
Han Ze Xin membawa Qing Xia ke sebuah toko pakaian, dia meminta pelayan untuk mencarikan pakaian pengantin yang cocok dengan pakaian pengantinnya. Beberapa waktu kemudian, Qing Xia sudah berganti pakaian, rambutnya di hias kembali oleh para pelayan di toko tersebut. Meskipun tidak semewah tadi, kecantikan Qing Xia tetap menjadi nomor satu di negara Han.
Han Ze Xin membayar untuk baju pengantin dan juga perhiasan yang dibeli di toko, tidak lupa dia memberikan tips dan uang lebih kepada para pelayan yang sudah merias pengantinnya dalam waktu yang singkat. Han Ze Xin naik ke atas punggung kuda, dia mengulurkan lengannya ke arah Qing Xia.
"Ayo naik, kita hampir terlambat." ajaknya sambil tersenyum.
Semua pelayan wanita menatap wajah Han Ze Xin yang sedang tersenyum, jantung mereka rasanya berdebar kencang tidak karuan gara-gara wajah tampan dari laki-laki itu.
Kediaman Han
Han Ze Xuan dan Se Se mendapat laporan dari pengawal yang mengatakan jika iringan pengantin di serang oleh para pembunuh. Meskipun telah menduga hal ini akan terjadi, Han Ze Xuan masih dengan sengaja menyuruh Yu untuk tetap tinggal di kediaman.
"Ini adalah rintangan yang harus Xin jalani sebelum menikahi wanita yang dia inginkan. Jika dia gagal melindungi wanitanya, atau bahkan kehilangan nyawanya, itu sudah menjadi takdir yang harus dia hadapi. Kita tidak boleh terus-terusan membantu dan melindunginya. Sudah waktunya dia belajar menghadapi dunia luar yang keras dan kejam!" ucap Han Ze Xuan menjelaskan alasan kenapa dia meminta Yu untuk tinggal di kediaman.
Se Se sedikit khawatir, namun apa yang di katakan oleh suaminya terdengar masuk akal. Sebab hidup mereka tidaklah kekal, jika suatu hari nanti mereka sudah pergi meninggalkan dunia ini, maka anak-anaknya harus bisa menjaga diri sendiri. Mereka harus dilatih untuk mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orang tuanya.
"Tuan, Nyonya! Mempelai wanita tiba, Tuan Muda membawa kudanya hingga ke depan pintu bersama pengantinnya." lapor seorang pelayan yang berlari masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Han Ze Xin masuk bersama Qing Xia, dia menggenggam erat tangan pengantinnya. Mereka berjalan masuk bergandengan tangan hingga tiba di depan aula upacara.
"Silakan di mulai upacaranya!" perintah Han Ze Xin kepada seorang laki-laki yang memimpin upacara pernikahan.
"Ini baru putraku!" ucap Han Ze Xuan berbangga hati melihat Han Ze Xin berhasil tiba dengan selamat dengan membawa pengantinnya.
"Pertama, hormat kepada langit!"
Han Ze Xin dan Qing Xia memberi hormat kepada langit, mereka menudukkan kepada hingga sejajar dengan pinggang.
"Kedua, hormat kepada orang tua!"
"Ketiga, pengantin pria dan mempelai wanita saling memberi hormat."
Han Ze Xin dan Qing Xia berbalik saling berhadap-hadapan, mereka lalu memberi penghormatan.
"Upacara pernikahan selesai, mempelai wanita dipersilakan untuk masuk ke dalam kamar pengantin."
__ADS_1
Sementara Han Ze Xin bertugas untuk menjamu para tamu undangan. Dia merasa kesal karena membuang-buang waktu saja. Lagi pula tamu yang di undang semuanya adalah tamu dari ayah dan ibunya.
Sementara itu, Qing Xia di temani oleh seorang pelayan wanita. Dia duduk di atas ranjang yang sudah di hiasi dengan pernak pernik berwarna merah. Selimut di atas ranjang juga berwarna merah dan tirai penutup tempat tidur juga berwarna merah cerah.
"Kenapa orang di jaman ini begitu menyukai warna merah?" benak Qing Xia.
Seorang pelayan masuk ke dalam kamar, dia mendekati Qing Xia lalu menyodorkan sebuah mangkuk berisi obat cair di depannya. "Nyonya Muda, silakan di minum dulu obatnya."
"Obat apa ini?" tanya Qing Xia penasaran. Dia langsung mual setelah melihat warna obat yang berwarna hitam pekat di dalam mangkuk.
"Ini obat untuk menyuburkan kandungan, Nyonya besar berharap Nyonya Muda akan segera hamil dan melahirkan seorang Pangeran kecil." jawab pelayan dengan wajah yang mencurigakan.
Qing Xia mengambil mangkuk dari tangan pelayan. "Aku akan meminumnya nanti ketika Han Ze Xin masuk ke kamar." elak Qing Xia mencari alasan.
"Tidak bisa Nyonya Muda, obat ini akan lebih manjur jika diminum lebih awal. Silakan di minum sekarang juga." pelayan ngotot menyuruh Qing Xia untuk segera menghabiskan obatnya.
"Huft...! Baiklah, akan ku minum sekarang!" ucap Qing Xia yang lalu mengangkat kembali mangkuk yang baru saja dia letakkan di atas meja.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^