
"ROARRR...ROAAARRR...."
Fragmen Gentala menampakkan dirinya di langit, memusnahkan semua pemberontak dan pasukan kegelapan yang tampak seperti patung. Ia mengibaskan ekornya dengan membabi buta, dan menyemburkan api tanpa ampun.
"Duuuar...Duaarrrr.....Craashh...," langit bergemuruh, petir menyambar diiringi hujan lebat.
"Seekor Naga?" tanya Arion dengan mata membelalak. Ia tampak meragukan penglihatannya sendiri.
"Bukan seekor naga biasa, Arion!"
Arion menatap ke arah sumber suara, dilihatnya para petinggi gunung kuning mendekat dengan menaiki awan.
Ke-empat petinggi gunung kuning beserta Hyana, menundukkan kempala mereka sekejap, memberi hormat kepada Ibu Suri, Raja dan Ratu di hadapan mereka.
Ibu Suri, Raja dan Ratu tampak terkesiap, mereka dengan sigap membungkukkan badan ke arah petinggi gunung kuning, diikuti oleh klan putih.
"Gentala, sang naga pelindung tampaknya sangat murka," kata Riley memulai pembicaraan, sementara Agra, Ranu, Arva dan Hyana tampak diam di belakangnya, dalam fisik yang kelelahan.
"Apa maksudmu Riley?" Arion menelisik mata Riley penuh tanya.
"Sudah selesai tugas kami membantu kalian, selanjutnya kalian perlu menanggung sendiri buah dari semua hal yang kalian perbuat," ucap Riley yang secara langsung ditujukan pada Ibu Suri, Raja dan Ratu.
"Tetua Riley, terimakasih telah menyelamatkan kerajaan. Tapi tetua, bolehkah hamba tahu, kesalahan apa yang kami perbuat hingga membuat murka sang naga pelindung? Apa yang membuat Sang Naga terbangun penuh amarah?" tanya Raja Aaron dengan sopan pada Riley.
"Kalian bertiga benar-benar melakukan kesalahan fatal! Menutup mata atas keturunan kalian adalah hal tercela yang tidak bisa dibenarkan, aku benar-benar kecewa!"
Riley menatap mata sang Raja dengan tajam, "apapun alasanmu, menelantarkan seorang anak adalah tindakan yang terkutuk!"
"Apakah semua ini ada hubungannya dengan putri kami Eleanor?" tanya Aurora dengan mata berkaca-kaca. "Tetua, di manakah Eleanor?"
Klan putih yang mendengar ucapan sang Ratu, tampak terkejut. Mereka bingung dengan apa yang terjadi, mereka kalut dalam spekulasi yang tiba-tiba mencuat di pikiran mereka.
__ADS_1
"Tidak seharusnya seorang ibu menyakiti anak mereka," jawab Riley tajam.
Ibu Suri tiba-tiba bersimpuh di hadapan Riley, "Tetua, hamba tahu apapun alasan yang kami punya telah melukai hati sang putri, dan sama sekali tidak dibenarkan." Ibu Suri bersimpuh dengan air mata yang mengalir, "semua adalah salah hamba, tolong berikan petunjuk agar kami dapat menebus kesalahan kami, dan tolong ijinkan kami menemui Eleanor."
"KAU BILANG MAU MENEMUI YANG MULIA ELEANOR? ROOOAAAARRRR!" Gentala mendekat ke arah mereka dengan petir yang masih menyambar.
"Kalian para petinggi gunung kuning, pergilah sebelum aku berubah pikiran!" perintah Gentala menahan amarah.
"Arion, kita harus pergi sekarang!"
Arion membalas tatapan Riley, "maaf Riley, aku akan tetap berada di samping Aaron. Pergilah!"
Riley menarik nafas panjang, ia tahu bahwa ia tak dapat mengubah keputusan Arion. Riley hanya bisa mengangguk, "sampai jumpa Arion."
Ke-empat petinggi kuning beserta Hyana, menghilang dalam sekejap dari pandangan. Gentala menatap keluarga kerajaan dengan tajam, ia melepaskan auranya tanpa ampun, membuat semua orang di hadapannya jatuh berlutut, nafas mereka tampak berat bagaikan menahan beban yang tak terlihat.
"APAKAH KALIAN PUAS TELAH MEMBUAT YANG MULIA BERKORBAN?"
Langit bergemuruh dan petir terus menerus menyambar mengiringi perkataan Gentala. "Yang Mulia bahkan tak pernah merasakan memiliki keluarga yang utuh, tak pernah merasakan kasih sayang yang seharusnya ia terima, kalian pun sama sekali tak peduli, tapi kenapa selalu membuatnya berkorban?"
Elrick datang dengan menunggangi Naga Merah, "siapakah yang kau maksud hingga membuat keluargaku seolah menanggung dosa yang tak bisa diampuni?"
Elrick turun dari punggung naga merah, ia dan sang Naga Merah merasakan kekuatan Gentala, namun ia merasa masih bisa menahannya, mungkinkah karena aura merah yang baru bangkit dari dirinya setahun yang lalu? Elrick berjalan mendekat ke arah Gentala, "tolong jelaskan padaku."
"HAHAHAHAAAHA!" Gentala tertawa terbahak-bahak. "SUNGGUH MALANG NASIB YANG MULIA, IA MEMPERTARUHKAN NYAWANYA MENTRANSFER ENERGI KLAN MERAH KE DALAM DIRI SESEORANG, TAPI DENGAN BODOHNYA, ORANG ITU TAK TAHU TERIMAKASIH! BAHKAN ORANG ITU TAK TAHU KEBERADAAN DIRINYA!"
Tubuh Elrick bergetar hebat, ia manatap nenek, ayah dan ibundanya yang masih bersimpuh, wajah mereka pucat pasi, mereka bahkan tak mampu mengeluarkan sepatah kata.
"Jika kau benar, maka kekuatan yang kumiliki sekarang, bukan bangkit alami dari dalam tubuhku, melainkan pemberian seseorang?" Elrick menatap mata Gentala penuh harap.
"KAU BENAR-BENAR NAIF! BAGAIMANA BISA SEORANG PUTRA MAHKOTA TERLARUT DALAM KEBOHONGAN SEJAK LAHIR TANPA CURIGA DAN BERUSAHA MENCARI KEBENARAN? JIKA YANG DEKAT SAJA TAK BISA KAU LIHAT, BAGAIMANA KAU BISA MENGURUS RAKYATMU DI SELURUH NEGERI?"
__ADS_1
Naga merah beranjak ke hadapan Gentala, "aku tahu bahwa kau adalah naga emperor tapi tolong jangan semudah itu menilai tuanku!"
"KAU BAHKAN MENGETAHUI KEBENARAN, KENAPA KAU MALAH INGIN MEMBODOHI TUANMU?"
Naga Merah tanpa takut menatap kedua mata Gentala dan setengah berbisik, "bukan aku, tapi Yang Mulia lah yang memintaku untuk melakukannya! Aku yakin, apa yang kau lakukan sekarang, bukanlah yang diinginkan Yang Mulia, maka berhentilah Gentala!"
Gentala terhenyak, naga merah mencoba mentransfer ingatannya pada Gentala. Ia melihat Naga Merah terbang dengan Eleanor tersenyum lebar di punggungnya.
"Naga merah, kenapa kau membawaku terbang?" tanya Eleanor sambil tersenyum lebar memeluk punggung sang naga merah.
"Bicaralah, aku tahu kau menyembunyikan kemampuan bicaramu," ucap Eleanor kemudian.
"Yang Mulia, hamba bersyukur Yang Mulia kembali," ucap naga merah tulus.
"Kembali sepertinya bukan kata yang tepat." Eleanor kembali memeluk punggung sang naga merah, "siapakah namamu?"
"Reona, Yang Mulia."
"Reona, maukah kau berjanji padaku?" pinta Eleanor.
"Hamba telah bersumpah mengabdikan diri pada keluargaan kerajaan, maka hamba akan melakukan permintaan Yang Mulia dengan senang hati."
Eleanor mengusap punggung Reona, rambut panjangnya terlihat menari tertiup angin. "Reona, aku datang hanya untuk berkunjung, bukan untuk kembali."
"Tapi negeri ini membutuhkan Yang Mulia," ujar Reona menanggapi.
"Bukan aku, tapi aura merah yang ada pada ditikulah yang dibutuhkan, Reona."
Naga Merah terhenyak, ia berhenti bergerak di atas awan. "Yang Mulia.."
"Aku datang untuk menyerahkan aura ini pada Pangeran, setelah melihatnya aku yakin, bahwa ia adalah pemimpin yang dibutuhkan negeri ini kelak. Maka Reona, tolong rahasiakan jati diriku dan lindungilah keluargaku," pinta Eleanor sambil mengusap punggung Reona. "Walaupun aku tak pernah hidup bersama mereka, tapi mereka adalah orang yang berharga bagiku," ucap Eleanor lirih.
__ADS_1
"Tapi bukankah tidak adil bagi Pangeran Elrick? Ia bahkan tidak mengetahui keberadaan Yang Mulia, Pangeran sama sekali tidak tahu kalau ia mempunyai saudara kembar."
Elea memeluk erat Reona, "ia tak perlu tahu Reona, cukup biarkan ia hidup bahagia tanpa tahu keberadaanku. Aku tak ingin menjadi penghalang kebahagiaannya."