
"Aku tidak akan membantumu kali ini dan tidak mengijinkan seorang pun untuk membantumu," Arion kali ini berkata dengan suara yang keras. "Kau harus belajar menanggung akibat dari keputusan yang kau buat!"
Gigas dan Alardo bergidik ngeri, karena kini sang Jendral mengeluarkan auranya yang begitu kuat hingga memberi tekanan bagi keduanya.
"Kalian juga dilarang membantunya mulai sekarang, atau nyawa kalian melayang!"
Arion menatap Gigas dan Alardo dengan penuh ancaman, seolah api berkobar di kedua matanya.
"Baik Jenderal," ucap Gigas dan Alardo bersamaan seraya membungkuk.
Ara merasa hatinya teriris, ia belum pernah diperlakukan dengan kasar oleh siapapun sebelumnya. Sekuat tenaga Ara menahan tangis hingga Arion berdiri dan beranjak pergi, mata Ara mengekor mengikuti kepergian Arion yang terhenti di depan pintu, ia tampak menoleh ke arahnya.
"Aku benar-benar menyesal memiliki murid sepertimu," ucap Arion lalu menghilang bersama angin.
Ara mengatur nafasnya dan mencoba tampak tegar, sementara Gigas dan Alardo mendekatinya.
"Tenanglah, Jenderal pasti hanya marah sebentar, waktu akan membuatnya kembali bersikap normal," Alardo menepuk bahu Ara pelan.
"Aku tak yakin dengan perkataan tuan Al, tapi sebaiknya kau berusaha memulihkan dirimu sendiri dan segera tunjukkan pada Jenderal bahwa kau lebih dari pantas menjadi muridnya," Gigas menatap dengan mata yang penuh kejujuran.
"Gigas benar, mungkin Jenderal hanya ingin kau menjadi lebih kuat. Mungkin kata-katanya menyakitimu, tapi maksud dan tujuannya adalah membuatmu menjadi lebih kuat. Aku rasa Jendral ingin murid satu-satunya dihormati dan disegani oleh orang lain walaupun dirimu seorang wanita, ia ingin menunjukkan bahwa kau bukanlah wanita yang lemah."
Alardo mencoba menerjemahkan kata-kata Arion dengan lebih halus kepada Ara, agar Ara tak hancur.
__ADS_1
Ara mengangguk dan menggunakan telepatinya, "terimakasih aku mungkin lemah tapi akan kubuktikan bahwa aku juga bisa sekuat kalian, jadi tolong tinggalkan aku sendiri."
Gigas dan Alardo menghela nafas panjang, mereka lalu mengangguk kemudian. Gigas terlebih dulu berbalik dan meninggalkan kamar Ara, sementara Alardo meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat.
"Melihat naga merah meneteskan air matanya ketika melihatmu, aku yakin kau bukan wanita sembarangan. Maka sampai bertemu lagi, putri."
Alardo bersimpuh dan mencium punggung tangan Ara, membuat kedua pupil mata Ara melebar karena terkejut. Hanya Arion dan Gigas yang mengetahui identitas aslinya, tapi kenapa kini Alardo memanggilnya dengan putri?
Belum sempat Ara bertanya lewat telepati, ia menyadari bahwa kamarnya kini terasa kosong, hanya tinggal dirinya seorang dengan pintu yang tertutup rapat.
Ara mengangkat kedua tangannya, ia menatap kosong ke arah jari-jari tangannya yang kaku dan pucat, seolah darah tak mengalir hingga ke ujung jari. Ia menyadari hilangnya kemampuannya untuk bicara pun mungkin merupakan efek serius dari transfer energi yang telah ia lakukan untuk Elrick.
Kali ini Ara paham bahwa mentransfer energi ratu sama dengan memberikan hidupnya pada Elrick, tapi Isabel yang ditemuinya dalam mimpi dan juga Arion tampak menentang keras keputusan yang ia buat, dan tampaknya Yang Kuasa pun beranggapan sama.
Ara menghela nafas panjang, ketidakberdayaan yang ia rasakan membuatnya putus asa hingga hanya bisa menitikkan air mata. Lama Ara menangis hingga rasanya tak ada lagi air mata yang tersisa dan rasa lelah menguasainya hingga ia kembali terlelap.
"Kau benar-benar sangat menyedihkan!"
Ara menengok ke asal suara dan menemukan seorang wanita yang tampak seperti iblis cantik bersandar di bawah pohon beringin, rambut putih panjangnya dibiarkan tergerai, gaun hitam panjang pun melekat indah di tubuhnya yang ramping. Mata hitam pekatnya menatap Ara, sementara bibirnya tersenyum mengejek.
"Aku membiarkanmu hidup, bukan untuk melihatmu terus menangis, bodoh!"
Ara menatap bingung, rasanya ia baru pertama kali ini bertemu dengan wanita itu, tapi kenapa tampaknya dia berbicara seperti orang yang telah lama kenal?
__ADS_1
"Tak usah menatapku begitu, aku tahu kalau aku memang cantik." Ia berjalan mendekat ke arah Ara hingga tak ada jarak di antara mereka, kukunya yang panjang perlahan menyentuh wajah Ara.
"Ah!" Ara berteriak pelan ketika kuku si wanita itu meninggalkan goresan di pipinya.
"Siapa anda?" tanya Ara masih dalam jarak yang teramat dekat.
"BERANINYA KAU BERTANYA SIAPA AKU!" Wanita itu mengeluarkan suara keras yang menggelegar hingga petir menyambar dan angin bertiup teramat kencang, daun-daun berguguran seketika. Tangan kanan si wanita kini meraih leher Ara dan mencekiknya, "JANGAN PERNAH BERTANYA LAGI TENTANGKU, ATAU KAU AKAN MATI."
Ara tercekat, cekikan di lehernya teramat kencang hingga membuatnya sulit bernafas. Rasanya sakit, lemas dan sesak, penglihatannya mulai memburuk, dan seketika cekikan di lehernya menguat lalu setelahnya Ara merasa terlempar hingga jatuh membentur tanah dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa membuat Ara tak mengeluarkan suara, ia sibuk mengembalikan fokus dan mengatur nafasnya secepat mungkin agar bisa bersiap terhadap serangan lanjutan.
Ara merasakan hawa panas yang semakin lama semakin mendominasi di tubuhnya, bagaikan menemukan sumber kekuatan baru, Ara memanfaatkannya dan dengan cepat meraih leher si wanita dan mencekiknya tanpa ampun. Wanita di hadapannya tampak kaget, cekikan di leher Ara melemah, dan beberapa detik kemudian wanita itu menghilang bagai ditelan bumi, dan Ara baru menyadari bahwa yang digadapinya sedari tadi hanyalah sebuah bayangan ilusi.
"Hahahha...jangan pikir kau dapat mengalahkanku semudah itu!" Hahahahaha.....!"
Ara mengernyit dan mencoba mencari sumber suara, tapi ketika belum berhasil menemukannnya, telinga Ara dipenuhi dengan suara ribuan derap langkah yang semakin mendekat. Ara menajamkan penglihatannya hingga kabut tebal mulai tersingkap memperlihatkan ribuan prajurit berpakaian perang lengkap, kini tengah berjalan dengan seirama menuju ke arah dirinya.
"APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN DARIKU?!" teriak Ara kesal bercampur putus asa, ia tak habis pikir bahwa ada seorang wanita yang begitu ingin membunuhnya.
"LAWAN MEREKA! Kalau kau kalah, maka akan kubunuh Pangeran Tak Berguna Itu, HAHAHAHAHA!"
Ara mendengus kesal karena si wanita mengancam dirinya menggunakan saudara kembarnya! Maka tak ada jalan lain, Ara mendudukkan dirinya guna mengumpulkan semua energi dalam dirinya, tak puas dengan yang ia miliki, ia mulai menyerap energi dari tempat asing nan misterius itu. Ara terkejut ketika aliran energi yang ia dapatkan jauh berkali-kali lipat dibandingkan dengan yang ia dapat sewaktu berada di wilayah kerajaan, Ara memejamkan matanya dan tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ia memilih hanyut dalam dunia itu sebelum menyerahkan nyawa, Ara bertekad walaupun hari ini ia harus mati, setidaknya mati dengan kemenangan, agar Pangeran aman.
Alam tampaknya mengetahui niat Ara, kabut putih kini mengelilingi tubuh Ara yang terhanyut dalam semedinya, angin berputar layaknya angin topan dan mengangkat tubuh Ara ke langit, cahaya terang layaknya sinar mentari pun ikut menghampiri tubuh Ara, seolah ingin ikut menerobos masuk ke dalam jiwanya. Jauh di dalam gua, si wanita misterius tampak tersenyum penuh arti.
__ADS_1