
"Ya, dan kau tahu kenapa aku begini? Semua karena dia!" Airin menunjuk Sakha menggunakan pisau ditangannya.
Sakha dan Bima mundur satu langkah dari hadapan Airin, mereka mencoba untuk membujuk Airin.
"Rin, aku tahu aku salah. Aku minta maaf, hati orang siapa yang tahu? Allah yang maha membolak balikkan hati manusia, semua sudah diatur oleh yang kuasa. Aku juga yakin kau akan mendapat lelaki yang jauh lebih baik dari aku!" Seru Sakha.
"Lelaki baik? Lelaki mana lagi yang mau menerima hati yang sudah remuk? Kau yang menghancurkan hatiku, dan kau berharap orang lain yang akan merapihkan kepingannya seperti semula? Jahat sekali kau Sakha!" bentak Airin.
Sakha terdiam, ia tak tahu harus berbicara apalagi untuk menenangkan Airin.
"Kenapa diam? kau tidak bisa menjawab pertanyaan dariku? Siapa yang akan sudi merapihkan hati yang telah hancur, sedangkan pelakunya hidup bebas bahagia di atas penderitaan hidupku?" teriak Airin.
"Aku!" ucap Bima dengan lantang.
Sakha terkejut, sontak menoleh penuh tanya pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Airin pun tak kalah terkejut, telinganya seakan berdengung menggemakan kata yang diucapkan oleh Bima.
Sakha masih menatap penuh tanya, hatinya mempertanyakan apa yang Bima katakan itu benar adanya atau hanya trik untuk menenangkan Airin.