
"Qing Xia, kau terlalu naif. Tidak akan ada yang berubah, semua ini sudah di rencanakan oleh Fang Tua dan juga Kaisar. Mereka takut keluarga Yang akam semakin berkuasa, itu sebabnya mereka menghancurkan keluarga kita terlebih dahulu, sebelum kekuasaan keluarga Yang semakin membesar." jelas Yang Fang Xi kepada putrinya.
Han Ze Xin berpikir sesaat, dia yakin apa yang di perkirakan oleh Yang Fang Xi tidak seluruhnya tepat. Jika benar Kaisar hendak membasmi keluarga Yang, beliau tidak perlu menggunakan Menteri Fang.
"Sepertinya, Kaisar sama sekali tidak memgharapkan kehancuran keluarga Yang. Tapi saat ini, aku tidak bisa mengatakan apapun kepada Yang Fang Xi. Aku harus mengumpulkan bukti dan juga menyelidiki secara langsung kejadian yang sebenarnya." benak Han Ze Xin.
"Ayah...!" Qing Xia masih ingin membujuk Yang Fang Xi, namun laki-laki itu segera mengusirnya.
"Kalian tidak boleh terlalu lama di sini, pergilah sekarang juga!" ucap Yang Fang Xi sambil membalikkan badan. Dia memunggungi pasangan muda mudi itu, dengan maksud untuk menyuruh mereka pergi.
Han Ze Xin berjalan mendekati Qing Xia, dia menggenggam telapak tangan wanita itu. "Ayo pergi!" ajaknya sembari menarik pelan tangan Qing Xia.
"Ayah, aku akan kembali lagi nanti. Jaga diri Ayah, sampai jumpa." ucap Qing Xia sebelum keluar dari kamar.
Han Ze Xin membawa Qing Xia pergi, dia mengetahui jika Qing Xia masih belum rela pergi dari rumahnya. Tapi keberadaan mereka akan berbahaya bagi Yang Fang Xi, sehingga Han Ze Xin harus membawanya pergi dengan berat hati. Dalam perjalanan kembali, Han Ze Xin merasa kasihan melihat wajah Qing Xia yang bersedih dan murung. Dia mencoba mencari cara, agar senyuman di wajah Qing Xia kembali merekah.
Di dalam kereta kuda, Qing Xia duduk menatap ke depan dengan tatapan kosong. Han Ze Xin merasa terganggu, tatapan dari Qing Xia membuat hatinya tidak tenang.
"Xia...!" panggilnya dengan suara lembut, namun tak di hiraukan oleh Qing Xia yang masih melamun.
__ADS_1
"Xia'er...!"
Xia Xia...!"
"Qing Qing...!"
"Qing'er...!"
Berkali-kali Han Ze Xin memanggil, bahkan dengan menggunakan nama panggilan yang berbeda-beda, namun tidak sekalipun Qing Xia menjawabnya. Dia masih tenggelam di dalam pikirannya sendiri.
"Bagaimana cara untuk mengetahui isi hati Kaisar? Aku bahkan tidak bisa mendekati orang itu." benak Qing Xia.
"Yang Qing Xia, ini hukuman karena kau mengabaikan calon suamimu!" tegur Han Ze Xin yang langsung mencium bibir Qing Xia.
Ciuman dari Han Ze Xin membuat pikiran Qing Xia langsung kosong melompong. Semua kegelisahan di hatinya seolah terhisap oleh bibir Han Ze Xin yang kini melum*tnya dengan liar. Qing Xia membalas ciuman dari Han Ze Xin, matanya membelalak begitu Han Ze Xin menyentuh benda terlarang miliknya.
Han Ze Xin melepaskan ciuman di bibir Qing Xia, dia beralih ke leher jenjang putih dan mulus di bawahnya. "Hentikan, kita masih berada di jalan!" pinta Qing Xia dengan suara sedikit resah.
Han Ze Xin tidak menghiraukan ucapan Qing Xia, kini jari-jarinya menyelusup di dalam kain tipis yang berlapis, menembus hingga ke dalam kulit mulus Qing Xia.
__ADS_1
"Plakkk!"
Qing Xia memukul tangan Han Ze Xin, dia kembali berkata, "Hentikan, aku akan menggigitmu jika kau melanjutkannya lagi!" ancam Qing Xia dengan nada kesal.
"Menggigit?" ucap Han Ze Xin. "Gigit memakai bagian yang mana? Yang atas atau bawah?" bisik Han Ze Xin dengan wajah nakalnya.
"Tabib Cabul ini! Semakin hari semakin menjadi, sifat mesumnya benar-benar tidak tertolong lagi!" benak Qing Xia.
"Kau tidak jadi menggigitku? Padahal aku sedang menunggu." goda Han Ze Xin sambil tersenyum di depan wajah Qing Xia.
"Akh!"
Qing Xia menggigit bibir Han Ze Xin dengan kuat, darah segar keluar dari luka di bagian bibir bawahnya. Suara kesakitan pun langsung keluar dari bibir Han Ze Xin yang semakin memerah.
"Kau ini mirip anjing ya, suka menggigit!" goda Han Ze Xin lagi sambil terkekeh.
"Kau mau di gigit lagi ya?" tanya Qing Xia sambil menatap kesal.
"Mau, apalagi jika di gigit di bagian bawah. Aku sangat menantikannya." bisik Han Ze Xin.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^