Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Terjebak di Desa Klan Merah


__ADS_3

Ara melangkah menyusuri jalanan desa klan merah, matanya mengamati setiap bangunan yang ia lewati. Corak warna setiap bangunan yang ada didominasi oleh warna merah, mulai dari merah cerah hingga merah yang tergelap dengan model rumah yang berbeda-beda tampak mengikuti selera pemiliknya. Angin bertiup ringan diikuti oleh dedaunan yang terbang searah, seolah menggiringnya ke suatu tempat.


"Sebuah alun-alun?" Ara menatap ke arah pusat dari 5 persimpangan, yang berbentuk lingkaran dengan air mancur dan bermacam-macam bunga bermekaran. Di tengah lingkaran terdapat menara jam raksasa yang bertuliskan Desa Klan Merah di atasnya.


"TENG...TENG....TENG...TENG...TENG....TENG..." Suara dentuman keras terdengar sebanyak enam kali, sesuai dengan jarum jam di menara yang kini telah menunjukkan pukul 6 tepat. Langit pun mulai menggelap, tapi tak disangka-sangka, tiba-tiba semua lampu menyala otomatis, baik lampu pada setiap rumah, lampu jalan, hingga menara jam yang kini tampak bagaikan tower hias dengan beraneka macam warna yang indah.


"Bagaimana bisa ada desa modern di masa ini?" Ara menatap berkeliling karena takjub. "Apakah tanpa sadar, aku kembali ke duniaku yang dulu?"


Tak dipungkiri, harapan untuk kembali ke dunia tempat tinggalnya dengan nenek Isabel bertambah besar melihat suasana desa klan merah yang tampak modern. Tapi kekosongan desa itu, membuat Ara kembali pada realita, bahwa harapannya hanyalah tinggal harapan kosong.


Ara kembali melangkah mendekati bunga-bunga yang bermekaran di alun-alun klan merah, wanginya semerbak dengan keindahan yang memanjakan matanya. Tiba-tiba seekor kunang-kunang tertangkap oleh ujung mata Ara, "wah ada kunang-kunang!"


Tanpa pikir panjang disertai senyuman riang, Ara mendekati kunang-kunang itu, namun ketika ia mendekat, kunang-kunang itu selalu menambah kecepatan di depannya. Ara merasa masa kecilnya kembali terulang, dulu sewaktu kecil, ketika malam datang Ara selalu bermain mengejar kunang-kunang di kebun bunga milik nenek Isabel. Sedari kecil Ara sangat menyukai kunang-kunang yang bersinar terang di gelapnya malam, karena setiap kali melihat kunang-kunang, Ara merasa seolah hanya kebahagiaan yang ia rasakan.


"Kenapa kau hanya sendirian? Kenapa pula kau terbang begitu cepat?" tanya Ara pada kunang-kunang di hadapannya yang tampak terus bergerak dengan cepat.


"Aaaah!" rintih Ara saat dirinya jatuh terjerembab di tanah. Ara menghela nafas panjang, ia mencoba berdiri dan membersihkan kedua tangannya yang kotor terkena tanah. Ara kini tersadar bahwa ia telah berada jauh dari alun-alun, tampaknya ia berada di sebuah bukit kecil di atas kota.


"Selamat datang Yang Mulia."


Ara tampak terkejut, melihat seekor kunang-kunang yang tadi ia ikuti, kini berubah menjadi ribuan ekor dan mereka membentuk tulisan selamat datang di hadapannya.

__ADS_1


"Apakah kalian membuatnya untukku?" tanya Ara pada gerombolan kunang-kunang di hadapannya.


Gerombolan kunang-kunang di hadapannya bergerak dengan cepat dan kini membentuk tulisan, "benar Yang Mulia."


Ara tanpa sadar membuka mulutnya karena terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apakah kalian yang menjaga desa ini?"


Tulisan yang tadi dibuat, kembali berkedip tampak sebagai sebuah jawaban yang sama. Ara mengangguk paham, "apakah kalian tahu bagaimana cara agar aku bisa keluar dari sini? Aku ingin kembali pada Gentala."


Kumpulan kunang-kunang di depan Ara kembali bergerak, kini membentuk tanda panah yang berkedip, setiap Ara melangkah hampir menyentuh anak panah yang mereka bentuk, anak panah baru terbentuk kemudian, begitu seterusnya.


Ara mengikuti anak panah yang mereka bentuk, melewati kebun bunga yang luas, hamparan berbagai macam bunga tampak menyatu dengan indah bagaikan pelangi, Ara lanjut menyusuri hutan yang sunyi, pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi menambah misterius suasana hutan itu, Ara terus melangkah hingga langkahnya terhenti di depan pagar yang ditumbuhi tumbuhan rambat dengan bunga berwarna ungu dan kuning.


Gerombolan kunang-kunang membentuk kata, "Dorong!"


Gerombolan kunang-kunang kembali mengedipkan cahaya mereka bagaikan sebuah anggukkan, tanda membenarkan ucapan Ara. Ara pun mengulurkan tangan kanannya ke arah tembok, tapi bukannya terbuka, tembok itu malah menyerot seluruh tubuhnya bagaikan sebuah portal yang ganas. Ara panik, tubuhnya serasa berputar bagaikan cucian di dalam mesin cuci yang ada di dunia tempat tinggalnya dengan nenek Isabel.


Perut Ara terasa mual, kepalanya pusing dan rambutnya berantakan. "Aaaahh!" Ara berteriak ketika tubuhnya terpental jauh, ia bersiap untuk pendaratan yang menyakitkan.


"Apa ini?" tanya Ara ketika merasakan dirinya mendarat pada sesuatu yang sangat empuk, mirip sebuah bantal raksasa. Ara membetulkan baju dan rambutnya, lalu berusaha bangkit dan melihat sekelilingnya. Gerombolan kunang-kunang kini tak lagi terlihat, Ara mencoba mencari sekelilingnya tapi tetap tak menemukan mereka, sama seperti suara sang kakek yang tiba-tiba menghilang ketika ia menginjakkan kaki di desa klan merah, kini gerombolan kunang-kunang juga menghilang.


Ara menghela nafas panjang, ia meminta kunang-kunang untuk mempertemukannya kembali dengan Gentala, tapi mereka malah membawanya ke tempat antah berantah.

__ADS_1


Ara menatap kakinya, alangkah kagetnya ia setelah menyadari bahwa dirinya tampak menginjak awan merah. Gumpalan awan yang sangat lembut dan empuk bagaikan bantal raksasa membuat Ara terbelalak.


Ara refleks menekuk tubuhnya dan berjongkok, mendekati awan yang diinjaknya. Ia menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh awan merah itu beberapa kali, sensasi baru dirasakan Ara, awan merah yang ia sentuh benar-benar sangat lebut, dan empuk, ketika ia menjauhkan tangannya, awan itu langsung kembali kebentuknya semula, tampak elastis dan luar biasa.


"Bisakah kau mengalihkan pandanganmu dari awan merah itu, cucuku?"


Ara terkesiap mendengar suara sang kakek yang kini terdengar lantang dan dekat. Ia mengangkat pandangannya dan seketika jatuh terduduk saking kagetnya.


"Kakek?" tanya Ara ragu dengan penglihatannya. Kakek yang ia lihat di gunung kebenaran adalah sosok kakek tua dengan rambut putih panjang terurai yang tampak sederhana, namun kini di hadapannya berdiri seorang pemuda yang usianya tampak masih tiga puluhan tahun, tak berbeda jauh dengan paman yang ia lihat di desa klan merah.


"Ya, apakah kau senang dengan petualangan yang baru kau lakukan?" tanya sang kakek di hadapannya.


"Petualangan?" Ara tampak bingung dengan maksud laki-laki di hadapannya. Ara bangkit berdiri dan mengamati lagi dengan pandangan matanya, "kenapa wujud kakek berubah?"


"Ah benar, kau pasti bingung dengan wujudku yang berubah, hahhaahaahaaa...."


Ara mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melihat laki-laki di hadapannya tertawa lepas seolah tak ada beban di pundaknya.


"Karena kakek meninggalkan tempat ini saat masih muda, maka fragmen kekuatan kakek yang tertinggal pun akan selalu berwujud muda seperti apa yang kau lihat sekarang nak, inilah wujud Vinn muda yang diceritakan oleh pamanmu, kau pasti telah bertemu dengannya di desa klan merah bukan?"


Ara mengingat pemuda perwakilan klan yang berbicara dengannya di desa klan merah, Ara pun mengangguk menjawab pertanyaan sang kakek.

__ADS_1


"Mereka adalah saudara-saudara kakek, walaupun kami memiliki orang tua yang berbeda, tapi inti kekuatan kami sama, maka kami adalah saudara satu klan." Kakek tampak menatap Ara penuh arti, "kakek sangat merindukan hari-hari bersama mereka, mereka semua adalah orang-orang yang sangat berarti bagi kakek, ada satu hal yang kakek sesali, yaitu membuat mereka menunggu terlalu lama, hingga pada akhirnya kakek terlambat."


Kakek berjalan mendekati Ara dan menatap Ara lurus ke dalam matanya, "kakek harap kau tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama."


__ADS_2