
Ara melangkahkan kakinya menembus kebun bunga tulip kuning di dasar kaki gunung kuning. Senyum terus mengembang di wajahnya yang cantik, dengan sinar mentari yang hangat menambah indah paras sang Ratu. Angin bertiup ringan menerbangkan rambut panjang Ara yang dibiarkan tergerai, ia memejamkan kedua matanya, mencoba tenggelam dalam perasaan nyaman yang diberikan oleh alam.
Ara teringat kembali akan semua yang telah ia lalui, dalam hati ia berdoa agar seluruh keluarga kerajaan diberkahi kesehatan, kemakmuran dan kebahagiaan, biarlah hanya ia yang menanggung semua kesedihan.
Perlahan ia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya, perlahan tapi pasti, diiringi oleh aroma mint yang kental.
"Hormat hamba Yang Mulia."
Ara membalikkan tubuhnya dan menemukan seseorang tengah bersimpuh, orang itu tampak familier dengan jubah perang yang pas melekat di tubuhnya, tapi Ara tak bisa melihat wajahnya karena ia tengah menunduk.
"Hamba Arion sang penguasa api, meminta ampun karena terlambat memberi hormat kepada Yang Mulia."
Ara merasa tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku, ia tak menyangka orang yang ia anggap sebagai guru, kini bersimpuh memberi hormat kepadanya. Ara mencoba memusatkan energinya guna menemukan keberanian, kemudian ia membuka mulutnya, "berdirilah!"
Arion mematuhinya dan berdiri di hadapannya dengan pandangan penuh hormat. Tubuhnya masih terlihat seperti sebelumnya, kuat dan tak tersentuh, namun Ara melihat sedikit kekhawatiran di wajahnya. Ara mengamati Arion dan tampaknya orang di hadapannya itu sama sekali tak mengenali wujudnya yang baru, Ara pun melepas semua beban di hatinya, ia mencoba menampakkan senyum simpul.
"Kau tampak khawatir," Ara menatap mata Arion dengan penuh keberanian dan sikap yang tenang, seolah kali ini adalah kali pertamanya bertemu dengan sang penguasa api.
Arion balas menatap Ara, dan tanpa ragu ia mulai mengutarakan semua isi kepalanya. "Hamba khawatir akan nasib Putri Eleanor, ia tiba-tiba menghilang setelah mentransfer seluruh energi Ratu pada Pangeran Mahkota Elrick."
Mata Ara terbuka lebar, ia tak menyangka sang jenderal mengkhawatirkan dirinya. Hati Ara bergemuruh, sang Jenderal yang biasanya terlihat kaku dan tegas kini tampak bagaikan menghilangkan topengnya sendiri, dan tanpa khawatir menampakkan diri tanpa penghalang di hadapan Ara, sang Ratu yang baru. Bagaimana bisa ia begitu mempercayai Ratu baru yang baru pertama kali ia temui?
"Kau tak perlu cemas, ia baik-baik saja."
Seketika raut wajah Arion berubah cerah mendengar kata-kata Ara, ada sekilas senyum terukir di wajahnya tapi kemudian tampak menghilang tanpa bekas.
__ADS_1
"Apa ada hal lain yang mengganggumu?" Ara mempertahankan sikap tenangnya dan menunggu Arion menjawab.
Alis tebal Arion tampak hampir menyatu, "apakah Putra Mahkota benar-benar mampu mengemban amanah di kemudian hari?"
Ara mencengkeram erat tongkat di tangan kanannya, dan menatap menerawang bagaikan menembus ke dalam diri Arion. "Jika ia terlihat tak mampu maka kewajibanmulah untuk membuatnya menjadi mampu."
Arion tampak tak mengira ucapan Ara, matanya tampak fokus menatap sang Ratu, Ara bersiap menerima sanggahan dari sang Jenderal.
"Hamba akan melakukannya Yang Mulia, hamba mohon undur diri."
Ara membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, sejak kapan Arion menjadi penurut? Apakah ada sesuatu yang salah?
Matanya mengekor sosok Arion yang perlahan menjauh hingga menghilang ditelan portal. "Hyana," panggil Ara lirih.
Seketika sosok Hyana muncul di samping Ara, "ada yang bisa saya bantu Yang Mulia?"
Hyana mengulas senyum manis ke arah Ara, "seperti halnya ke empat penguasa lainnya, tuan Arion juga dilahirkan dengan takdir yang telah melekat pada dirinya."
Ara menunggu Hyana melanjutkan kata-katanya dengan penuh ketenangan.
"Semua makhluk di gunung kuning lahir dari sebuah kelopak bunga yang dipenuhi oleh harapan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan, dan kami lahir dengan takdir yang telah melekat dengan jelas," Hyana mendekati sebuah bunga tulip yang tampak layu, ia mengibaskan tangan kanannya dan seketika sang bunga tampak kembali sehat dengan tangkai yang berdiri tegap.
"Sebuah kelopak bunga?"
Hyana mengangguk, "ah kali ini ada satu yang tumbuh di halaman Ghian dan Tami, apakah Yang Mulia berkenan melihatnya?"
__ADS_1
Ara tersenyum, "tentu."
Hyana mengangguk dan mengibaskan tangannya, seketika kelopak bunga kuning memenuhi pandangan Ara, bagaikan menaiki hamparan kelopak bunga, Ara dan Hyana berpindah tempat dengan cepat.
"Sudah sampai Yang Mulia," Hyana menarik kembali semua kelopak bunga miliknya hingga nampak cahaya kuning terang masuk kembali ke dalam telapak tangannya. "Ini adalah bunga kehidupan ketiga yang tumbuh di halaman Ghian dan Tami."
"Apakah itu artinya, kali ini mereka tengah menunggu kehadiran anak ke tiga?"
Hyana menggeleng lemah, "dua sebelumnya tak melahirkan satu pun bayi untuk mereka, bunganya bahkan layu sebelum waktu yang tepat."
Ara merasakan kesedihan yang terpancar dari kata-kata Hyana, Ghian dan Tami pasti sangatlah sedih. Ara mendekati bunga raksasa berwarna pelangi yang pertama kali ia lihat di Gunung Kuning, tongkat yang ia pegang di tangan kanan, ia pindahkan ke tangan kiri, lalu ia meraih kelopak bunga kehidupan dengan tangan kanannya.
Ara memejamkan matanya seraya menyentuh kelopak bunga kehidupan, energi alam gunung kuning terasa menari di sekelilingnya, awan di atas tubuhnya pun berubah menjadi lebih transparan, seketika sinar yang teramat terang keluar dari telapak tangan sang Ratu, menyinari sang bunga kehidupan hingga menembus ke dalamnya, Ara tampak memanjatkan doa di dalam hatinya dengan khidmat.
Hyana mengamati sang Ratu dalam diam, semua yang ada dalam diri sang Ratu merupakan berkah yang tak terkira dari alam semesta, sebuah kesempurnaan yang takkan bisa dikesampingkan. Ia lebih dari paham bahwa kekuatan yang ada dalam diri sang Ratu bisa menghancurkan alam semesta, namun entah kenapa Ratu tampak tak peduli dan bersikap rendah hati. Seolah semua dalam diri sang Ratu adalah sebuah misteri yang tersimpan teramat rapi.
Mata Ara perlahan terbuka menampakkan bola mata hitam pekat yang tampak bercahaya tertimpa sinar mentari, senyum yang terukir di bibirnya yang merah membuat siapa pun mengagumi kecantikannya, tak terkecuali Hyana yang setia berada di sampingnya.
"Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk melihatnya," ucap Ara dengan suaranya yang merdu bagaikan alunan nada indah di telinga Hyana.
"Sudah kewajiban hamba, Yang Mulia."
Hyana membalas senyuman sang Ratu dengan tulus, kemudian ia mengamati tangan kanan sang Ratu yang perlahan melepas kelopak bunga kehidupan milik Ghian dan Tami. Hyana tampak menahan nafas, mulutnya bahkan terbuka karena takjub. Kelopak bunga yang tadinya tampak biasa kini tampak menggembung dengan warna kuning cerah dan batang yang tampak teramat kokoh, ukurannya pun tumbuh menjadi berkali-kali lipat lebih besar.
"Aku rasa sudah waktunya untuk pergi."
__ADS_1
Hyana kembali mendapatkan kesadarannya ketika sang Ratu mulai melangkah menjauh, hati Hyana diliputi keterkejutan, bunga kehidupan adalah satu-satunya bunga di gunung kuning yang tak bisa ia sentuh ataupun perbaiki, karena bunga kehidupan membawa takdir kehidupan lain di dalamnya sehingga tak bisa dimanipulasi bahkan olehnya yang memiliki kewenangan, namun hari ini sang Ratu membuktikan padanya bahwa tidak ada yang tidak mungkin.