Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
9. Naga Merah


__ADS_3

"Sebelum dia datang mencegah, aku akan menanyaimu terlebih dahulu. Apakah kau mau menjadi prngawal pribadi putraku?" tanya sang Raja pada Ara.


Ara merasa bimbang, ia diam dan berpikir dengan serius. Kejadian yang tadi ia alami, jelas-jelas merupakan kejadian yang sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan sang penerus, tapi kenapa tampaknya El tak bisa mengeluarkan sihir seperti dirinya? Apakah memang benar bahwa tubuh El tak bisa menyerap kekuatan Ratu dengan baik?


Ara dengan yakin bersimpuh layaknya seorang kesatria di hadapan sang Raja, "saya Ara murid Jenderal Arion bersumpah akan setia berada di samping Yang Mulia Putra Mahkota Elrick, saya berjanji akan menjaga keselamatan Yang Mulia walau nyawa taruhannya."


"Aku menerima sumpahmu," sang Raja mengeluarkan pedang dan meletakkannya bergantian di kedua pundak Ara. Cahaya merah bersinar terang membentuk sebuah naga raksasa keluar dari pedang sang Raja, semua mata terpana.


Sang Naga Merah memutari tubuh Ara, dan mengangkatnya ke langit, naga itu melilit tubuh Ara erat, tapi bukan rasa sakit yang Ara rasakan, melainkan rasa nyaman dan hangat, bahkan Ara merasakan tubuhnya sangat segar dan berenergi.


"Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya Arion yang tampak datang dengan tergesa-gesa.


Sang Raja tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari langit, "tampaknya kau memilih murid yang sangat hebat, hingga nagaku teramat mrnyukainya."


Arion mengikuti arah pandang sang Raja dan ia tampak terkejut bukan main, "apakah Yang Mulia memintanya memberikan sumpah kesatria?"


"Ya, aku memintanya menjadi pengawal pribadi Elrick."


"Bukankah seharusnya Yang Mulia mendiskusikan dengan hamba terlebih dulu?" Arion berkata dengan nada tinggi hingga membuat sang Raja menatapnya. "Anda pasti akan menyesali apa yang telah anda lakukan hari ini," ucap Arion dengan mata yang tampak terbakar api.


"Apa kau marah karena aku meminta muridmu tanpa ijin?" tanya sang Raja pada sahabat baiknya itu, tapi Arion hanya diam menatap langit di mana naga merah tampak membelit tubuh Ara.


"Maafkan ayah Jenderal, ayah hanya ingin melindungiku." Elrick tampak berusaha menengahi keduanya, "jika memang Jenderal tak bersedia, maka ayah bisa mencabut kembali sumpahnya."


Arion masih menatap ke arah Ara yang kini tampak menunggangi naga merah yang tampak terbang turun ke arah mereka.


"Ayahmu memang bisa mencabut sumpahnya kapanpun ia mau, tapi gadis itu tak akan pernah mau melakukannya," kata Arion dengan suaranya yang sedikit bergetar.


Sang Naga Merah mendarat dengan lembut dan membiarkan Ara turun dari punggungnya perlahan. Ara tampak bahagia dengan senyum mengembang di bibirnya, ia mendekati kepala sang naga dan membelainya lembut. "Terimakasih karena telah memberikanku pengalaman yang sangat berharga, kau membuatku bisa melihat naga yang selama ini hanya ada dalam dongeng! Kau bahkan membiarkanku naik ke punggungmu, padahal aku sangat berat! Oh terimakasih sekali," Ara memeluk kepala naga merah dengan erat.

__ADS_1


"Ara, kemarilah!"


Ara menatap ke asal suara dan menemukan Arion yang tampak memasang wajah serius. Tubuhnya sedikit bergetar karena aura Arion tampak mengintimidasi, tapi mau tak mau Ara harus mendekat ke arahnya.


"Guru," ucap Ara sambil membungkuk memberi hormat pada Arion.


"Apa kau tahu benar apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Arion dengan suara besarnya.


Bulu kuduk Ara terasa berdiri, Ara bergidik ngeri. "Apakah saya tidak boleh menunggangi dan memeluk naga merah milik Raja? Jika memang begitu, saya minta maaf guru, saya benar-benar tidak tahu."


"Hahaha... kau memang orang pertama yang bisa menyentuhnya selain keluargaku. Biasanya ia tak mau disentuh oleh orang yang tak memiliki hubungan darah denganku." Raja tampak tertawa terbahak, "apa rahasiamu hingga bisa membuat nagaku jatuh cinta seperti itu? Lihatlah ia bahkan tak kunjung masuk kembali ke pedangku! Hahaha..."


"Ehm!"


Arion berdehm keras dan seketika menghentikan tawa sang Raja.


"Tapi kenapa aku harus mencabut sumpahku?" tanya Ara bingung.


"ARA!" Arion kini tampak membentak Ara, "apa kau tahu apa itu sumpah kesatria?"


"Tentu saja guru, itu artinya saya tidak boleh mengingkari sumpah yang telah saya ucapkan, atau nyawa saya bisa melayang," jawab Ara singkat. "Guru saya tahu benar apa yang saya ucapkan, dan saya tak akan mencabut sumpah yang telah saya ucapkan. Saya tahu mungkin saya bisa mati ketika menjalankan tugas, tapi bukankah lebih baik mati saat melindungi Putera Mahkota yang teramat berharga? Guru, tolong ijinkan saya berada di samping Yang Mulia," Ara bersimpuh di hadapan Arion.


"Grrrrr......Grrrr....." naga merah yang tadi diam, kini tiba-tiba meneteskan air matanya, seolah ia tahu apa yang ada di benak Ara.


"Apa kau yakin tak akan menyesalinya?" tanya Arion lagi, kini dengan suara yang lebih lembut.


"Ya Guru, saya tidak akan pernah menyesalinya."


Tangan kanan Arion terulur menyentuh pucuk kepala Ara yang sedang bersimpuh, "kau muridku satu-satunya, maka lakukanlah yang terbaik."

__ADS_1


"Terimakasih Guru," ucap Ara seraya berdiri.


"Terimakasih nak, aku akan mempercayakan Elrick padamu," sang Raja menepuk pundak Ara pelan. "Tapi bolehkah aku minta bantuanmu lagi?"


Arion langsung melirik tajam ke arah Raja, "Apa yang mau kau minta lagi?"


"Kenapa kau menatapku seolah ingin membunuhku? Aku hanya ingin minta tolong pada muridmu untuk membujuknya masuk ke dalam pedang!"


"Tak apa ayah, biar aku saja." Elrick berjalan ke arah sang naga merah yang masih meneteskan air matanya, ia lalu membelai lembut kepala sang naga. "Kenapa kau menangis?"


"Dia menangis?" tanya Arion dan Raja bersamaan, sementara Ara dan Alardo terkejut mendengar pertanyaan keduanya.


Alardo yang sedari tadi diam, kini tampak mendekati Ara, "air mata naga merah dapat berubah menjadi kristal langka yang teramat mahal harganya, karena naga merah terkenal tak mudah menangis."


Arah mendengarkan bisikan Al di telinganya sambil mengangguk mengerti. "Maka apa yang tengah membuatnya menangis?"


Tanpa sadar Ara berlari memeluk sang naga, ia bediri berdampingan dengan Elrick yang masih mencoba menenangkan si naga merah.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis, tapi kuharap kau berhenti menangis dan berbahagialah seperti biasanya. Karena ada yang memberitahuku kalau air matamu ini teramat berharga, kumohon tenanglah."


Ara melepas pelukannya dan mengecup pipi sang naga, Elrick tersenyum melihat tingkah Ara, entah kenapa Elrick mendapati bahwa tingkah Ara tetamat lucu dan menggemaskan, mungkin sang naga pun beranggapan sama karena ia kini melingkarkan tubuhnya ke arah Ara dan Elrick, tampak seperti tengah memeluk keduanya.


"Apakah mungkin,"


Arion menunggu sang Raja melanjutkan kata-katanya, ada secercah cahaya di dalam hati Arion, hatinya penuh harapan agar sahabatnya dapat mengenali Ara yang kini tumbuh dewasa.


"Apakah mungkin Ara adalah jodoh Elrick?"


Arion langsung melirik tajam sahabatnya, "kau melenceng terlalu jauh!"

__ADS_1


__ADS_2