Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Sebuah Keajaiban


__ADS_3

"Dulu, orang-orang mendewakan kami, seolah kami makhluk abadi, hingga kami lupa bahwa kami terlahir sebagai manusia. Kami lupa untuk hidup menggunakan perasaan kami, mendengarkan dan melindungi yang lemah, serta berjuang bersama yang kuat. Kami lupa akan pentingnya hidup sebagai makhluk sosial. Kami baru mengingatnya ketika kematian datang menjemput," ucap si pemuda diikuti anggukan kepala orang-orang di belakangnya.


"Kebencian terlihat di mata semua orang yang menyerang kami, tanpa ada belas kasihan, mereka merenggut nyawa kami dengan paksa, kami pun tahu bahwa kami tak pantas mengharapkan sebuah pertolongan, karena kami pun tak pernah mengulurkan tangan kami," pemuda itu tampak goyah, ia jatuh terduduk di hadapan Ara, sehingga tampak seperti sedang berlutut.


"Tapi sekarang aku ada di sini," Ara menatap pemuda di hadapannya. "Adakah yang bisa kubantu?"


Semua mata kembali menatap ke arah Ara, kini mereka tampak penuh harap seolah memohon dalam diam.


"Hal terakhir yang kami sesali adalah ketika dulu kami pernah menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan menyusahkan."


Semua laki-laki di belakang si pemuda, tampak berlutut bersamaan, wajah mereka tampak penuh penyesalan.


"Kami baru menyadarinya, ketika tidak ada satu pun perempuan yang tersisa di klan kami," si pemuda tampak mengepalkan kedua tangannya. "Kami menyadari bahwa kami sangat membutuhkan wanita, tanpa wanita hidup kami tak ada artinya. Kepunahan pun mengancam klan kami, hingga akhirnya kami dibutakan oleh tipu daya yang berkedok sebuah perjanjian demi meneruskan garis keturunan."


Si pemuda mengayunkan kepalan tangannya dengan teramat keras ke tanah, hingga debu berhamburan di sekelilingnya. "Kami marah, tapi tak berdaya. Kami ingin membalas dendam, tapi kami tahu bahwa perlakuan bengis mereka adalah cerminan dari perilaku kami terdahulu."


Ara menatap sendu pemuda di hadapannya, "bukankah wajar bagi manusia bila melakukan kesalahan?"


Pemuda di hadapan Ara mengangkat kepalanya hingga sejajar dengan sepasang mata Ara yang tampak masih basah.


"Yang tidak wajar adalah jika kalian melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, dan tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah kalian buat," Ara mencoba mengutarakan maksud dari perkataannya.

__ADS_1


"Setelah melihat kalian, aku paham jika kalian sangat menyesali semua kesalahan yang kalian perbuat," kata Ara melanjutkan. "Aku rasa itu sudah lebih dari cukup."


Ara menarik nafas panjang, dan menatap bergantian orang-orang di hadapannya, "sejak pertama kali bertemu, yang kudengar hanyalah jeritan penyesalan, tangisan, serta keputusasaan." Ara menarik bibirnya hingga memperlihatkan sebuah senyum tipis, "tahukah kalian, di balik semua kesedihan dan penyesalan yang kalian rasakan, aku yakin ada kebahagiaan yang penuh tawa. Apakah kalian mengingatnya?"


Semua mata saling berpandangan, tampak mencoba mencari kebenaran dari kata-kata Ara, sementara pemuda di hadapan Ara kini tampak menatapnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


Pemuda itu tersenyum, "ternyata kau memang benar keturunan Vinn, pemikiranmu sangat mirip dengannya."


Pemuda itu tampak menarik nafas panjang, "memang ada banyak hal yang patut kami syukuri, salah satunya adalah ketika kami sepakat menyegel kekuatan inti kami di sini."


Mata Ara melebar, jika mereka adalah orang yang meninggalkan inti kekuatan klan merah di gunung kebenaran, maka bukankah mereka semua harusnya telah mati?


"Saat itu kami mengabaikan pesan Vinn untuk menunggu, kami merasa sangat tidak sabar karena Vinn tak kunjung datang. Maka kamipun sepakat menerima perjanjian itu, tapi untungnya waktu itu Gentala terus mengingatkan bahwa kemungkinan besar perjanjian itu adalah jebakan. Maka tanpa sepengetahuan Vinn dan Gentala, diam-diam kami sepakat untuk menyegel kekuatan inti kami di sini sebelum akhirnya menemui klan lain yang ternyata telah menunggu untuk menghabisi nyawa kami."


Hati Ara kembali bergetar hebat, kehangatan menjalar di tubuhnya. Pemuda itu berbalik ke arah orang-orang di belakangnya dan memberi anggukkan, bagaikan memberi sinyal untuk memulai sesuatu. Setelahnya ia melangkah mendekat ke arah Ara dengan tangan kanan terjulur ke arah pucuk kepala Ara.


"Kami, seluruh leluhurmu memberi restu padamu untuk mewarisi inti kekuatan klan merah," kata pemuda di hadapan Ara.


"Kami, seluruh leluhurmu memberi restu padamu untuk mewarisi inti kekuatan klan merah," ucapan si pemuda terus diulang oleh orang-orang di belakangnya, ribuan untaian cahaya merah mulai memasuki pucuk kepala Ara.


Ara mengingat kejadian sebelumnya dan bersiap untuk menahan rasa sakit yang datang, namun Ara ternyata salah perkiraan. Bukannya rasa sakit yang datang, melainkan kehangatan yang teramat nyaman, seolah kehangatan yang kini mulai menjalar di tubuhnya, mengobati semua luka yang ia rasakan sebelumnya, melingkupi aura merah yang ada dalam dirinya.

__ADS_1


"Klik," bagaikan suara kunci yang terbuka, Ara merasa semua untaian cahaya merah yang masuk, membuka ruang lain dalam dirinya, memenuhi ruangan itu dengan cepat hingga anehnya Ara merasa lebih lengkap. Ia merasa apa yang hilang dari dirinya, kini telah terisi.


"Wahai keturunan Vinn, hiduplah dengan bahagia, kami akan selalu mendoakanmu dan menjagamu dengan kekuatan yang kami wariskan padamu."


Ara menangis tersedu-sedu, hingga ia tak mampu berkata-kata. Pemuda dan orang-orang di belakangnya, perlahan bangkit dan tampak berjalan menuju sebuah cahaya yang membutakan mata.


Sebelum menghilang, pemuda yang menyentuh pucuk kepala Ara sempat berbalik dan berbisik tanpa suara, Ara mengamati gerakan bibirnya, tapi akibat terlalu lelah dan cahaya yang teramat terang, Ara tak dapat menangkap pesan yang ia sampaikan hingga ia menghilang dalam cahaya.


"Apa yang ia katakan?" Ara merasa penasaran namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Tunggu, bagaimana caranya kembali?" tanya Ara bingung menatap desa klan merah yang masih ada di hadapannya.


"Kakek, apa kau mendengarku?"


Tak ada jawaban, Ara mencoba lagi. "Kakek?"


Ara menunggu beberapa saat, tapi tetap suara sang kakek tak terdengar. Ara mencoba menenangkan diri dan melihat sekelilingnya. Desa klan merah yang tadi terlihat ramai, kini tampak sepi dan kosong, hanya ada angin yang bertiup menyibak pepohonan. Bangunan-bangunan yang menjulang seolah tampak menyeramkan karena tak berpenghuni.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Ara mengepalkan kedua tangannya, ia mulai kedinginan, "apa aku terjebak di sini?"

__ADS_1


Ara menatap langit yang mulai menggelap di desa klan merah. Ia sadar, jika ia berdiam maka ia bisa mati kedinginan, maka ia mulai bergerak, berjalan mengikuti nalurinya, menjelajah desa yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya.


__ADS_2