
Sakha dan seluruh orang di ruangan kini tengah duduk untuk mendengar penjelasan Bima, terlebih Sakha yang sangat penasaran dengan alasan Bima untuk menikahi Airin.
Bima menghela nafasnya, ia tengah bersiap untuk menjelaskan alasannya.
Flashback on.
Airin tengah berbaring di tempat tidurnya, sebelumnya dokter juga sudah mengecek kondisi Airin saat ini.
Bima masih dengan sabar menemani Airin, ia sangat bersyukur akan kondisi Airin yang mulai membaik.
"Rin, makan dulu."
Bima memegang sebuah mangkuk berisi bubur, dan berniat untuk menyuapi Airin.
Airin menatap Bima dengan penuh tanya, ia tak percaya dengan perlakuan Bima yang begitu tulus padanya.
Airin menerima setiap suapan yang diberikan oleh Bima, sesekali ia juga tersenyum pada lelaki itu.
"Bima, boleh aku bertanya?" tanya Airin.
Bima mengangguk, "tanya apa?" tanya Bima.
"Sakha kemana?" tanya Airin dengan raut wajah kecewa.
Bima menaruh mangkok di atas nakas yang berada di samping tempat tidur Airin, dengan sabar Bima menjelaskan semuanya pada Airin.
"Rin, Sakha sekarang sedang menemani istrinya berjuang melahirkan anak mereka. Kau tahu, untuk seorang wanita hal yang paling membahagiakan adalah ketika seorang suami menemaninya melahirkan. Dan hal itu yang di butuhkan oleh Shara saat ini, dia sedang bertaruh nyawa. Dan kau harus tahu, untuk sebagian besar lelaki seorang istri yang tengah rela mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hatinya adalah hal yang sangat penting, melebihi apapun. Aku harap kamu bisa mengerti itu. Dan aku ingin kamu berhenti berharap pada Sakha, biarkan dia bahagia dengan keluarga kecilnya."
Bima berbicara sangat penuh penekanan, namun masih tanpa bentakan.
Airin mendengarkan sembari menatap langit-langit ruang rawatnya, ia juga sempat memalingkan wajahnya dari Bima saat air matanya tak mampu ia bendung.
"Rin, aku tahu ucapanku sangat menyakiti hatimu. Namun, inilah kenyataan yang harus kamu tahu. Kamu harus percaya, ada kebahagiaan yang menanti di depan sana." Bima mencoba untuk memberikan semangat pada Airin.
Airin menatap Bima, dengan canggung ia mulai mencoba untuk membahas kata-kata Bima tempo hari.
"Bima, kenapa kau berbicara seperti waktu itu?" tanya Airin.
Bima seakan tahu maksud Airin, ia juga sempat menundukkan pandangannya ketika Airin menatapnya dengan dalam.
Bima menghirup udara untuk melegakan dadanya, ia seakan bersiap untuk mengucapkan suatu hal pada Airin.
__ADS_1
"Bismillah," ucapnya dengan pelan.
"Rin, aku ingin melamarmu." Bima berucap dengan tegas.
Airin terkejut, ia bahkan membelalakan matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"K-kau, jangan bercanda, Bim." Airin memalingkan kembali wajahnya dari Bima.
Bima menghela nafasnya, "aku tahu, ini sangat mengejutkan untukmu. Aku juga merasakannya, aku tidak tahu sejak kapan muncul keinginan untuk melamarmu. Yang aku tahu, Allah lah yang telah menggerakkan hatiku."
Airin meneteskan air matanya lagi, dadanya bergemuruh, bibirnya mengatup dengan rapat.
"Aku tidak akan memaksamu, Rin. Aku hanya mengutarakan niat baikku padamu saja, aku juga tidak akan mendesakmu untuk memberikanku jawaban." Bima menunduk.
"Bagaimana dengan masa laluku?" tanya Airin tanpa menoleh ke arah Bima.
Bima kembali mengangkat wajahnya, "masa lalumu biar menjadi milikmu, begitupun dengan masa laluku. Aku hanya ingin menatap masa depan denganmu saat ini," sahut Bima dengan penuh keyakinan.
Airin tak menjawab, ia masih memalingkan wajahnya dari Bima.
"Jika kau butuh waktu, akan ku berikan. Jika sekarang kau merasa risih aku ada disini, aku akan keluar." Bima beranjak dari tempatnya dan berbalik hendak keluar dari ruangan.
"Jangan pergi," ucap Airin.
"Jangan pergi, kumohon. Aku... Aku menerima lamaranmu," jawab Airin dengan lirih.
Bima terdiam, senyum tipis menyinggung di sudut bibirnya. Matanya kini berair, bukan air mata kesedihan melainkan air mata haru karena lamarannya di terima oleh Airin.
Bima berbalik menghadap Airin, ia kembali duduk di sebelahnya.
"Apa ini tulus?" tanya Bima.
Airin menatap Bima sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawab Airin.
Bima mengusap wajah dengan kedua tangannya, terdengar ucapan syukur dari mulut Bima.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku pinta dari kamu, Rin."
"Apa?" tanya Airin.
__ADS_1
"Aku ingin urusanmu dengan Sakha dan Shara selesai saat ini juga, aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita lagi. Apa kau keberatan?" tanya Bima.
Airin sejenak berpikir, mencerna permintaan Bima padanya.
"Kalai kau keberatan, aku tidak akan memaksamu." Bima menyela.
"Antarkan aku ke ruangan Shara," sahut Airin.
Bima tersenyum, ia merasa dadanya sangat lega saat ini.
"Tunggu sebentar, aku akan melihat apa persalinannya sudah selesai atau belum. Aku akan segera kembali," ucap Bima sembari berlalu keluar ruangan.
Flashback off.
***
"Begitulah ceritanya, apa kau merestui kita?" tanya Bima pada Sakha.
Sakha terdiam, ia melihat sekeliling yang seakan menunggu jawaban darinya.
"Mas, kenapa diam?" tanya Shara.
Sakha menghela nafasnya, "aku tidak setuju."
Semua orang menatap Sakha dengan raut wajah terkejut, jawaban yang diberikan oleh Sakha membuat mereka bertanya-tanya.
"Kenapa?" tanya Bima.
"Aku tidak setuju, kalau kau hanya bermain-main dengan ucapanmu. Tapi kalau memang kau benar-benar yakin, aku dengan senang hati merestui."
Sakha tersenyum tulus pada Bima, sontak hal itu membuat semua orang merasa lega.
"Alhamdulillah, terima kasih Kha. InsyaAllah aku akan melamar Airin secepatnya," ucap Bima dengan perasaan bahagia.
"Kami menunggu kabar baik itu," sahut Sakha dan berhambur memeluk sahabatnya itu.
Airin tersenyum, ia menghela nafasnya dengan pelan.
"Jika memang ini adalah takdirku, aku akan menerima semuanya dengan lapang dada. Aku yakin, semua yang terjadi saat ini adalah yang terbaik untuk hidupku."
***
__ADS_1
**Hidup bukanlah masalah yang harus diselesaikan, tapi hidup adalah kenyataan yang harus dihadapi**