
Max berada di dalam sebuah ruangan, dia sedang mengumpulkan beberapa dokumen yang berada di atas meja. Ruangan itu hanya memiliki lilin sebagai penerangan, membuat Max sedikit sulit untuk membaca. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan, dia membawa satu teko teh hangat beserta 2 cangkir teh porselen.
"Max, besok saja dilanjutkan. Ini sudah terlalu larut malam."
Wanita itu meletakkan barang bawaannya di atas meja, dia lalu berjalan mendekat ke Max.
"Ying, kenapa datang kemari?" tanya Max sembari menuang teh ke dalam cangkir.
Li Ying mengintip dokumen yang berada di atas meja, dia mengambil satu dokumen tersebut lalu membaca isinya.
"Kenapa kau mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan oleh Menteri Fang?" tanya Li Ying tanpa mempedulikan pertanyaan suaminya.
"Seseorang memintanya, aku hanya melakukan apa yang dia inginkan. Lagi pula, bayaran dari tugas ini sangat mahal. Kita bisa membeli 2 tanah kosong di ibukota hanya dengan uang mukanya saja." jawab Max yang lalu menatap wajah istrinya.
"Kenapa kamu menerimanya? Ini pekerjaan yang sangat berbahaya." ketus Li Ying dengan wajah cemas.
__ADS_1
Max mengelus kepala istrinya, dia lalu menjawab sambil tersenyum. "Karena itu, adalah tujuan tempat ini di bangun. Apakah kau melupakan kata-kata dari Nyonya? Dia sering berpesan kepada kita untuk membantu orang lain."
"Tapi ini pekerjaan yang terlalu berbahaya. Kau kan tau siapa Perdana Menteri Fang itu, dia orang yang tidak segan-segan untuk membunuh siapapun yang menghalanginya."
Wajah Li Ying berubah khawatir, dia takut Menteri Fang akan menghancurkan kediaman mereka jika dia mengetahui tentang hal ini. Namun Max segera menenangkan istrinya, dia memeluk Li Ying sambil menepuk-nepuk pelan pundak istrinya.
"Jangan khawatir! Selain wanita yang memberikan bayaran kepada kita, tidak akan ada orang lain yang mengetahui hal ini."
Max menyelesaikan pekerjaannya di temani oleh sang istri. Setelah beberapa waktu berlalu, Li Ying ketiduran dalam posisi duduk di kursi. Max menunduk ke arah Li Ying, dia mengecup pipi istrinya yang kini mulai membulat.
KEDIAMAN HAN
Hari mulai terang, cahaya matahari menyelusup masuk melalui celah jendela dan pintu. Sinar matahari menerpa wajah Qing Xia yang masih terlelap. Han Ze Xin berbaring di sampingnya, dengan posisi memeluk tubuh Qing Xia.
Perlahan, Qing Xia membuka mata, dia melihat sekeliling ruangan. "Di mana ini? Bukankah aku berada di dalam kamar? Kenapa aku malah terbangun di tempat asing? Apakah aku di culik lagi?" benak Qing Xia.
__ADS_1
Qing Xia merasakan benda berat yang menimpa perutnya, dia berbalik ke samping, menatap ke wajah Han Ze Xin. Senyumnya langsung merekah, dia kembali memejamkan mata sembari menyembunyikan wajahnya di dada Han Ze Xin.
"Wanita ini, pagi-pagi sudah mengusik adik juniorku!" batin Han Ze Xin yang berpura-pura tidur.
Han Ze Xin memundurkan wajahnya, dia menatap wajah Qing Xia yang sudah tertidur lagi. "Dia pasti sangat lelah, aku jadi merasa bersalah sudah mengganggunya sepanjang malam." pikir Han Ze Xin.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." gumam Qing Xia dalam tidurnya.
"Deg!"
Jantung Han Ze Xin berdegub kencang, dia mengira Qing Xia mengatakan itu untuknya. Dia merasa senang dan bahagia, namun ternyata kebahagiaan itu hanya sesaat. Sebab Qing Xia kembali bergumam.
"Luo Luo, aku sangat mencintaimu. Jangan pergi!"
"Deg!" Jantung Han Ze Xin rasanya akan terlepas dan jatuh dari tempatnya.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^