Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Permintaan Sang Jenderal


__ADS_3

"Duar..duar..duar....!" ledakan terdengar berulang-ulang, seketika cahaya yang teramat terang keluar dari tubuh Ara dan tampaknya membakar barisan pasukan yang datang menyerang. Teriakan pilu mulai terdengar membahana, Ara membuka mata dan seketika sebuah pohon wisteria ungu mengeluarkan cambuk emas yang langsung terbang ke arahnya. Ara menangkap cambuk itu dan mulai mencambukkannya ke arah pasukan yang masih mengerang kesakitan, matanya berubah semerah darah, dan tangannya terus mengayunkan cambuknya.


"Hmm, rupanya mereka telah melakukan kesalahan fatal! Memilih pangeran lemah dan mengabaikan seorang putri yang teramat berbakat, ternyata mereka tak sepintar yang kukira, hahahaaa...." si wanita misterius tertawa terbahak hingga menggetarkan seisi gua kediamannya. Matanya terus menerawang jauh ke arah Ara yang tampak kejam membunuh musuh-musuhnya tanpa ampun.


Berbeda dengan Ara yang sedang mempertaruhkan nyawa di medan perang, Alardo tampak duduk tenang di sebuah gazebo yang dibangun di pinggir pantai. Angin laut menerbangkan rambut panjang sebahu yang dibiarkan tergerai, mata biru Al menatap ke arah deburan ombak, tapi secara bersamaan pandangannya tampak kosong. Di bawah cahaya bulan, Alardo tampak terhanyut dalam pikirannya sendiri. Benaknya tak bisa lepas dari sosok wanita yang baru ditemuinya, rambut panjang coklat keemasan, kulit putih bersih, serta warna mata yang terkadang berubah-ubah secara misterius membuat jantung Al berdegup kencang.


Alardo teringat saat mengendong tubuh Ara yang seringan kapas dari kediaman pangeran Elrick ke kamar pribadi Ara pagi tadi, hatinya dipenuhi kekhawatiran, tapi matanya penuh dengan kekaguman, ia tak habis pikir bagaimana bisa seorang wanita terlahir sempurna bak seorang dewi. Harum alami tubuh Ara tak pernah ia temukan sebelumnya, Al merasa jantungnya berdegup semakin kencang, hati dan pikirannya penuh dengan bayang-bayang Ara.


"Tuan.."


"Tuan.."


"TUAN ALARDO!"


Al tampak terkejut dan menatap ke arah Gigas yang tampak sedikit kesal, "tak perlu berteriak hanya untuk memanggilku, Gigas."


"Maaf tuan, tampaknya tuan terlalu asyik melamun hingga saya harus berteriak," jawab Gigas sedikit menyindir dengan halus.


"Ehm, apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Al tanpa basa-basi.


"Bagaimana tuan mengetahui kebenaran mengenai Ara?"


Al menatap mata Gigas, "apa maksudmu?"


"Saya mendengar ketika tuan memanggil Ara dengan sebutan Putri," kata Gigas lirih takut jikalau ada yang mendengar.


"Kemari dan duduklah, Gigas."

__ADS_1


Gigas menuruti perintah Alardo, ia duduk berhadapan dengan sang Guru muda yang teramat dihormati oleh seluruh kerajaan. "Jadi?" tanya Gigas menggantung pertanyaannya.


Alardo tersenyum, "ketika pertama kali bertemu dengannya, aku salah sangka bahwa ia adalah bagian dari musuh, karena kekuatan sihirnya yang luar biasa bahkan bisa kubilang lebih kuat dari milik Jendral Arion."


Gigas mendengarkan dengan khidmat, sementara Alardo menenggak teh teratai di cangkirnya dengan elegan. "Ketika naga merah menangis saat memeluk Ara dan Pangeran, saat itu pula aku menyadari, bahwa Ara sebenarnya bukanlah murid Jendral Arion, melainkan sang Putri yang telah lama hilang."


"Tapi bukankah itu bisa dibilang hanyalah tebakan biasa? Bukankah terlalu beresiko ketika tuan memanggil Ara dengan sebutan Putri secara tiba-tiba?" tanya Gigas sedikit mengingatkan tindakan Al yang gegabah.


"Tentu beresiko, tapi lihatlah sekarang! Kau datang dan memberikan jawaban yang setimpal dengan resiko yang kuambil," ucap Al sambil tersenyum lebar ke arah Gigas.


Gigas melongo dan menepuk jidatnya sendiri, ia baru menyadari kesalahannya. "Astaga! Kalau Jenderal tahu mungkin aku telah kehilangan nyawa!"


"Sepertinya kau benar-benar akan kehilangan nyawa!" Kata Al sambil melirik ke arah pintu masuk gazebo.


Tanpa ragu, Gigas langsung mengambil posisi meringkuk, "mohon ampun Jenderal! Tolong ampuni hamba kali ini, hamba benar-benar ceroboh telah mengungkap identitas Yang Mulia, tolong ampuni hamba Jenderal."


Gigas tampak bingung dan kembali mendudukkan dirinya dengan pelan, ia memilih diam dan mengamati kedua petinggi kerajaan di hadapannya.


Alardo membalas tatapan Arion, meminta Arion melanjutkan kata-katanya.


"Karena kau telah mengetahui identitas Yang Mulia, maka maukah kau membantuku?" tanya Arion dengan mimik serius.


"Apa yang kau inginkan dariku, Jenderal?" Alardo nampak tertarik akan kata-kata Arion.


"Aku butuh bantuan untuk melindungi Yang Mulia Putri, keadaan akan semakin genting bila musuh mengetahui bahwa sang Putri telah ditemukan, terlebih jika mereka mengetahui kemampuan menakjubkan Yang Mulia Putri, tapi kau tahu bahwa posisiku dan Gigas mengharuskan aku melindungi Yang Mulia Pangeran, maka aku butuh dirimu untuk melindungi Yang Mulia Putri," Arion menatap langsung mata Alardo hingga tampak seperti memohon.


Gigas tampak melongo, baru kali ini ia melihat sang Jenderal yang menjaga penuh harga dirinya, dan tampak memohon pada seseorang.

__ADS_1


Alardo menghela nafas panjang, "jika prioritasmu adalah Yang Mulia Pangeran, kenapa kau tampak sangat ingin melindungi Ara? Ara bahkan tampak tak peduli dengan nyawanya sendiri."


"Itulah yang aku khawatirkan, Yang Mulia Putri memutuskan menginjakkan kaki di negeri ini bukanlah karena ia ingin kembali pada keluarganya," mata Arion seketika berubah bagaikan menyiratkan kesedihan. "Yang Mulia kembali seolah hanya ingin menyerahkan nyawanya," kata Arion dengan suara bergetar.


"Apa maksudmu Jenderal?" tanya Alardo meminta penjelasan, hatinya kembali dipenuhi rasa khawatir.


"Untuk pertama kalinya, hari ini Yang Mulia Pangeran bersinar dengan teramat terang, energi Ratu seolah berhasil bangkit dari dalam dirinya," Arion tampak mengalihkan pandangannya dari Alardo, ia menyenderkan punggungnya di senderan kursi seraya melihat jauh ke arah ombak yang bergelung. "Melihat Ara kesakitan dan kehilangan beberapa kemampuan fisiknya, aku yakin semua ini adalah ulah Ara."


"Apa maksudmu sebenarnya Jenderal?" tanya Alardo yang lebih terdengar seperti mendesak Arion.


"Yang Mulia Putri tampaknya dari awal telah berniat menyerahkan nyawanya untuk Pangeran, karena Putri berniat mentransfer seluruh energi ratu yang ada dalam dirinya," jelas Arion.


Alardo dan Gigas tampak terkejut dengan kata-kata Arion, mereka menatap Arion bersamaan.


"Karena itulah aku meminta bantuanmu," ucap Arion kembali mengingatkan Alardo atas alasan kedatangannya.


"Melihat apa yang terjadi pada Pangeran Elrick, bukankah seharusnya Raja dan Ratu juga menyadari identitas Ara yang sesungguhnya? Bukankah mereka seharusnya bertindak sebagai orang tua dan melindungi Ara?" tanya Gigas dengan suara yang bagai terbakar emosi.


"Perubahan sikap mendadak Raja dan Ratu justru akan lebih membahayakan Ara," ucap Al menimpali pertanyaan Gigas.


"Alardo benar," Arion ikut menanggapi. "Pengakuan yang dibuat tiba-tiba dapat membuat rakyat bingung dan kehilangan kepercayaan, secara tidak langsung akan memberikan peluang bagi musuh untuk mengacaukan kerajaan."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Gigas dengan wajah khawatir.


"Tidak ada," jawab Alardo sambil tersenyum.


Arion ikut mengangguk setuju atas jawaban Alardo, membuat Gigas tampak bingung dan tidak mengerti jalan pikiran kedua laki-laki di hadapannya. Gigas menyenderkan tubuhnya dan memilih memandang bulan yang bersinar di langit malam dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2