Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Taman Wisteria Ungu di tengah Danau Mutiara


__ADS_3

"Selamat datang Yang Mulia," ucap Kelima petinggi Gunung Kuning beserta Hyana bersamaan, mereka memberi hormat pada Ibu Suri, Raja, Ratu dan Pangeran Mahkota Elrick yang datang berkunjung.


"Apa yang ingin para tetua sampaikan hingga mengundang kami ke Gunung Kuning yang indah ini?" tanya Aaron sang raja.


"Sebenarnya bukan kami yang mengundang," jawab Riley dengan senyum simpul.


Ibu Suri menangkap sesuatu yang tak wajar, wajah Riley memang menampakkan senyum, tapi tatapan matanya seolah menyiratkan duka yang mendalam.


"Tetua Riley, siapakah gerangan yang telah memberikan kami undangan?" tanya ibu suri penasaran.


Riley menatap Arion, lalu mengangguk pelan.


"Mari ikuti hamba, Yang Mulia. Seseorang tengah menanti di tengah danau mutiara," kata Arion seraya mengambil langkah menuju ke arah danau.


Riley, Agra, Ranu, Arva dan Hyana mengikuti paling belakang dalam diam, mereka tampak terhanyut dalam sesuatu yang menyedihkan.


Elrick memeluk tubuh ibundanya yang tampak lemas semenjak menginjakkan kaki di gunung kuning. "Ibunda, apakah ibunda masih kuat berjalan? Perlukah kupanggil Reona?"


Aurora menggeleng menatap putra tampannya, "tidak perlu nak, ibu ingin mengingat langkah yang ibu lewati kali ini, untuk bertemu dengannya."


Elrick ingin bertanya lebih jauh mengenai siapa yang ibundanya maksud, tapi sedari dulu ia tahu bahwa itu adalah pertanyaan yang tabu untuk ia ucapkan.


"Kita sampai, Yang Mulia," ucap Arion seraya berdiri di tepi danau mutiara.


Ibu Suri menatap berkeliling dan menemukan Gentala yang tampak melingkarkan tubuhnya di tengah danau.

__ADS_1


"Wahai naga emperor Gentala, apakah engkau yang mengundang kami?" tanya ibu suri dengan sopan, suaranya menggema di seluruh danau.


Gentala membuka matanya, ia menatap orang-orang di tepi danau. "Bukan aku, tapi Yang Mulia lah yang mengundang kalian," ucap Gentala dengan suara lemah.


"Yang Mulia? Apakah yang kau maksud adalah putriku Eleanor? Di mana dia?" tanya Aurora dengan mata berkaca-kaca.


Gentala tak menjawab, ia memilih membuka tubuhnya yang sedari tadi melingkar. Sesaat setelah Gentala bergeser, sebuah taman kecil terlihat di tengah danau, dipenuhi dengan bunga wisteria ungu.


"Selamat datang Yang Mulia," ucap Alardo membungkuk diikuti Blevine di sampingnya.


"Kalian datang!" Ariadna melambaikan tangannya dan membuat jembatan menggunakan sihirnya, jembatan yang menghubungkan tepi danau dengan taman kecil di tengah danau mutiara. "Kemarilah, Eleanor telah lama menunggu."


Ibu Suri, Raja, Ratu dan Pangeran Elrick bergegas menyebrangi jembatan yang dibuat Ariadna, sementara kelima petinggi Gunung Kuning beserta Hyana menunggu di tepi danau dengan kepala tertunduk.


"Di mana putriku?" tanya Aaron ketika sampai, ia melihat berkeliling tapi tak menemukan sosok yang dicarinya, hanya ada bunga eisteria ungu yang memenuhi pandangannya. "Penyihir agung Ariadna, tolong pertemukanlah aku dengan putriku," pinta Aaron dengan suara bergetar.


"Sebelum bertemu dengannya, aku ingin bertanya sesuatu," Ariadna menatap ke-empat orang di hadapannya bergantian. "Jika waktu bisa diputar ulang, adakah yang ingin kau rubah?" tanya Ariadna lugas.


"Walaupun aku bisa kembali ke masa itu, aku tak akan mengubah apapun." Ibu Suri menundukkan kepalanya, "aku akan tetap mengirim Eleanor pergi bersama Isabel ke dimensi lain, sampai hari ini pun aku masih berpikir itu adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan Eleanor."


"Walaupun ia berakhir bukan di tempat yang kau tentukan, apa kau tetap tak menyesal Lilian?" tanya Ariadna pada ibu suri.


"Tidak," jawab ibu suri tegas. "Mengetahui bahwa Eleanor berhasil bertahan hidup, adalah sebuah anugerah yang selalu ku syukuri, walaupun aku tak bisa memeluknya selama ini."


Ariadna menghela nafas panjang, matanya beralih pada sang Raja, "apakah kau tak menyesal memilih Elrick dan melepas Eleanor, Aaron?"

__ADS_1


Elrick terhenyak kaget atas pertanyaan yang diajukan penyihir agung pada ayahnya. Tangan ibundanya kini menggenggam tangannya erat.


Sang Raja menatap putranya yang tampak diam membisu dalam rengkuhan sang Ratu. "Tidak, karena pilihan itulah kini aku dapat melihat putraku tumbuh menjadi calon pemimpin yang hebat," jawab Aaron. Ia lalu menatap mata Ariadna, "walaupun aku tak bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada putrinya, aku yakin Isabel memberikan Eleanor kasih sayang yang tulus dan membuatnya hidup bahagia, meskipun pada akhirnya aku tahu kalau aku telah menyakiti hati putriku, yang sampai kapan pun tak bisa dimaafkan."


Ariadna menatap mata Aaron yang tampak pilu, ia lalu beralih pada Aurora, sang Ratu yang masih merengkuh putranya. "Aurora, adakah yang ingin kau sampaikan kepada putrimu?"


Aurora menatap Ariadna, air mata yang sedari tadi ia tahan, kini mengalir dengan derasnya. "Aku sadar, aku mungkin tak pantas menjadi ibu, karena telah menelantarkan putriku," Aurora tampak tak berdaya. Elrick memeluk pundak ibundanya, mencoba menenangkan sang Ratu. "Saat pertama kali menimangnya, aku bersyukur karena putriku diberkahi oleh Yang Kuasa, tapi aku harus rela melepasnya agar ia dapat tetap hidup," Aurora menggenggam tangan Elrick kuat. "Aku bertahan hidup selama ini dengan mengamati batu kehidupan milik Eleanor yang masih menyala terang, walaupun aku tersiksa karena tak berada di sampingnya, setidaknya aku tahu kalau ia masih hidup."


"Lama aku mencari dan menyiapkan diriku untuk menemuinya, tapi ketika bertemu dengannya, aku malah tak berdaya. Aku bahkan tak bisa mengatajan kebenaran, aku bahkan merasa tak pantas memeluknya, dan aku bahkan merasa tak bisa melindungi nyawanya. Aku membiarkannya hampir mati, aku membiarkannya berkorban tanpa sadar," Aurora menangis dengan nafas yang tersengal, tangisnya pilu menyayat hati.


Ariadna kini menatap Elrick, "awalnya aku sangat marah karena nenek dan orang tuamu lebih memilihmu yang tak terlahir dengan aura merah, dibandingkan saudari kembarmu. Namun Eleanor pernah berkata bahwa pertama kali ia melihatmu, ia yakin bahwa kau akan menjadi pemimpin yang hebat."


Elrick kini menatap Ariadna, hatinya bergetar hebat. "Bolehkah aku menemuinya?"


Ariadnya tersenyum getir, "kau pernah bersamanya untuk waktu yang singkat, ingatkah kau akan seorang gadis bernama Ara?"


Jantung Elrick berdebar kencang, ingatan akan Ara memenuhi benaknya. "Apakah Ara adalah Eleanor?"


"Benar, ia datang hanya untuk menyerahkan auranya padamu, karena ia yakin kalau pilihan orangtuanya sudah tepat," Ariadna menatap lurus ke arah sepasang mata Elrick.


Elrick melepaskan pelukan ibundanya, ia mulai berjalan gontai ke arah untaian bunga wusteria yang menutup pandangan bagaikan sebuah tirai. "Eleanor, di manakah kau?"


Elrick melangkah melewati Ariadna, Alardo dan Blevine yang tak bergerak menghalanginya, seolah mereka memberi ijin pada Elrick.


Hati Elrick terasa tercabik, "Eleanor apakah kau ada di balik ini?" Elrick terus berjalan hingga ia menyibak tirai bunga wisteria. "Apa ini?" Elrick jatuh terduduk, kakinya terasa tak berdaya melihat gundukan tanah basah yang dipenuhi taburan bunga. Pandangannya mulai terhalang oleh air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


"TIDAK! ELEANOR!!" Aurora berlari ke arah makam yang masih basah, sementara Aaron dan ibu Suri Lilian, terlihat pucat pasi bagaikan tersambar petir di siang bolong.


"Eleanor telah kembali," kata Ariadna sambil berlalu pergi meninggalkan taman wisteria ungu di tengah danau mutiara yangbpenuh tangis pilu.


__ADS_2