Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Inti Kekuatan Klan Merah


__ADS_3

"Duuuuuarr.....duuuuaaaarr....duaaaar..." suara petir dan kilat menyambar, diikuti hujan deras.


Ara masih memeluk erat punggung Gentala, badannya basah kuyup. Matanya mencoba beradaptasi di tengah hujan lebat, tepat setelah Gentala membawanya melewati dinding pembatas, Gunung yang tampak indah dengan lava di kawahnya, kini terselubung awan hitam.


"Gentala, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba cuacanya berubah drastis?" tanya Ara cemas.


"Yang Mulia lihatlah," Gentala memutari kawah, menembus awan hitam.


Ara menajamkan pandangannya, di pucuk gunung, tepat di samping kawah, tampak seekor serigala putih raksasa, ukurannya sepuluh kali lipat serigala biasa yang pernah Ara lihat. Serigala putih itu tampak diam tak bergerak, bagaikan seorang prajurit yang sedang berjaga.


"Tampaknya seseorang telah mendahului kita, Yang Mulia."


Ara mengerjap beberapa kali, "bukankah kau bilang hanya kita yang bisa menembus pelindung?"


"Ya, benar Yang Mulia." Gentala menambah ketinggiannya dan bersembunyi di balik awan hitam. "Hamba tidak berbohong ketika hamba mengatakan bahwa hanya kita berdua yang dapat menembus pelindung, maka siapapun yang ada di bawah sana adalah orang yang tak diundang."


Gentala tampak menemukan sebuah tempat mendarat yang aman dari jangkauan serigala putih karena terletak di balik aean hitam yang pekat.


Ara segera turun dari punggung Gentala, tepat di hadapannya tampak sebuah gua raksasa yanv bahkan dapat menampung Gentala di dalamnya. Ara melangkah memasuki gua dengan waspada, air menetes deras dari bajunya yang basah. Gentala mengikutinya perlahan, "Yang Mulia, kita tidak punya banyak waktu."


Ara menjentikkan jari, memakai sihirnya guna menyalakan api unggun, tak selesai sampai di situ, ia kembali menggunakan sihirnya untuk mengeringkan pakaian dan tubuhnya. Setelah semua terasa kembali normal, ia menatap Gentala.


"Tolong jelaskan padaku," kata Ara pada Gentala.


"Yang Mulia, tempat ini adalah Gunung Kebenaran, tempat tersimpannya rahasia utama klan merah."


"Klan merah?" tanya Ara bingung.

__ADS_1


Gentala tampak menganggukkan kepalanya, "Yang Mulia adalah penerus berdarah murni dari klan merah. Tuan hamba terdahulu berpesan agar hamba membawa Yang Mulia kemari agar Yang Mulia dapat mengamankan rahasia klan yang tersimpan di sini."


Mata Ara melebar serasa ingin keluar dari cangkangnya, "kau bilang aku penerus berdarah murni klan merah?"


Gentala mengangguk tanpa ragu.


"Kita tidak punya banyak waktu, Yang Mulia."


Ara menarik nafas panjang, "baiklah, kau bisa menjelaskannya nanti. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"


"Hamba akan menjelaskannya dengan cepat," jawab Gentala.


"Rahasia klan merah adalah inti murni dari kekuatan klan, tuan menyegel inti kekuatan klan untuk menyelamatkan klan dari kepunahan. Dahulu klan merah merupakan klan terkuat di muka bumi dan sangat ditakuti oleh klan lain, hingga suatu ketika jumlah wanita dalam klan menipis, dan akhirnya tak ada wanita dalam klan, mau tidak mau, untuk meneruskan keturunan, anggota klan harus menikah dengan klan lain, namun klan lain teramat takut dengan kekuatan yang dimiliki klan merah."


Gentala tampak menerawang jauh ke masa lalu. "Akhirnya semua klan mendesak klan merah untuk membuat perjanjian, mereka meminta klan merah untuk menyegel kekuatan murni mereka. Jika klan merah menepati syarat tersebut, maka semua klan menerima klan merah dengan tangan terbuka."


"Tuan merasa curiga dan menunda memberikan jawaban, diam-diam ia meninggalkan klan merah dan menyamar menjadi anggota klan lain, lalu menikahi seorang wanita dari klan putih," Gentala tampak mulai tak bersemangat.


"Tak lama setelahnya wanita itu dikabarkan mengandung, tuan pun setia menemani di sisinya, hingga suatu malam bulan purnama, sepasang bayi kembar lahir dengan tangisan yang menggemparkan klan putih."


Tubuh Gentala tampak bergetar hebat, "malam itu bayi laki-laki memancarkan aura putih suci ciri khas klan putih, sementara bayi perempuan memancarkan aura semerah darah, ciri khas klan merah. Wanita itu pun terkejut dan merasa dibohongi oleh tuan, ia merasa ketakutan akan hadirnya tuan dan putri yang ia lahirkan sendiri."


"Tuan berusah memberi pengertian dan memohon pada istrinya, tapi istrinya gelap mata dan mengutuk putrinya sendiri."


"Ia mengutuk putrinya sendiri?" Ara terkejut hingga tak percaya akan kata-kata Gentala, bagaimana bisa seorang ibu mengutuk anak kandungnya?


"Tidak akan ada bayi laki-laki yang menjadi penerus klan merah, dan semua keturunan kembar yang lahir dari putrinya, tidak akan pernah bisa hidup berdampingan."

__ADS_1


Gentala menirukan kutukan yang muncul di kepalanya, "sejak saat itu, tuan terpaksa berpisah dengan istri dan putanya, ia membawa putrinya kembali ke klan merah."


"Namun sesampainya di klan merah, ia menemukan semua anggota klan terbaring tak bernyawa, tanah pun berubah semerah darah, asap terlihat di seluruh penjuru klan dengan semua bangunan hangus terbakar. Malam itu tuan menyadari bahwa ia terlambat pulang, semua anggota klan binasa setelah mereka memutuskan untuk menyegel kekuatan murni mereka. Klan merah dikhianati oleh klan lain yang bersekutu untuk membinasakan mereka, perjanjian yang ditawarkan hanyalah omong kosong belaka agar klan merah dapat dikalahkan dengan mudah setelah kekuatan mereka tersegel."


Gentala meneteskan air mata, "tuan sempat putus asa dan menyalahkan dirinya sendiri, hingga tangisan sang putri menyadarkannya."


"Tuan memilih bersembunyi dan membesarkan putrinya, ia tinggal berpindah-pindah, hingga suatu ketika ia menemukan bahwa saudara-saudaranya dahulu, ternyata mengumpulkan inti klan merah di bawah gunung kebenaran."


"Tuan merahasiakan letak inti klan merah hingga berhasil melihat putrinya mengandung, tetapi ketika sang putri melahirkan sepasang bayi kembar, bencana kembali terulang bahkan lebih parah, saat itu hamba terluka parah. Sebelum tuan menidurkan hamba, ia menghabiskan seluruh kekuatannya untuk menyegel gunung kebenaran ini, setelahnya ia mengantarkan hamba ke danau mutiara dan membuat hamba tertidur, sehingga hamba tak tahu apa yang terjadi setelahnya."


Hati Ara terasa sakit, "maka kau tak tahu apa yang terjadi dengan cucu kembar tuanmu?"


Gentala menggeleng pelan, "hamba tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tapi melihat Yang Mulia, hamba yakin cucu tuan selamat sehingga hamba bisa melihat Yang Mulia berdiri di hadapan hamba hari ini dengan darah murni klan merah di tubuh Yang Mulia."


Ara menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, "jadi apa yang kau ingin aku lakukan dengan inti kekuatan klan merah?"


"Sudah saatnya Yang Mulia melepaskan segelnya," jawab Gentala.


Mata Ara kembali membulat, "kau ingin aku melepas segelnya?"


Gentala mengangguk, sementara Ara berpikir di dalam otaknya. Jika ia merupakan keturunan berdarah murni sesuai cerita Gentala, bukankah energinya tak ikut tersegel? kenapa ia harus melepas segelnya?


"Hamba tahu apa yang ada di pikiran Yang Mulia, kekuatan Yang Mulia memang tidak tersegel, tapi seiring berjalannya waktu, kekuatan inti di tubuh Yang Mulia semakin berkurang jika dibandingkan dengan inti kekuatan klan merah yang sebenarnya."


"Hamba meyakini bahwa anggota klan merah sengaja mengamankan energi mereka, agar apabila sesuatu yang buruk terjadi, mereka masih bisa mewariskannya pada penerus mereka, maka inti kekuatan klan merah adalah hak Yang Mulia."


Ara mengulangi ucapan Gentala, "inti kekuatan klan merah adalah hakku?"

__ADS_1


__ADS_2