Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Gunung Kuning


__ADS_3

Ara menatap seorang wanita di hadapannya, air matanya kembali mengalir deras, tanpa memperdulikan sekitarnya, Ara langsung berlari dan memeluk wanita di hadapannya, ia meluapkan semua emosi yang sebelumnya tertahan.


"Nona," ucap wanita itu lirih dalam pelukan Ara.


"Sebentar saja.. tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja.." ucap Ara seraya terisak.


Wanita itu mengangguk pelan, dan memenuhi permintaan Ara, ia membiarkan Ara menangis dalam pelukannya. Ia pun mengulurkan tangan kanannya dan menepuk-nepuk punggung Ara pelan, memberi sedikit dukungan agar Ara bisa mengatasi kesedihannya. Lama Ara menangis hingga membuat baju wanita itu basah.


"Apakah belum selesai?" tanya wanita itu penasaran.


Seketika Ara melepas pelukannya dan menatap wanita di depannya, "maaf.. kau sangat mirip dengan sahabatku, kukira ia datang menemuiku, tapi sekarang aku sadar bahwa aku salah mengenalimu."


Wanita di hadapan Ara tampak tersenyum simpul, ia menyodorkan sebuah sapu tangan pada Ara.


"Terimakasih, " ucap Ara sambil menerima sapu tangan putih bersulam bunga matahari di ke empat ujungnya. Ara mengelap sisa air matanya, ia pun mencoba mengatur nafasnya.


"Anda semakin tampak menawan, nona."


Ara menatap wanita di hadapannya, awalnya ia mengira bahwa wanita itu adalah Vivi yang berambut panjang, tapi setelah diamati Ara menemukan beberapa perbedaan. Orang di hadapannya bagaikan peri bunga dalam dongeng, sangat cantik dengan rambut perak panjang, mata coklat terang, dan gaun kuning panjang yang melekat di tubuhnya, membuatnya tampak elegan dan berkelas.


"Saya yang seharusnya berkata demikian, maaf saya terlalu tidak sopan di awal perjumpaan kita tadi," ucap Ara sambil sedikit membungkuk.


"Tidak nona, saya tahu perjuangan anda sangatlah berat, bahkan jika saya berada di posisi anda sekarang, saya tidak yakin bahwa saya masih hidup."


Ara menarik nafas pendek dan menatap mata wanita di depannya, "bagaimana anda bisa mengetahui perjuangan saya? Saya pikir kita bertemu untuk peetama kalinya hari ini."


Wanita cantik itu tersenyum, "saya tidak bisa menjelaskannya kepada anda nona, tapi setidaknya ketahuilah bahwa saya tidak akan pernah mencelakai anda."


"Bagaimana anda bisa yakin dengan hal itu? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." Pikiran dan hati Ara sama bergejolaknya, "karena terkadang waktu bisa membinasakan keyakinan seseorang."

__ADS_1


Wanita itu kembali tersenyum, "perkenalkan saya Hyana."


Ara menatap Hyana yang kini mengulurkan tangannya, Ara menerima uluran tangan Hyana walaupun dirinya sedikit ragu.


"Ara," kata Ara sambil melepas tangannya.


"Tidak," Hyana kembali menarik tangan Ara dan menjabatnya. "Mulai saat ini nama anda di gunung kuning adalah Gienka."


Mata Ara melebar akibat terkejut dengan apa yang didengarnya, "kenapa? kenapa aku harus menggunakan nama itu?"


"Karena tidak akan ada yang mengenali anda sebagai nona Ara." Hyana melepas tangannya dan mengibaskannya di hadapan Ara, hingga muncul sebuah cermin tepat di depan Ara.


"Ap..apa yang sebenarnya terjadi?" Ara memegangi wajahnya dengan bingung di depan cermin, wajahnya benar-benar berubah. Matanya yang tadinya coklat dan terkadang merah kini berubah menjadi hitam pekat, rambutnya berubah menjadi biru bergelombang bagaikan ombak di lautan, alisnya melengkung sempurna, bahkan bibirnyapun berubah menjadi semerah darah. Wajahnya berubah lebih tirus dan menjadi teramat cantik, kulitnya bersinar terang seolah ada matahari di belakangnya, bukan lagi cahaya merah dari energi ibunya.


"Sepertinya alam telah memilih ratunya sendiri," ucap Hyana dengan pandangan fokus ke arah cermin yang kini mulai menampakkan sebuah mahkota bunga yang melingkari kepala Ara. Bagaikan sihir, baju Ara berubah menjadi gaun berwarna coklat tanah yang cantik dengan jubah hijau bagaikan dedaunan, dan sepatu kaca sebening air, angin pun tak mau kalah mengangkat tubuh Ara hingga kakinya tak kotor menapak tanah, awan kecil terbang di atas kepala Ara seolah takut jikalau Ara terbakar sinar matahari. Cambuk yang tadinya melingkar di pinggangnya, kini berubah menjadi sebuah tongkat emas dengan simbol air, tanah, angin, kayu dan api terpatri di gagangnya.


Hyana terkesiap dan langsung membungkukkan diri, "hormat kami Yang Mulia Ratu."


Ara membalikkan tubuhnya, dan seketika menemukan asal suara yang membahana, ia tak menyadari sebelumnya bahwa ada orang lain selain Hyana yang menyambutnya. Ara tampak terkejut mendapati kerumunan makhluk di hadapannya yang bersorak sorai ke arahnya, kelopak bunga bertebaran bagaikan hujan, terlihat wajah penuh senyum yang menarik perhatian Ara.


"Apa yang terjadi? Siapa mereka?" tanya Ara masih dengan kebingungan yang mendominasi.


"Ijinkan saya menjelaskannya Yang Mulia."


Ara kembali terkesiap mendapati wajah familier yang kembali muncul di hadapannya. "Paman Braidley?"


"Benar, Yang Mulia." Paman Braidley membungkuk, lalu menjentikkan jarinya. "Inilah wujud asli saya Yang Mulia, dan mulai saat ini Yang Mulia bisa memanggil saya Riley," ucap Paman Braidley yang telah menampakkan wujud aslinya.


Ara mengerjapkan matanya, sejak tiba di gunung kuning, ia disuguhkan dengan sihir-sihir menakjubkan yang tak henti-hentinya membuatnya terkejut, belum sembuh dari keterkejutan akan perubahan dirinya sendiri, kini ia dihadapkan dengan perubahan wujud Paman Braidley menjadi seorang pemuda yang tampak bak titisan dewa dengan rambut coklat panjang yang dibiarkan terurai, kulit sawo matang yang manly dan ia mengenakan baju menyerupai rompi tanpa lengan yang menampilkan otot perut dan otot lengannya yang sempurna. Ketampanannya tak diragukan lagi, sementara tangan kanannya tampak memegang sebuah tongkat kayu berukir naga, "hamba bertanggung jawab akan elemen kayu di gunung ini, Yang Mulia."

__ADS_1


Ara beralih menatap Hyana, "jika Paman Bradley adalah Riley, maka kau adalah Vivi bukan?"


Hyana tersenyum, "benar Yang Mulia. Hamba Vivi, namun nama asli hamba adalah Hyana dan hamba merupakan bawahan tuan Riley yang bertanggung jawab atas tumbuh dan mekarnya bunga di Gunung Kuning."


Mata Ara berkaca-kaca, ia telah kehilangan harapan untuk kembali ke dunianya, tapi kebaikan Yang Kuasa sungguhlah tak terduga, siapa sangka orang-orang terdekatnya kini berada di sampingnya.


"Siapa dia? Kenapa kau menarikku ke sini?"


Ara menatap ke arah seorang pemuda berambut pendek, ia hampir mirip dengan Riley tapi penampilannya tampak jauh lebih mewah. Ia memakai baju berwarna emas dengan jubah panjang bersulam sebuah bola coklat berkilau, ia pun mengenakan kalung dengan liontin yang nampak seperti globe namun berwarna coklat seutuhnya.


Riley memukul kepala pemuda itu dengan tongkatnya, "membungkuklah pada Yang Mulia atau aku akan menghukummu!"


"Yang Mulia? Apakah Yang Mulia telah kembali? Di mana dia?"


"Di depanmu, Agra!"


Pemuda yang dipanggil Agra menatap mata Riley yang tampak tajam, lalu ia menatap ke arah Ara lalu ia tampak mengedarkan pandangannya dari ujung kepala hingga ujung kaki Ara.


"Aku akui kalau anda cantik tapi aku tidak akan pernah membungkuk pada makhluk lemah seperti anda," ucap Agra berbisik di telinga Ara.


Ara terkesiap dengan keberanian Agra melakukan penolakan padanya di saat semua orang membungkuk dan memberi hormat. Ara tersenyum, ia lalu mendekatkan dirinya ke arah Agra dan balas berbisik.


"Kau benar, bagaimana bisa makhluk lemah sepertiku menjadi seorang ratu bukan? Sepertinya mereka salah orang, maukah kau membantuku meluruskan kesalahpahaman ini?" ucap Ara lirih dengan sedikit memohon.


Tapi bukan jawaban yang Ara dapatkan, melainkan Agra yang jatuh tersungkur di hadapannya seolah sedang duduk bersimpuh.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau baik saja?" tanya Ara khawatir, ia hampir membungkuk dan memeriksa keadaan Agra ketika suara isak tangis mulai terdengar.


"Ampuni hamba Yang Mulia, hamba tidak berani. Hamba tahu hamba salah, hamba tidak akan pernah lagi mempertanyakan Yang Mulia, hamba berjanji. Tolong ampuni hamba Yang Mulia.."

__ADS_1


Ara hampir melongo karena sikap Agra yang berubah sepersekian detik, apa yang terjadi? Ia menatap Riley dan Hyana bergantian, tapi keduanya malah memberinya senyuman manis. Ara menghembuskan nafas panjang dan membuang pandangannya ke langit.


__ADS_2