
"Ternyata anda masih hidup." ucap penyusup tersebut sambil berjalan mendekat.
"Jika kau tidak membuka penutup wajahmu, aku akan membunuhmu!" ancam Yang Fang Xi dengan raut wajah serius.
Penyusup tersebut melepaskan kain penutup di wajahnya. Begitu melihat wajah si penyusup, Yang Fang Xi segera berlutut memberi hormat.
"Yang Mulia." ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Berdirilah, aku tidak lagi memiliki gelar seperti itu." sahut Han Ze Xuan yang ternyata menyusup ke dalam kediaman Yang.
Han Ze Xin menceritakan masalah ayah mertuanya kepada Han Ze Xuan. Karena ingin membantu membersihkan nama baik besan nya, Han Ze Xuan menyusup ke sana untuk menemui Yang Fang Xi agar dia bisa bertanya masalah yang terjadi sebelum Yang Fang Xi di tuduh sebagai seorang penghianat.
Yang Fang Xi mempersilakan Han Ze Xuan untuk masuk ke dalam kamarnya yang sudah dibersihkan. Dia meminta Lee untuk membawakan teh hangat ke dalam kamar. Setelah Lee keluar, Yang Fang Xi kembali berlutut di hadapan Han Ze Xuan.
"Yang Mulia, saya Yang Fang Xi akan selalu mengingat kebaikan yang anda berikan kepada keluarga Yang. Terima kasih karena anda telah menerima Qing Xia sebagai menantu meskipun dia anak seorang buronan." ucap Yang Fang Xi sambil berlutut di depan Han Ze Xuan.
Laki-laki itu segera berdiri dari kursi, dia berjalan mendekati Yang Fang Xi lalu membantunya untuk berdiri. "Jangan seperti ini, sekarang kita adalah keluarga. Bukankah hal yang wajar jika kita saling menolong?" ucapnya sambil mengangkat tubuh sang besan.
"Duduklah, jangan berlutut sembarangan karena anda adalah seorang Jenderal perang yang dihormati." lanjutnya lagi yang kembali duduk di kursi.
__ADS_1
"Saat ini, saya hanya seorang buronan. Tidak ada lagi Jenderal perang di keluarga Yang." sanggah Yang Fang Xi dengan senyuman miris.
"Aku akan membantumu untuk membuktikan jika kamu tidak bersalah. Untuk itulah aku datang kemari. Bisakah kamu menceritakan apa yang telah terjadi 4 tahun yang lalu?" tanya Han Ze Xuan.
Yang Fang Xi mengangguk, dia mulai menceritakan semua hal yang dia ingat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xin Le di titipkan kepada Se Se, sementara Qing Xia keluar untuk menemui Max. Dia membawa sejumlah uang yang akan digunakan sebagai alat pertukaran dengan informasi dan bukti yang di kumpulkan oleh Max.
Kereta kuda berjalan perlahan di jalanan yang padat dan ramai orang berlalu lalang. Qing Xia membuka sedikit kain tirai jendela untuk melihat keluar. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok srorang wanita yang tidak asing baginya.
Qing Xia segera menutup tirai jendela agar tidak terlihat oleh Mo You Li. Karena dirinya saat ini dinyatakan sebagai anak dari penghianat yang sudah meninggal, Qing Xia tidak boleh menunjukkan diri di depan orang yang mengenalnya.
Qing Xia melihat keluar dengan penglihatannya yang tembus pandang, dia melihat seorang pelayan dan dua pengawal sedang mengikuti langkah Mo You Li.
"Kenapa dia memiliki pelayan dan pengawal pribadi? Apakah dia sudah menikah lagi dengan seorang bangsawan berpangkat tinggi?" tanya Qing Xia dalam pikiran.
Tidak lama kemudian, Qing Xia tiba di tempat yang dia janjikan untuk bertemu dengan Max. Laki-laki itu sudah menunggu kedatangan Qing Xia. Dia duduk di kursi yang berada di sudut ruangan sambil menikmati teh bunga yang tersedia di atas meja.
__ADS_1
"Di mana benda yang ku inginkan?" tanya Qing Xia begitu melihat Max.
Max tersenyum, dia menengadahkan wajah untuk menatap Qing Xia yang berdiri di hadapannya. "Nona, anda terburu-buru sekali. Silakan duduk dan menikmati teh ini terlebih dahulu." sahut Max yang lalu mengambil cangkir teh dan menyesapnya dengan santai.
Qing Xia menuruti keinginan Max, dia duduk di kursi lalu mengambil cangkir teh yang sudah di siapkan oleh Max untuknya.
"Sruppp!"
Qing Xia menyesap teh yang di hidangkan di depan meja. Dia merasa sedikit tenang setelah mengjirup aroma dari teh bunga yang terasa manis dan harum.
"Nona Qing Xia, hal pertama yang akan aku ajarkan kepada anda. Jangan pernah menerima apapun dari orang lain tanpa anda selidiki terlebih dahulu." ucap Max sambil menyeringai.
Qing Xia baru menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan teh bunga yang dia minum. Penglihatannya semakin buram dan kabur.
"Brukkk! Pranggg!"
Qing Xia tertidur dengan menyandarkan kepalanya di atas meja. Cangkir miliknya kini hancur berantakan karena tersenggol dan terjatuh ke lantai ketika Qing Xia mendaratkan kepalanya di meja.
"Bawa Nona ini masuk dengan hati-hati." perintah Max kepada kedua pelayan wanita.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^