Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Sentuhan Sang Ratu


__ADS_3

"Hai Ara!" Sapa Gigas dengan suara yang ceria, tubuh besarnya tampak seperti sebuah batu besar ketika tertimpa cahaya matahari yang mulai muncul.


"Hai Gigas, apakah kau sedang patroli pagi?" tanya Ara yang kini beranjak dari tempat berjaganya di atas pohon depan kediaman Elrick semalaman.


"Ya, siftku telah berakhir dengan melakukan patroli pagi ini. Selanjutnya aku hendak menuju barak untuk beristirahat dan sarapan. Bagaimana denganmu? Apa kau mau ikut?"


Ara menggeleng, "di sinilah tempatku Gigas. Aku harus menepati sumpah kesatriaku."


"Apa kau bilang? Sumpah kesatria?" tanya Gigas sambil melongo saking tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana bisa seorang putri melakukan sumpah kesatria?


Gigas menatap bangunan di belakang Ara, "apakah kau bersumpah menjadi pengawal Yang Mulia Putra Mahkota?"


Ara mengangguk cepat.


Gigas tampak membuat lingkaran sihir yang tampak seperti balon transparan raksasa. "Yang Mulia, sebenarnya apa yang anda rencanakan? Saya rasa berbahaya berada di samping Yang Mulia Putra Mahkota untuk saat ini."


"Jangan lupa, namaku Ara. Berhati-hatilah Gigas, walaupun kau membuat sihir kedap suara, kita tak tahu mungkin ada beberapa orang yang bisa menembusnya!"


Gigas menunduk, "Maafkan aku Ara."


Ara tersenyum, "tak apa jangan diulangi lagi. Tapi bolehkah aku bertanya maksud dari perkataannmu mengenai bahaya di samping Yang Mulia?"


"Akhir-akhir ini Yang Mulia Elrick banyak mendapatkan teror, baik berupa tulisan maupun penyerangan yang tiba-tiba," jawab Gigas jujur.


"Apakah Raja dan Ratu telah mengetahuinya?"


Gigas mengangguk, "sebenarnya aku mengira bahwa Yang Mulia Raja dan Ratu telah mengetahui orang dibalik semua itu, tapi mereka tampak menahan diri seolah menunggu bukti untuk menghukum orang-orang itu."

__ADS_1


"Bagaimana bisa ada orang yang melakukannya? Bukankah mereka harus segera dihukum? Itu adalah sebuah pengkhianatan," Ara tampak marah.


"Tentu saja Ara, tapi tindakan gegabah hanya akan memicu perang, dan Yang Mulia pasti tak menginginkan banyak orang tak bersalah terluka." Gigas menatap kediaman Putra Mahkota dengan sedikit sendu, "tampaknya komplotan itu menyadari bahwa Yang Mulia Putra Mahkota sedikit berbeda dari Yang Mulia Raja dan Ratu, hingga mereka ingin merebut tahta darinya."


Gigas mengubah arah pandangnya kepada Ara, "karena itulah Yang Mulia Ibu Suri semakin gencar melakukan pencarian terhadap Yang Mulia Putri, karena hanya Putri lah yang bisa menyelamatkan kerajaan dengan kemampuan dalam dirinya."


Ara tersenyum, "Yang Mulia Putra Mahkota lebih mampu dan pantas Gigas. Aku memang baru bertemu dengannya kemarin, tapi aku yakin bahwa aku melihat sosok Raja masa depan dalam dirinya."


"Tampaknya ada orang yang mendekat, pergilah Gigas, kau pasti lelah dan lapar." Ara melenyapkan lapisan kedap suara yang Gigas buat, "ohya dan aku ingin bertanya."


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apakah hanya keluarga kerajaan, Jenderal Arion dan kita berdua yang bisa melakukan sihir?" tanya Ara penasaran karena kemarin Alardo begitu terkejut melihatnya membuat sihir pelindung.


"Tidak Ara, ada banyak petinggi kerajaan dan murid sekolah sihir yang bisa melakukannya." Gigas tersenyum, "tapi bila kau bertanya apakah ada yang bisa melakukan sihir sepertimu? maka jawabannya hanyalah keluarga kerajaan dan Jenderal Arion, aku bahkan tak akan bisa menyaingimu."


Ara kembali menggunakan sihir dan memilih duduk di atas pohon seraya mengamati. Tak lama kemudian sebuah rombongan tampak mendekat ke arah kediaman Elrick, rombongan itu terdiri dari beberapa orang pelayan wanita dan pria, di bagian depan Ara menangkap sosok seorang wanita yang persis sama seperti yang ada dalam ingatan Isabel. Wanita itu bahkan tampak tak berubah sedikitpun, sangat cantik dengan aura yang hangat terpancar dari tubuhnya.


"Yang Mulia Ratu telah tiba!"


Beberapa pelayan Elrick memberi hormat dan membukakan pintu untuk sang Ratu, mereka membiarkan sang Ratu masuk seolah itu adalah hal biasa yang mereka lakukan setiap hari. Rasa penasaran muncul di benak Ara. matanya tampak gatal untuk mengetahui apa yang Ratu dan Elrick lakukan di dalam sana, tapi tentu saja ia tak mungkin mendekat.


Seolah tahu kegundahan Ara, ingatan Isabel memunculkan cuplikan ketika Ibu Suri menggunakan kemampuan mata dewanya. Ara memejamkan mata dan fokus, ia memang bukan Ibu Suri tapi setidaknya darah yang sama mengalir di tubuhnya, jadi ada sedikut kemungkinan bahwa ia juga bisa melakukan hal yang sama. Setelah mengumpulkan energi dari dalam diri, Ara juga nenyelap energi alam dan menyatukannya, memfokuskan diri pada kedua matanya lalu ia membuka mata dan menatap ke arah kediaman Putra Mahkota.


Ara terkesiap, bukan hanya penglihatannya yang bisa menembus dinding, tapi juga pendengarannya sangatlah tajam.


"Ibu dengar dari ayahmu, kalau kau memiliki pengawal pribadi sekarang," ucap Ibu Suri seraya menggenggam tangan Elrick, cahaya merah berpendar dari dalam tubuhnya dan mengalir ke dalam tubuh Elrick.

__ADS_1


"Benar Ibunda, ia adalah murid Jenderal Arion yang telah melakukan sumpah kesatria untuk menjadi pengawal pribadiku."


Sang Ratu menatap putranya, "apa kau nyaman dengannya? Maksud ibu apakah kau yakin bisa mempercayainya?"


Elrick tersenyum, "dia telah menyelamatkan nyawaku satu kali, dan aku yakin bahwa saat itu ia bahkan tak menggunakan kemampuan terbaiknya, jadi ibunda tak perlu khawatir, mengingat ia juga merupakan murid satu-satunya Jenderal Arion, sudah pasti ia sangatlah hebat."


Ratu mengangguk-anggukkan kepalanya, "tunggu barusan kau bilang bahwa ia menyelamatkanmu? Menyelamatkanmu dari apa nak? Jangan berpikir untuk menyembunyikannya dari ibu! Bicaralah."


Elrick mendesah menyadari bahwa dirinya keceplosan, ia menatap mata sang Ratu dan mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami kemarin.


"Bolehkah ibu bertemu dengannya?" tanya Sang Ratu yang lebih tampak seperti sebuah permohonan.


Ara merasakan jantungnya berdegup kencang, ada rasa takut jikalau identitasnya terbongkar.


"Ara tolong kemarilah," suara Elrick menggema di dalam diri Ara, ini merupakan panggilan telepati yang bisa dilakukan antara tuan dan kesatrianya. Ara menarik nafas panjang dan memastikan kembali dengan teliti bahwa auranya telah tersegel, ia juga merapikan cadar yang ia kenakan, lalu dengan sihir ia berpindah dengan cepat dan muncul di dalam kamar sang Pangeran.


"Hormat hamba Yang Mulia Ratu, hormat hamba Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Ara seraya membungkuk pada keduanya yang kini tampak tengah menikmati kudapan sambil duduk berdampingan.


"Duduklah di sini," Sang Ratu menepuk sebuah bantal duduk di sampingnya.


Ara tak berani membantah, ia pun mendudukkan diri sesuai dengan apa yang dimau sang Ratu, tapi ia masih belum bisa menatapnya.


"Jadi siapakah namamu nak?"


Ara mengumpulkan keberanian dalam dirinya dan perlahan mengangkat wajahnya hingga kedua matanya bertemu dengan sepasang mata sang Ratu. "Amara Yang Mulia, tetapi Yang Mulia bisa memanggil saya Ara."


Senyum simpul terukir di wajah cantik sang Ratu, tangan kanannya terulur mengusap ringan rambut Ara yang tergerai, hingga Ara merasakan kehangatan yang mirip sentuhan Isabel, tapi bahkan kehangatan yang diberikan sang Ratu terasa menggetarkan hatinya. Kemudian tiba-tiba Ratu menarik tangannya dan beralih menatap Elrick.

__ADS_1


"Putraku, mulai besok bagaimana jika setiap jadwal makanmu kita makan bersama di tengah danau teratai?"


__ADS_2