Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Medan Pertempuran


__ADS_3

"Al, Jenderal! Kalian terluka?"


Alardo dan Arion sontak menatap ke asal suara, "Yang Mulia!"


Keduanya tampak kaget melihat sosok yang mereka kira telah pergi dari area peperangan.


"Maaf Jenderal, Yang Mulia menolak untuk pergi." Gigas menyela pembicaraan dengan permintaan maafnya, ia tampak merasa bersalah karena tak dapat menjalankan tugasnya.


"Duduklah, kalian harus segera diobati!" Elrick menarik paksa Al dan Arion hingga terduduk di matras, lalu ia memanggil tim penyembuh untuk mendekat.


Dua orang laki-laki berjubah putih segera berlari mendekat dan langsung mengobati Alardo dan Arion dengan menyalurkan energi penyembuh mereka.


Al merasa tubuhnya berangsur-angsur membaik, matanya masih tertuju ke arah Elrick yang tampak mencemaskan keadaannya dan sang Jenderal.


"Yang Mulia, musuh kita bukanlah manusia. Sangat berbahaya jika Yang Mulia tetap di sini, pergilah ke tempat yang aman bersama Gigas, Yang Mulia."


Al memohon selagi tubuhnya masih disembuhkan oleh penyembuh, ia khawatir akan keselamatan Elrick. "Kami akan berjuang mempertahankan kerajaan, maka Yang Mulia harus bekerja sama dengan menyelamatkan diri Yang Mulia."


Arion tampak mengangguk setuju dengan apa yang Alardo katakan. "Yang Mulia adalah wujud utama dari negeri ini, maka keselamatan Yang Mulia adalah yang utama."


"Diamlah! Aku tidak akan mengikuti kata-kata kalian, fokuslah dalam penyembuhan!" Elrick tampak marah pada Arion dan Al.


"Aku tidak ingin menjadi pengecut, membiarkan kalian berjuang demi kerajaan, sementara aku dengan nyaman bersembunyi di balik kemewahan dan kekuasaan. Aku tidak mau menyesal seumur hidup, jadi ijinkanlah aku berjuang bersama kalian!"


Arion dan Alardo saling bertukar pandang dalam diam, sementara Gigas diam-diam melangkah ke luar tenda, mencoba kabur dari situasi yang membuatnya tak nyaman.


"Siapa mereka?" tanya Gigas pada dirinya sendiri saat melihat lima orang yang berdiri di atas awan raksasa bagaikan dewa dewi dari kahyangan.


Gigas menajamkan penglihatannya, ia mengamati pergerakan kelima orang rupawan itu. Mereka tampak membentuk lingkaran sempurna dengan masing-masing tubuh mereka menghadap ke arah luar lingkaran. Mereka tampak memancarkan aura yang berbeda namun terasa mengintimidasi, aura yang asing namun juga terasa familier.

__ADS_1


"Ah benar, mirip aura Jendral!"


Gigas tampak semakin tertarik, aura kelima orang itu sangat mirip dengan Jenderal Arion. Sejak lama ia sangat penasaran mengenai asal usul sang Jenderal, karena sang Rajapun tak berani menyinggung Jendral Arion, awalnya Gigas menyangka bahwa sang Raja berhutang budi pada Jenderal, tapi ternyata ia salah. Sikap sang Raja lebih dari seseorang yang ingin membalas budi, sejak lama ia ingin mengetahui semua rahasia sang Jenderal agar bisa belajar dan memahami tentangnya, namun waktu membuat Gigas putus asa dan menghentikan upayanya, tapi sepertinya Yang Kuasa memberi jawaban pada Gigas, kali ini Gigas berpikir bahwa mereka berlima adalah jawaban mengenai asal usul misterius sang Jenderal Agung.


"Apakah mereka yang membuat Tuan Alardo dan Jendral Arion bisa beristirahat?" pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Gigas, ia tampak teramat tak sabar dan penasaran dengan apa yang dilihatnya.


Gigas melangkah dengan cepat, menuju ke arah menara yang persis berada di gerbang basecamp yang dijaga oleh banyak pasukan. Ia menaiki tangga demi tangga dengan berlari hingga akhirnya ia berhenti dan berdiri bertopang pada sandaran menara. Matanya bagaikan mata elang yang melihat medan perang dengan leluasa dan melihat angkasa tanpa rintangan.


"KAPTEN!"


Gigas mengalihkan pandangan pada seorang prajurit yang bertugas berjaga di menara. "Siapa namamu?"


"Rocky, Kapten!"


"Jelaskan padaku apa yang terjadi selama aku pergi!" perintah Gigas pada Rocky dengan tegas, matanya kembali ke medan perang.


"Awalnya perang berjalan wajar sebagaimana biasanya, pasukan musuh dan pasukan kita saling menyerang, namun keanehan mulai terlihat ketika pasukan musuh yang seharusnya terluka parah dan bahkan mati, dalam sekejap bangkit dan pulih kembali."


Gigas menatap mayat yang tergeletak di medan perang dan terpisah dari kepalanya, kini perlahan berubah menjadi tumpukan abu. Di sisi lain mayat-mayat berkulit hitam kelam yang masih utuh tampak kembali bangkit.


"Untung Jendral mengetahui bahwa satu-satunya cara membuat mereka musnah adalah dengan memisahkan kepala dan tubuh mereka, tapi di saat yang sama pasukan telah kelelahan, saat itulah Tuan Alardo mucul bersama Tuan Luke, mereka sempat memanah dengan menggunakan aura suci, tapi ternyata juga tidak berhasil, sehingga Tuan Alardo turun tangan memegang pedang dan melakukan hal yang sama seperti yang Jenderal lakukan."


Gigas mengangguk paham, kini ia memahami situasi dari penjelasan Rocky.


"Oh hampir lupa, Tuan Alardo juga berhasil membelah tanah dan mengubur banyak pasukan iblis hidup-hidup hingga ia kelelahan, dan di saat yang sama dewa dewi itu muncul," ucap Rocky sambil memandang kagum ke atas langit.


"Tunggu, dimana Tuan Luke?" tanya Gigas dengan nada tajam, ia menangkap sesuatu yang hilang dari penjelasan Rocky, matanya mebelusuri medan perang dengan cepat.


"Kau mencariku Kapten?"

__ADS_1


Gigas menengok ke asal suara, "kau membuatku jantungan, Tuan!"


"Hahahaaaaaa..... aku tak percaya bahwa Kapten Gigas yang perkasa bisa jantungan hanya karena suaraku! Hahahahaha...."


Gigas mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal. Ia menekuk kedua tangannya di depan dada, "ternyata anda terlalu sehat untuk dikhawatirkan, maka saya merasa lega, Tuan."


Luke turun dari punggung Olsen yang mendarat di tangga menara. "Istirahatlah dulu selagi bisa Olsen," ucapnya menyentuh pucuk kepala Olsen ringan. Olsen pun tak membantah, ia membaringkan tubuh serigala raksasanya di salah satu anak tangga menara yang cukup lebar dan mulai terlelap, sementara Luke mulai menghampiri Gigas. Ia pun menerima hormat dari Rocky yang kini melengkah mundur dari samping Gigas dan memberi tempat untuknya, Luke tersenyum pada Rocky sebagai ucapan terimakasih.


"Terimakasih telah mengkhawatirkan aku, Kapten!" Luke mencoba menggoda Gigas yang kini tampak kesal di sampingnya, "kau tahu, hari ini adalah hari pertama aku bisa keluar dari gua selama satu tahun, tapi malah aku harus menghadapi iblis buruk rupa seperti mereka! Aku sungguh tidak mujur!"


Gigas melihat pasukan iblis yang bangkit, tampak tak ada pergerakan, seperti menanti sesuatu, mereka hanya berdiri dalam diam, seperti patung yang tak bernyawa.


"Untuk apa anda berada di dalam gua selama satu tahun? Bukankah kastil klan putih lebih nyaman untuk tidur?" tanya Gigas sambil mengamati lima orang di atas awan yang juga tak bergerak, tapi ke limanya tampak amat sangat siaga.


"Rahasia!"


Gigas mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Luke di sampingnya yang kini tampak tersenyum puas tanpa dosa. Gigas bertambah kesal karena dipermainkan Luke, tapi ia tahu kalau Luke hanya bercanda, kalau saja Luke bukanlah sahabat Tuan Al, maka sudah Gigas pukul sedari tadi karena teramat kesal.


Gigas menghela nafas panjang melihat tingkah Luke, ia mencoba menahan rasa gatal di punggung tangannya yang terus mencoba melayang ke arah wajah Luke di sampingnya.


"Apakah ada sesuatu yang datang?" Luke bertanya pada Gigas tanpa mengalihkan pandangannya dari medan perang.


Gigas melihat perubahan ekspresi di wajah Luke yang kini berubah menjadi serius. Giga mengikuti arah pandang Luke, di medan perang angin tampak mulai bertiup kencang, menyerap debu para iblis yang telah mati, menyatu bagaikan gelombang air laut, namun berwarna hitam kelam, semakin lama semakin besar dan menyapu apa saja yang ada di depannya.


"MUNDUR!" Teriak Gigas kencang ke arah medan perang. Rocky dengan sigap meniup terompet sekuat tenaga sebagai tanda bagi pasukan yang masih tersisa di medan perang untuk mundur.


Pasukan menangkap tanda dari basecamp dan bergegas untuk mundur, tapi gelombang hitam badai angin tampak bertambah cepat bergulung ke arah mereka bagaikan malaikat maut yang ingin mencabut nyawa.


"DASAR IBLIS JAHANAM!" Teriak Gigas sambil memukul sandaran menara, ia berniat meloncat turun ketika tangan Luke mencegahnya.

__ADS_1


"Lihatlah Kapten!"


__ADS_2