Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
TOKEN


__ADS_3

"Tapi bagaimana kalau ternyata aku adalah orang yang salah?"


"Jika Yang Mulia bukanlah orang yang tepat, maka Yang Mulia tidak akan bisa membuka segelnya," jawab Gentala.


"Kau yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi?"


Gentala mengangguk, "jikapun ada, hamba akan berjanji akan melindungi Yang Mulia."


Ara menarik nafas panjang, mau tidak mau, ia harus turun dan mencoba membuka segelnya.


"AKU TAHU KALIAN DI DALAM, KELUARLAH!!!!"


Belum sempat Ara memberitahukan keputusannya pada Gentala, gua tempatnya bersembunyi terasa bergetar hebat. Suara teriakan dari luar membuat Ara terkejut. Ara mengangguk pada Gentala, memberi isyarat untuk keluar bersama.


"Siapa kau?"


Seorang lelaki berpakaian serba putih, dengan bulu hewan tebal melekat di pakaiannya, bertanya pada Ara dengan suara yang tidak bersahabat.


Gentala dengan cepat bergerak ke depan Ara, seolah membentengi Ara dari kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.


"Roooarrrr...Rooooaaarr..... Jaga bicaramu!" Seru Gentala memberi peringatan.


Mendengar peringatan Gentala, serigala putih raksasa melakukan hal yang sama, ia bergerak ke arah depan tuannya dengan sepasang mata penuh ancaman.


Ara mengamati situasi yang sedang terjadi di depannya, ia sungguh membenci pertarungan, ia tak mau mencium bau darah hari ini. Mata Ara menatap ke arah serigala putih yang kini berhadapan dengan Gentala, Ara sangat yakin bahwa serigala ini adalah serigala yang ia lihat beberapa saat yang lalu, serigala yang diam berjaga di pintu gua tempat inti kekuatan klan merah berada.


Mata Ara kembali bergerak, kini menatap pemuda di balik serigala, Ara menajamkan pandangannya hingga Ara melihat aura putih suci menguar dari dalam diri si pemuda, putih tanpa noda.


"Melihat dari auramu, tampaknya kau berasal dari klan putih." Ara melangkah maju hingga berada di samping Gentala. "Maka seharusnya akulah yang bertanya, siapa kau?" tanya Ara dengan memperlihatkan aura merahnya.

__ADS_1


Pemuda klan putih tampak terperanjat melihat aura merah yang terasa mengintimidasi, "kau... kau klan merah?"


"Di mana keangkuhanmu tadi?" gertak Ara sambil memicingkan mata, mencoba agar tampak seram. "Bukankah jika ada yang bertanya, maka kau harus menjawab?"


Serigala putih tiba-tiba menekuk kakinya, seolah memberi hormat kepada Ara. "Kami memang berasal dari klan putih, kami ditugaskan untuk menjaga gunung kebenaran hingga pemiliknya tiba," jawab serigala putih dengan sopan.


Mendengar serigala di depannya, sang pemuda ikut berlutut, "kami tidak bisa menjelaskan lebih jauh, hanya tuan kamilah yang berhak menjelaskannya pada anda, nona."


Perubahan sikap keduanya membuat Ara melongo, ia pikir keduanya akan bersikeras menentangnya, tapi malah sebaliknya. "Apakah aku bisa bertemu dengan tuanmu?"


"Tentu, Nona."


Tak lama setelah si pemuda menjawab, angin bertiup kencang, diikuti suara kepakkan sayap yang semakin mendekat.


"Apakah itu tuan kalian?" tanya Ara seraya melihat serigala putih raksasa dengan sepasang sayap yang lebar.


"Betul, nona."


Ara merasa sosok laki-laki itu tampak tidak asing, matanya terus mengikuti pergerakan serigala bersayap yang kini mendarat di depan gua. Laki-laki di punggung serigala tampak bergegas turun, Ara terus mengamati, hingga sepasang mata biru menjawab rasa penasarannya.


"Alardo!" gumam Ara lirih menatap laki-laki yang kini berjalan ke arahnya.


"Tuan," seru serigala raksasa dan pemuda yang tengah berlutut di hadapan Ara.


Al terus berjalan mendekati keduanya, ia membantu si pemuda berdiri, lalu mengusap lembut tubuh serigala raksasa dan membuatnya bangkit.


"Jadi, apa yang kalian temukan? Luke? Olsen?" tanya Alardo pada keduanya.


Tak ada jawaban yang bisa di dengar Ara, maka Ara berspekulasi bahwa keduanya menjawab lewat telepati.

__ADS_1


Gentala kembali melingkupi tubuh Ara, seolah ingin menjadi tameng dan melindunginya. "Bukankah kau datang karena kami?" suara Gentala menggema di dalam gua.


Pandangan Al berasil teralihkan ke arah Gentala yang kini membuat tubuh Ara tak terlihat di belakangnya. "Kenapa kalian, klan putih berada di sini?" tanya Gentala dengan suaranya yang menggelegar.


Al tersenyum, tetap tenang dan menatap lurus ke arah mata Gentala. "Sulit dipercaya bahwa hari ini aku bisa bertemu dengan naga emperor yang dikabarkan telah lama punah. Dalam sebuah kitab ramalan milik klan putih disebutkan bahwa 'akan datang seekor naga terdahulu dengan seorang ratu agung yang akan kembali membangkitkan inti kekuatan klan merah'. Melihatmu adalah sebuah wujud dari ramalan yang menjadi nyata, maka di manakah ratu agung yang juga disebutkan di dalam ramalan?"


Ara tetap diam mengamati di belakang tubuh Gentala, ia mencoba menerka-nerka mengenai situasi yang terjadi di hadapannya, sementara Gentala mulai tersulut emosi. Gentala menghembuskan nafasnya kasar, seketika udara di dalam gua menghangat akibat nafas panas sang naga.


"Katakan apa niatmu! Apa niat klanmu yang sebenarnya? Aku tidak akan pernah tertipu lagi oleh klan-klan busuk seperti kalian!" Gentala mulai terbawa emosi, ia tampak mengingat kehancuran klan merah.


"Mungkin karena kau tertidur terlalu cepat, kau tidak mengetahui bahwa klan putih tidaklah termasuk dalam klan busuk yang kau sebutkan."


Gentala memicingkan matanya, "apa yang akan kau lakukan untuk membuatku mempercayai kata-katamu?"


Al tersenyum seolah tahu apa yang diinginkan oleh Gentala, ia merogoh ke dalam saku rahasia di dalam bajunya, dan mengeluarkan sebuah token lingkaran dengan aura merah yang menyala. Al menyodorkan token itu ke depan wajah Gentala, seketika sebuah suara terdengar menggema, token emas berukir naga kini melayang di atas kepala Gentala.


"Gentala, akhirnya kau datang juga!"


Tubuh Gentala bergetar hebat, Ara pun merasakan hal yang sama. Suara yang ia dengar, seperti membangunkan aura merah dalam tubuhnya.


"Jangan salah paham, setelah aku menidurkanmu, istriku, putraku dan klan putih datang membantuku, mereka menyelamatkan putriku dan cucu-cucuku. Karena merekalah aku bisa pergi dengan tenang, mereka juga berjanji untuk menjaga inti kekuatan klan merah hingga kau tiba bersama ratu agung keturunanku."


"Tuanku," ucap Gentala lirih.


"Jangan bersedih Gentala, belum waktunya kita bertemu kembali. Tolong lindungi dan temanilah cucu agungku seperti apa yang dulu kau lakukan padaku, hanya kau yang bisa kupercaya sepenuhnya, tolong jaga ia untukku, Gentala."


Hati Ara bergetar hebat, air matanya menetes jatuh ke pipi mulusnya. Setelah menginjakkan kaki di dunia asalnya, baru kali ini ia mendengar seseorang memohon untuknya. Selama ini Ara merasa tidak diharapkan dan tidak seharusnya hidup, tapi hari ini tiba-tiba, ia mendengar seseorang memohon demi dirinya.


Gentala menundukkan kepalanya, "hamba berjanji akan melindungi Yang Mulia hingga akhir nafas hamba, Tuan."

__ADS_1


Mendengar ucapan Gentala, air mata Ara jatuh bertambah deras, seolah pertahanannya runtuh.


__ADS_2