Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Eleanor


__ADS_3

"Di mana aku?" Elea membuka matanya, ia merasa tubuhnya melayang, benaknya terasa hampa dan hanya ada kegelapan yang menyapa.


"Apakah aku sudah mati?" suara Elea menggema bagaikan berada di dalam gua.


"APA YANG KAU INGINKAN?" tiba-tiba suara lantang bergema, membuat Elea terkejut.


"Siapa kau? Di mana aku?" tanya Eleanor menimpali.


"APA YANG KAU INGINKAN?" suara itu berulang, tanpa menjawab pertanyaan Elea.


"APA YANG KAU INGINKAN?" tanya suara itu lagi.


Elea mencoba berpegang pada kesadarannya, ia mendudukkan dirinya dan menenangkan pikirannya, sementara pertanyaan itu terus berulang menghantuinya setiap menit.


Potongan-potongan peristiwa yang terjadi mulai terangkai kembali, Elea mulai memahami semua hal yang terjadi. Tapi ia yakin kalau dirinya belum sepenuhnya mati, Elea berpikir, mungkinkah menjawab pertanyaan yang menggema dengan benar, dapat menyelamatkan nyawanya?


"APA YANG KAU INGINKAN?"


Elea mengulang pertanyaan itu pada dirinya sendiri, "apa yang aku inginkan?"


Elea teringat akan keluarga kerajaan, petinggi gunung kuning, Gentala, Arion, Alardo dan bibi penyihir. "Aku ingin orang-orang yang kucintai hidup bahagia," jawab Elea.


"APA YANG KAU INGINKAN?"


Tapi tampaknya jawaban yang Elea berikan bukanlah jawaban yang tepat, pertanyaan menggema itu kembali berulang setiap menit.


"Apakah jawabanku salah? Tapi itu adalah hal yang benar-benar aku inginkan." Elea menatap sekeliling berharap ada jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan, tapi bukannya jawaban yang ia dapatkan, melainkan pertanyaan menggema yang kembali berulang.


Elea terus menerus mencoba bertahan dengan pertanyaan menggema yang terus berulang, ia bahkan tak tahu berapa lama ia telah terjebak dalam ruang kegelapan. Ia terus berpikir, jawaban apa yang sekiranya benar.


"Apa yang aku inginkan?" tanya Elea pada dirinya sendiri seraya berpikir dengan keras. "Apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan jawaban apa yang benar?"


Elea mulai kesal dan putus asa, "jawaban pertama yang benar-benar aku inginkan telah dianggap salah, lalu apa yang benar?"


"Aku hidup, aku bernafas, aku punya keluarga dan orang-orang yang berharga di sekelilingku, aku juga punya kekuatan, bukankah sudah lebih dari cukup?" Elea memutar bola matanya. "Apalagi yang aku inginkan? Atau apa yang biasanya diinginkan oleh orang lain?" Elea berdialog dengan dirinya sendiri, berpikir keras mencoba menemukan jawaban yang tepat.


Elea ingat sewaktu hidup dengan nenek Isabel, orang-orang di dunia itu berlomba-lomba untuk menjadi yang terkaya atau yang paling berkuasa.

__ADS_1


"Apakah aku ingin kekayaan?" Elea menggeleng cepat, kekayaan tidak ada artinya tanpa kebahagiaan, banyak orang kaya yang ia lihat penuh dengan kepalsuan.


"Apakah aku ingin kekuasaan?" Elea kembali menggeleng cepat. "Elrick adalah calon pemimpin yang tepat, aku sama sekali tidak menginginkan tahta."


"Lalu apa yang aku inginkan?"


Elea tak tahu lagi harus mencari jawaban ke mana, ia mengingat kehidupannya hingga sekarang. Ia bertemu dengan banyak orang, ia melalui banyak hal, tapi pertama kalinya ia menangis setelah dewasa adalah saat nenek Isabel meninggal. Elea tiba-tiba teringat perkataan nenek Isabel padanya, perkataan yang seringkali nenek ulangi untuknya. Ketika ia memiliki hari libur, ia sering menikmati waktu bersama nenek Isabel di villa. Ketika senja mulai datang, Elea selalu menyenderkan kepalanya di paha nenek Isabel, bersama melihat matahari yang mulai beranjak pergi. Nenek Isabel selalu mengelus rambut Elea pelan dengan penuh kasih sayang, dan ia selalu berkata:


"Ara, memang penting memikirkan orang lain sebelum memikirkan dirimu sendiri. Namun, sebelum kau melakukannya, kau juga perlu memastikan bahwa dirimu bahagia lebih dulu."


Suatu kali Elea pernah menimpali, "aku punya nenek yang selalu ada untukku, dan aku bahagia karenanya."


"Lalu jika nenek tak ada di sampingmu lagi, apakah itu artinya kau tak lagi bahagia?"


Elea membuka matanya dan menatap nenek Isabel, "nenek akan selamanya di sampingku, nenek tidak boleh pergi ke mana-mana!"


Saat itu Elea mengingat senyuman yang terlukis di wajah nenek Isabel, "nenek memang akan selalu di sampingmu, namun ketika saatnya tiba, kau berhak menemukan kebahagiaanmu yang baru."


Elea mengerjapkan matanya beberapa kali, ia kembali dari kenangannya dengan nenek Isabel. Elea berbisik pelan, "apakah aku belum bahagia? Apakah aku ingin bahagia? Kebahagiaan macam apa yang aku inginkan?"


"APA YANG KAU INGINKAN?"


Elea menunggu pertanyaan yang sama kembali berulang, tapi hanya sunyi yang menyapa. "Pertanyaannya tak lagi berulang, apakah jawabanku benar?"


Tapi tetap tak ada yang menjawabnya, "hmm... Maaf aku yang bodoh telah bertanya, padahal aku sudah tahu pasti kalau tak ada orang lain di sini."


"Kreeeek..."


"Apa itu? Siapa di sana?" Elea bertanya karena terkejut mendengar suara layaknya pintu tua yang berderit.


"Kriiiieeeeeet...." suara yang sama kembali berulang, Elea mencoba mencari sumber suara, hingga ia menemukan cahaya yang mulai berangsur masuk ke dalam ruang gelap yang selama ini menjebaknya.


"Lama tak jumpa, Eleanor!"


Elea menatap kaget, "kau...kau...bagaimana mungkin?"


Elea berdiri dari tempat duduknya, dengan langkah gontai ia mulai menghampiri sosok yang ada di hadapannya. "Ini tidak mungkin! Siapa kau?"

__ADS_1


Elea mengelilingi sosok itu, ia mengedarkan pandangannya, mengamati setiap inchi lekuk tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memiliki wajah dan tubuh sepertiku?" Elea menatap lurus ke arah sosok itu. "Apa kau juga kembaranku? Apa sebenarnya kita kembar tiga? Bukan kembar dua?"


Sosok itu tersenyum lebar, "tidak Eleanor, kembaranmu hanyalah Elrick seorang."


"Lalu siapa dirimu? Kenapa kau sangat mirip denganku?"


Sosok itu mendekati Elea, ia mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam kedua tangan Eleanor sambil saling berhadapan.


"Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku, karena kita adalah Eleanor," jawab sosok itu membingungkan.


"Tolong jangan bermain teka-teki lagi denganku, aku sudah cukup lama terkurung dan menguras tenagaku menjawab pertanyaan berulang. Kalau aku haris memecahkan teka-teki setelahnya, kurasa aku tak sanggup lagi," jawab Elea dengan menggerutu.


Sosok itu kembali menampilkan senyum di wajahnya, "aku tidak ingin bermain teka-teki denganmu, aku hanya ingin membawamu kembali."


"Kembali?"


Sosok itu mengangguk, "dan untuk kembali, kau harus mengijinkanku untuk bersatu denganmu lebih dulu."


"Bersatu? Kenapa kau ingin bersatu denganku? Bagaimana caranya?" tanya Eleanor kebingungan.


Sosok itu mempererat genggamannya, "karena kau tanpa aku, bukanlah Eleanor."


Eleanor menatapnya penuh tanda tanya, sosok itu melepas genggaman tangannya, ia beralih memeluk Eleanor. "Pejamkan matamu Eleanor, sebentar lagi apa yang kau inginkan akan terwujud."


Elea memejamkan matanya seperti apa yang di perintahkan, ia merasakan pelukan yang hangat. "Eleanor, ingatlah bahwa kau berhak bahagia."


"CRAAAAAAASHHH!"


Elea merasa sesuatu yang hangat menjalar di seluruh tubuhnya, benaknya yang hampa kini terasa penuh, inderanya yang tadinya tumpul kini terasa sensitif, dan ia kembali bisa merasakan aura yang lama menghilang.


Elea membuka matanya perlahan, ia mengerjap beberapa kali, pandangannya dipenuhi tiga sosok yang tersenyum lebar.


"Kau kembali!" seru ketiganya bersamaan


Elea membalasnya dengan tersenyum, "aku kembali."

__ADS_1


__ADS_2