
Ara berusaha menguasai kekecewaan dalam dirinya, ia terus menerus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia hanyalah seorang pengawal pribadi Putra Mahkota. Hatinya tentu sakit melihat wanita yang seharusnya memperlakukannya dengan hangat dan penuh kasih, kini tampak mengabaikannya dan hanya terfokus pada sang putra. Tapi lagi-lagi Ara mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia memang tak pernah berhak mendapatkan kasih sayang dari sang Ratu.
Perlahan Ara membuat dirinya menghilang, ia tetap berada di dalam kamar Elrick tapi memilih untuk tidak terlihat dan berdiri di pojok ruangan, berusaha menjauh tapi juga tak mengabaikan perintah tuannya. Kedua tangannya mengepal, menahan sekuat tenaga air mata yang terus mencoba menerobos benteng pertahanannya.
"Tempat itu lebih dekat dengan kediaman ibunda sehingga ibunda bisa menghemat tenaga daripada datang jauh-jauh kemari. Maka mari lakukan seperti apa yang ibunda inginkan," ucap Elrick dengan bijaksana dan tersenyum lebar menatap sang Ratu.
"Baiklah kalau begitu ibu pergi dulu," sang Ratu tampak berdiri dan berbalik meninggalakan Elrick yang membungkuk mengantarkan kepergiannya.
"Kau boleh menampakkan dirimu sekarang," ucap Elrick sambil mendudukkan dirinya lagi.
Ara kembali menampakkan dirinya dan memberi hormat, "Yang Mulia."
"Maaf jika perlakuan ibuku menyinggung dirimu Ara," kata Elrick menatap Ara.
"Hamba tidak berani Yang Mulia, tak ada yang perlu Yang Mulia cemaskan, hamba baik-baik saja." Kata-kata Elrick membuat hati Ara sedikit lebih tenang, "Yang Mulia adakah yang bisa saya lakukan untuk anda?"
"Apa kau bisa mengajariku sihir?"
Ara tak bisa menyembunyikan keterkejutan akibat pertanyaan Elrick yang tak terduga. Baru saja tadi pagi Gigas berkata bahwa keluarga kerajaan juga bisa melakukan sihir, Ara merasa aneh dengan pertanyaan sang Putra Mahkota.
"Aku tidak bisa melakukan sihir seperti keluargaku, Ara." Elrick merasa tubuhnya sedikit lemas dan berkeringat dingin, "aku berbeda dari keluargaku. Aku pikir kau harus tahu karena kau telah memberikan sumpah berhargamu untukku."
Hati Ara terasa perih mendengar kata-kata Elrick, ia menatap sang Pangeran. "Yang Mulia apa yang terjadi? Apakah Yang Mulia sakit?"
Ara mendekat ke arah Elrick dan meletakkan punggung tangannya di dahi Elrick yang penuh keringat.
"Aku baik-baik saja Ara, ini adalah efek samping yang biasa kurasakan setelah ibunda menyalurkan energinya padaku."
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi susah payah dibendung Ara, kini mengucur dengan derasnya, mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa kau menangis?" Elrick mengulurkan tangan kanannya yang bergetar dan menghapus air mata di pipi Ara.
Ara menangis lebih keras mendapati perlakuan hangat yang diberikan Elrick, ia meraih tangan kanan Elrick dan dengan perlahan diam-diam ia membuka segel dan mengalirkan energi sang Ratu yang ada dalam dirinya.
Ara membentuk barrier pelindung dan berkonsentrasi pada Elrick. "Mari saya bantu untuk berbaring, Yang Mulia."
Ara memapah tubuh Elrick yang kini basah kuyup akibat keringat dingin, tanpa berhenti mengalirkan energi dari dalam dirinya, hingga Ara membantu Elrick berbaring. Ara lalu menutupi tubuh Elrick dengan selimut, tangan kanan Ara ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung Elrick pelan, layaknya nenek Isabel yang melakukannya setiap ia hendak tidur ketika Ara gelisah.
Elrick tampak terlelap dalam tidurnya, Ara mengambil kesempatan lalu ia menyentuh ringan pucuk kepala Elrick, Ara kembali fokus mengalirkan energi merah sang Ratu pada putra mahkota.
"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu tiba," seruan keras dari arah pintu membuat Ara terkesiap.
Ara menghentikan apa yang ia lakukan, tapi ia menyadari tak ada cukup waktu untuk menyegel kembali energi sang Ratu dalam dirinya, tanpa pikir panjang Ara meninggalkan barrier pelindung dan membuat portal dengan tergesa.
"Braak!"
Ron menatap barrier pelindung yang terpasang melindungi putranya yang tampak tertidur lelap. "Dia tidur?"
Aurora menitikkan air mata melihat pemandangan yang teramat jarang ia lihat, biasanya setiap kali ia menyalurkan energinya pada Elrick, putranya itu akan merasa kesakitan dan berkeringat dingin, baru kali ini ia melihat putranya tertidur tenang.
"Keputusanku untuk menemanimu kemari ketika baru saja pergi tampaknya merupakan keputusan yang tepat."
Aurora mendekati barrier dan melekatkan tangannya pelan, "siapa yang membuatnya?"
Tiba-tiba sebuah portal terbentuk dan menampakkan Ara keluar dari portal. "Hormat hamba Yang Mulia Raja dan Ratu," ucap Ara sambil membungkuk kepada keduanya.
__ADS_1
"Apakah kau yang membuat barrier ini?" tanya Aurora pada Ara tanpa basa-basi.
"Betul Yang Mulia, hamba membuatnya agar Yang Mulia Putra Mahkota bisa beristirahat dengan tenang walaupun hanya sekejap." Ara diam-diam mengatur nafasnya yang sedikit lebih cepat akibat tergesa-gesa menyegel kekuatannya tadi. "Mohon ampuni hamba jika hamba melampaui batas Yang Mulia."
Ron tampak memberi lirikan yang sedikit tajam kepada Aurora, hingga sang istri menghela nafas dan mendekati Ara.
Sang Ratu meraih tangan kanan Ara dan menggenggamnya, "terimakasih berkat kau putraku bisa tertidur dengan nyaman tanpa rasa sakit yang selama ini ia rasakan."
"Hamba hanya melakukan tugas ha.."
Kata-kata Ara terputus ketika ia merasakan aliran energi yang menerobos masuk dari tangan sang Ratu yang menggenggamnya. Ara merasakan auranya yang tersegel kini meronta-ronta hingga ia merasakan mual yang tak terkira, kepalanya pusing dan kakinya terasa lemah, hingga akhirnya ia jatuh terduduk.
"Tidak, aku tidak boleh melepaskan segelku sekalipun aku mati!" ucap Ara di dalam hati, tapi kini kalung yang setengah mati ia sembunyikan di dadanya, berpendar merah terang.
Ratu terduduk di depannya dengan wajah khawatir dan terus mengucap maaf, sementara Ara hanya terfokus untuk mempertahankan segel, Ara juga berusaha sekuat tenaga menggunakan menutupi cahaya merah dari liontin di dadanya, ia menutupinya dengan kedua tangan.
"Ayah, ibu apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara putra mahkota membuat semua perhatian teralihkan, cahaya merah tampak berpendar dari tubuh Elrick yang kini kebingungan akibat baru terbangun dari tidur nyenyaknya yang singkat.
"Putraku, kau.." Raja menghancurkan barrier pelindung dan mendekati Elrick, ia memeluk putranya. "Akhirnya yang Kuasa mendengar doa kita, Ratuku."
Sang Ratu hanya menatap putranya dari jauh, ia masih terduduk di hadapan Ara dengan tangan yang masih menggenggam tangan gadis pengawal putranya itu.
"Apakah kau juga yang telah membuat putraku berpendar seterang itu?" tanya sang Ratu dengan suara bergetar, matanya tampak berkaca-kaca menahan air mata.
Raja dan Elrick kembali diam menunggu jawaban Ara yang kini tampak pucat pasi.
__ADS_1
"Putraku selalu kesakitan seusai aku mengunjunginya, tapi kulihat kau membuatnya tidur lelap seperti bayi. Tak hanya itu, ia bahkan terbabgun dengan cahaya merah berpendar layaknya seorang penerus yang seharusnya, cahaya yang selama ini kami nantikan, tapi kenapa semua ini terjadi setelah kau datang?"
Ratu Aurora menatap Ara penuh harap, "siapakah kau sebenarnya?"