Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Olahraga Malam


__ADS_3

Raja masuk ke kamar dengan tergesa, ia melepas jubah dan sepatu yang seharian melekat di tubuhnya.


Matanya menatap ke arah ranjang yang menampilkan istri tercintanya yang tampak tertidur lelap dengan gaun tidur yang tipis. Perlahan tapi pasti, ia merangkak naik ke ranjang dan mendekati tubuh sang istri dari belakang.


"Sayang aku merindukanmu," sang Raja memeluk ratu erat. Ia meraih tubuh sang satu yang tengah berbaring membelakanginya, "sayang aku menginginkanmu."


Ratu menggeliat dan membalikkan tubuhnya hingga tampak menghadap sang suami yang kini langsung menghujani dirinya dengan kecupan.


"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini sayang? Kau seperti seorang laki-laki yang baru menikah saja!"


Sang Raja tak menghiraukan ejekan istrinya dan mulai tak sabar membuka dan melempar seluruh bajunya, ia bahkan merobek gaun tidur sang Ratu.


"Sayang apa yang kau lakukan?" Ratu tampak terkejut dengan kelakuan suaminya yang kini tampak bagaikan singa buas yang siap menerkam.


Sang Raja menciumi seluruh tubuh sang Ratu, membuat tanda di sekujur tubuh putih mulusnya, sang Raja tampak menumpahkan rasa cintanya yang teramat dalam pada sang istri.


"Aku mencintaimu Aurora," bisik sang Raja lalu mencium bibir merah istrinya dan melakukan penyatuan layaknya sepasang suami istri.


Sang Ratu menikmati sentuhan demi sentuhan penuh cinta suaminya, walaupun terkesan lebih kasar dari biasanya, tapi ia tampak menikmati hingga terus menerus mendesah, kedua tangannya mencengkeram punggung suaminya .


"Aaah, Ron.... sayang... aah!"


Raja meneruskan olahraga malamnya hingga matahari tampak mengintip. Ia menutupi tubuh sang istri dengan selimut tebal lalu mencium keningnya. "Maaf membuatmu lelah sayang," ucap sang Raja sambil memeluk erat tubuh istrinya.


"Kau seperti kerasukan, apa yang terjadi hingga kau berubah layaknya singa yang kelaparan?" tanya Ratu dengan dengan suara sedikit serak, sambil membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat sang raja.


"Tadi aku bertemu dengan murid Arion, dan entah kenapa ia mengingatkanku pada dirimu sewaktu muda," kata sang Raja seraya menvium pucuk kepala sang Ratu. "Pada saat yang sama, ia juga mengingatkanku pada Eleanor."

__ADS_1


Bagai terkena sihir, rasa lelah sang Ratu lanhsung menghilang begitu saja, ia melepas pelukam suaminya. "Ron, jangan pernah menyebut nama Eleanor sembarangan atau kau takkan melihatku selama beberapa waktu!"


Sang Raja terdiam menatap istrinya, ia masih mengingat dengan jelas bahwa Aurora bersikeras mencari Eleanor berbulan-bulan ketika mereka kehilangan jejak sang Putri. "Maafkan aku sayang, mungkin aku terbawa suasana karena ia adalah murid Arion dan di waktu bersamaan, naga merah sangat menyukainya."


"Apa kau bilang? Arion mengangkat seorang murid? Dia bahkan menolak Elrick!" Aurora tampak terkejut hingga kini terduduk di atas ranjang. "Aku benar-benar ingin melihatnya," ucap Aurora dengan penuh harap.


"Aku mengatakan semua ini karena aku tahu bahwa dia bukan putri kita." Ron menggenggam tangan istrinya, "awalnya aku memang menduga bahwa ia adalah Eleanor, tapi pada akhirnya aku sama sekali tak merasakan energimu pada dirinya. Aku memang mengakui dia prajurit yang hebat karena tubuhnya dapat menyerap energi alam dengan sangat baik, tapi aku benar-benar tak dapat melihat energimu sedikit pun pada dirinya, sayang."


"Apa kau yakin? Aku takut kau melewatkan sesuatu, maka biarkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


Ron mengangguk melihat tekad bulat di mata istrinya, "tenanglah sayang, ia telah melakukan sumpah kesatria untuk menjadi pengawal Elrick maka kau pasti akan sering melihatnya."


"Apa? Apa kau bilang? Apa kau sudah gila?" Aurora memukuli suaminya dengan bantal.


"Ah! Kenapa kau memukulku dengan bantal?" tanya Ron sedikit kesal.


"Apa maksudmu? Aku memintanya menjadi pengawal El agar kita bisa mengawasi keduanya sekaligus dan menjaga mereka berdua tetap aman."


Aurora menggeleng, "apa kau lupa? jika seorang yang telah menyerahkan sumpah kesatrianya bisa menukar nyawanya dengan nyawa tuannya jika tuannya terbunuh lebih dulu?"


Sang Raja terpaku mendengar kata-kata istrinya, "dan sang kesatria tak bisa meminta sebaliknya."


"Kau sama saja meminta putri kita untuk mati demi Elrick! Kenapa kau tak pernah berubah? Kenapa dari dulu kau selalu ingin mengorbankan putri kita?" Air mata sang ratu mulai bercucuran.


"Sayang tenanglah, belum ada bukti bahwa Ara adalah Eleanor, selain itu selama aku masih hidup, aku bisa mencabut sumpahnya. Walaupun tadi ia menolak tapi jika memang dia benar putri kita, maka kita pasti bisa membujuknya," kata Sang Raja sambil menenangkan dirinya sendiri.


"Kau bilang tadi dia menolak?"

__ADS_1


Ron mengangguk, "sama sepertimu, tadi Arion memarahiku dan memintaku mencabut sumpah Ara, tapi Ara menolak dan mengatakan bahwa ia lebih baik mati saat bertugas melindungi Elrick."


"Itu artinya Arion tahu sesuatu!"


Ron tampak gelisah, "apakah kau yakin perlakuan Arion pada Ara bukan karena ia adalah murid satu-satunya?"


Aurora menghapus jejak air mata di pipinya lalu menatap suaminya, "walaupun kemungkinannya hanya sekecil butiran pasir, aku akan tetap berpegang pada butiran itu."


Ron menghela nafas panjang, "aku tahu kalau aku tak akan bisa mencegahmu, tapi jangan sampai kau terluka terlalu dalam jika kebenarannya tak sesuai dengan apa yang kau inginkan."


Aurora mengangguk, "tentu saja."


Sang Ratu tahu besar kemungkinannya ia akan terluka tapi akan terlalu seperti pengecut jika ia menghindar tanpa mencari tahu kebenarannya.


"Apakah ibu suri telah mengetahui tentang ini?" tanya Aurora pada Ron yang kini menata bantal sebagai penyangga duduk istrinya.


"Aku rasa ibunda belum mengetahuinya, ia belum kembali dari istana biru."


Sang Ratu menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya, ia mengaktifkan seluruh energinya dan mencoba menajamkan mata batinnya, tak berqpa lama ia membuka mata.


"Kita harus menyelesaikan teka-teki ini sebelum ibu suri kembali," Aurora memeluk lengan Ron. "Aku tidak ingin membuat ibu bersedih lagi, terutama jika menyangkut Eleanor."


"Tentu saja, ibunda selalu merasa bersalah padahal semua yang terjadi bukanlah kesalahannya." Ron menghela nafas panjang, "tapi jika Ara adalah Eleanor yang kita cari, apa yang harus kita lakukan?"


Ron tampak bingung, "bagaimana kita menjelaskannya pada Elrick dan Eleanor? Belum lagi kita masih harus waspada terhadap kutukan yang ada."


"Cepat atau lambat, kita harus mengungkap semua kebenaran pada Elrick, rasanya tak adil ketika kita menyembunyikan Eleanor dari hidup Elrick selama ini," Aurora menarik nafas panjang. "Apakah masih tidak ada cara agar kita bisa hidup berdampingan layaknya sebuah keluarga yang utuh?"

__ADS_1


Ron menarik sang Ratu ke dalam pelukannya, ia ingin memberikan harapan pada sang istri tapi mulutnya terkunci rapat, karena ia takut kata-katanya tak bisa menjadi kenyataan dan hanya akan menambah luka.


__ADS_2