
Ara menatap tiga laki-laki yang tak merasakan hawa keberadaannya, Ara menghela nafas panjang, ia mendengar pembicaraan ketiganya dengan jelas.
Angin bertiup kencang, Ara mengalihkan pandangannya, cahaya bulan membuat mata Ara menangkap indahnya gulungan ombak yang terus bergerak ke arahnya, hingga hilang menerjang butiran pasir, lalu kembali ke laut dan tak bosan melakukan hal yang sama berulang kali, seolah sang ombak selalu rindu menyapa butiran pasir di pantai.
Mengingat rindu, Ara teringat akan seseorang. Ia bergegas membuat portal tanpa menghilangkan mantra penghilangnya. Ara memasuki portal, dan dengan cepat ia tiba di sebuah kamar yang tak asing lagi di matanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba cucuku bersinar begitu terang?"
Ara menatap seorang wanita paruh baya yang kini tampak duduk dengan gelisah di hadapan Raja dan Ratu, ingatan Isabel memberitahu bahwa ia adalah Ibu Suri, nenek Ara yang sebenarnya.
"Tenanglah ibunda, jangan sampai kita membangunkan El," ucap Ratu mencoba menenangkan.
Ara mengikuti arah pandang ketiganya dan menemukan Elrick terlelap dengan mantra pelindung berlipat di sekitarnya, membuat senyum mengembang di wajahnya. Ara kembali melihat pembuat mantra-mantra itu, ia tahu kalau semua itu adalah bukti cinta dan kasih sayang mereka untuk Elrick, tak perlu dipertanyakan lagi, kehangatan keluarga kerajaan di hadapannya bahkan selalu menggetarkan hatinya, sungguh beruntung ia dapat melihatnya secara langsung.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Ibu Suri dengan tatapan curiga.
Sang Raja tampak menarik nafas panjang dan mulai membuka mulutnya, "putri telah kembali."
Ibu Suri tampak teramat terkejut, hingga matanya membulat dan tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Apa yang kau katakan? Bisakah kau mengulanginya?"
"Ibu, kami rasa Eleanor telah kembali," ucap Ratu sambil mengusap pundak Ibu Suri dengan lembut, matanya berkaca-kaca.
Hati Ara bergetar hebat, sekuat tenaga ia menahan air mata. Ara mencoba mengatur emosinya dan kembali fokus.
__ADS_1
"Lalu di mana cucuku?" tanya Ibu Suri sambil menatap Raja dan Ratu bergantian.
"Ia menghilang," jawab sang Raja.
"Jangan membuatku gila! Kalian baru saja bilang kalau Eleanor kembali, tapi barusan kau bilang kalau cucu cantikku hilang lagi? Oh ya ampun!" suara Ibu Suri mulai meninggi.
"Maafkan kami ibu, kami terlalu bahagia melihat Elrick bisa bersinar, di waktu yang sama Ara jatuh pingsan dan ia dibawa ke kamarnya untuk beristirahat, setelah itu kami benar-benar hanya fokus pada Elrick dan memeriksanya, ketika kami menemukan bahwa cahaya Elrick merupakan energi murni milik Aurora, dan kami sadar yang bisa melakukan itu hanyalah Eleanor, kami tidak menemukan keberadaannya, seolah ia kembali menghilang," sang Raja menjelaskan pada ibundanya.
"Tunggu, siapa Ara? Apa hubungannya dengan Eleanor?" tanya ibu suri bingung.
Ratu dan Raja pun menceritakan semua kisahnya kepada ibi suri, hingga air mata sang Ratu tak dapat dibendung lagi.
"Elea, ke mana kamu nak?" ucap Ratu di sela isak tangisnya.
Ibu Suri memeluk dan mengelus lembut punggung menantunya itu, matanya pun ikut berkaca-kaca tapi pandangannya menatap mata sang Putra dengan tajam.
Ara mundur beberapa langkah dan bersandar pada dinding, air matanya jatuh perlahan.
"Aku ingin kita bersatu sebagai keluarga yang utuh, tapi membuat pengumuman atas kembalinya Eleanor merupakan tindakan ceroboh yang dapat mengakibatkan perpecahan," ucap Ibu Suri menatap putra dan menantunya bergantian.
Ara terisak, ia tak mampu lagi mendengar percakapan yang terjadi di hadapannya. Sekuat tenaga ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu melangkah dengan gontai menerobos semua mantra pelindung yang mengelilingi Elrick. Tangan kanannya meraih pucuk kepala Elrick, Ara menutup matanya dan fokus pada satu tujuan hingga cahaya Elrick berpendar berkali-kali lipat lebih terang dari sebelumnya, kalung Elrick menyala merah terang.
"Jadilah Raja yang bijaksana," ucap Ara berbisik panjang hingga ia merasa seutas tali terpotong, kalung Ara pun kembali menjadi kalung biasa dengan liontin bola perak yang tak berpendar, Ara merasa asing dengan perasaan yang ia rasakan.
__ADS_1
"Sumpahnya terhapus!" Sang Raja tampak berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah ranjang Elrick. "Eleanor, kaukah itu?"
Ara tercekat, air matanya kembali jatuh tapi ia tak bisa diam dan tetap berada di sana. Ara merasa ia akan mengacaukan segalanya, maka ia kembali membuat portal. Suara wanita misterius yang tadi ia temui terngiang-ngiang di telinganya, "jika bosan menjadi orang baik, putuskanlah sumpahmu! Kau bisa memutuskannya sendiri karena kau lebih kuat dari pangeran bodoh itu, dan jika kau butuh persembunyian, pergilah ke balik gunung kuning, mereka akan senang menyambutmu!"
Ara memantapkan hatinya, ia melangkah masuk ke dalam portal dan mengikuti kata-kata si wanita misterius yang tak pernah menyebutkan namanya pada Ara. Di dalam portal Ara terus menangis, ia baru menyadari bahwa tubuhnya penuh luka akibat bertarung mati-matian, tangan kanannya menyentuh sebuah cambuk emas yang kini melingkar dipinggangnya layaknya sebuah belt, kejadian mengerikan yang tadi ia anggap mimpi buruk, kini terasa nyata akibat rasa sakit yang mulai terasa di sekujur tubuhnya. Tak hanya itu, hatinya bagai tersayat seolah ia menyadari bahwa kehadirannya tak pernah diinginkan karena hanya akan membawa bencana.
Ara menghentikan portalnya, ia memilih memenjarakan dirinya sementara di dalam sana. Ia mencoba menata pikirannya, ia mengingat kembali bahwa sedari awal tujuannya hanyalah untuk mengembalikan energi Ratu pada Elrick dan mati karenanya, tapi tanpa disangka kini tubuhnya menyerap energi alam dengan teramat baik, hingga ia dapat selamat walaupun telah mentransfer semua energi Ratu.
Harusnya Ara bersyukur karena masih bisa hidup, tapi Ara tak bisa melakukannya karena pada kenyataannya ia tak diinginkan. Keluarganya sendiri tak bisa menerimanya karena kehadirannya akan menimbulkan perpecahan, bahkan orang-orang yang ia kenal di negeri ini kesusahan karenanya.
Ara kehilangan tujuan hidupnya, ia ingin kembali ke dunia yang ia tinggali dengan Isabel, tapi wanita misterius itu telah memperingatinya sebelumnya.
"Jika kau mentransfer semua energi Ratu, maka kau tak memiliki kemampuan untuk kembali ke duniamu!"
Ara masih mengingat dengan jelas kata-kata wanita itu, ia kembali meringkuk dan menangis dengan keras, seolah dunianya telah hancur dan dirinya tak berharga. Ia bagaikan hidup segan matipun tak mau, tubuhnya bergetar hebat karena tangisannya yang semakin lama semakin menjadi.
"Jangan menjadi bodoh! Bangun dan pergilah ke balik gunung kuning, sekarang!"
Ara terkejut, ia menghentikan tangisnya dan memandang sekeliling berusaha mencari sosok wanita misterius itu, tapi ia tak menemukannya, padahal ia yakin kalau baru saja ia mendengar suaranya.
"PERGI SEKARANG ATAU KUBUNUH KAU!"
Suara wanita itu terdengar sangat marah hingga menggoncang portal Ara, ia pun kembali mengaktifkan portal dan bergegas menginjakkan kaki di tempat yang disebutkan oleh wanita misterius itu.
__ADS_1
"Selamat datang nona Ara!"
Ara mengerjap beberapa kali, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.