Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Lima Petinggi Gunung Kuning


__ADS_3

"DASAR IBLIS TIDAK TAHU DIUNTUNG!"


Teriak Agra kerika melihat gelombang angin berwarna hitam kelam, bagaikan ombak laut yang kotor, bergerak membabi buta, melahap semua yang ada di depannya.


"IBLIS JELEK TIDAK TAHU DIRI!" teriak Agra lagi ketika melihat pasukan kerajaan yang terjebak. Agra menggeram penuh amarah, tangannya sibuk terarah ke medan pertempuran, "jangan harap kau bisa menang iblis jelek!"


"BOOOOM....BOOOMMMM....BOOOOMMMM!"


Suara dentuman yang membahana terdengar memekakkan telinga, sekaligus membuat semua mata terpana, tiga buah gunung raksasa kini berdiri membujur membatasi gelombang angin hitam yang hendak melahap pasukan kerajaan yang mencoba menyelamatkan diri.


"HMMMM......!" Riley tampak turun tangan membuat barrier raksasa yang melindungi wilayah di belakang tiga gunung yang membujur.


Pasukan kerajaan yang amat terlatih, menyadari bahwa kesempatan tidak datang dua kali, mereka pun segera berlari, mundur ke arah basecamp.


Gelombang angin hitam tampak marah, hingga nampak semakin ganas, terus bergerak berulang kali menabrak tiga gunung raksasa ciptaan Agra, membuat Agra sedikit panik.


"Apakah kalian tidak mau menolongku? Kenapa kalian diam saja? Aku memang kuat, tapi kalau seperti ini terus, aku bisa mati!" Agra tampak merajuk pada Arva dan Ranu yang masih tampak tak bergerak.


"Untuk melawan gelombang angin hitam, setidaknya aku harus membentuk angin panas untuk membelokkan mereka, tapi itu tak bisa dilakukan tanpa api milik Arion," ucap Arva dengan mengedikkan bahu.


Ranu menghela nafas panjang, "aku juga tak bisa bertindak apa-apa, kau tahu kan jika aku melawannya dengan air, maka bisa menjadi senjata makan tuan!"


Agra mengepalkan kedua tangannya, giginya bergemeretak, menahan sakit yang mulai ia rasakan ketika gelombang angin hitam mulai membuat retakkan di gunung ciptaannya.


Riley menatap Hyana memberi instruksi, ia memahami situasi Agra yang mungkin tak bisa bertahan lebih lama. "Arva, bantu aku menebar benih, dan Ranu bantulah Hyana untuk menumbuhkannya dengan cepat," kata Riley membagi tugas yang dijawab dengan anggukkan.

__ADS_1


"Agra, buatlah pegunungan yang melingkar melindungi kerajaan, kau hanya perlu mengikuti barrier yang kubuat!"


Agra mencoba memfokuskan seluruh energi yang tersisa, Riley meninggalkan tempatnya berdiri dan meletakkan kedua tangannya di punggung Agra, menyalurkan aura inti sebagai tambahan energi bagi Agra.


Agra merasa kekuatannya bertambah, "BOOOOMMM....BOOOMM....BOOOMMMM.....BOOOOM...."


Riley kini menatap tujuh buah gunung raksasa membentuk lingkaran, dengan kerajaan yang terlindungi barrier berada pas di tengahnya, ia tersenyum dan menepuk pundak Agra beberapa kali, "kerja bagus, kau bisa beristirahat sebentar!"


Agra yang tampak kelelahan, seketika mengambil posisi duduk bersila dan memejamkan kedua matanya.


"Arva, Ranu, Hyana!" Panggil Riley sekaligus, yang membuat ketiganya bersiap. Riley mengeluarkan benih tanaman dari kedua tangannya, yang muncul terus menerus tak kunjung berhenti. Arva dengan cepat mengaktifkan kekuatan anginnya dan mulai menebar benih di seluruh pegunungan ciptaan Agra. Hyana dan Ranu menumbuhkan setiap benih yang dibawa oleh angin milik Arva, mereka melakukannya dengan cepat, secepat tiga kedipan mata hingga benih yang dikeluarkan Riley kini tak lagi tersisa.


Lima menit kemudian, tujuh pegunungan yang tadinya hanya berupa tumpukan raksasa tanah coklat, kini tampak penuh dengan warna hijau dengan pohon-pohon raksasa yang tumbuh memenuhi setiap permukaan gunung.


"BUKANKAH SEKARANG SAATNYA KAU BERHENTI? APAKAH IBLIS SEPERTIMU JUGA TAK PUNYA OTAK?" teriak Riley dari atas awan.


"DASAR PENGGANGGU SOK SUCI! BUKANKAH KALIAN HARUSNYA SIBUK MENGURUS GUNUNG KUNING? KENAPA TIBA-TIBA MENJADI TERLALU PEDULI DENGAN URUSANKU?" teriak sang iblis raksasa ke arah lima petinggi Gunung Kuning.


"Bukankah kau juga seharusnya sibuk di dunia kegelapan? Kenapa malah repot-repot datang menyerang kerajaan Naga Merah?" tanya Arva menimpali dengan senyum sinis terukir di bibirnya.


"HAHAHAHAAAAAA......." Suara tawa Agra terdengar menggelegar dan lantang, ia yang tadinya memejamkan kedua matanya, kini membuka matanya dan memandang tajam ke arah sang iblis raksasa. "Arva, bagaimana mungkin dia bisa sibuk di dunia kegelapan? Perlu kalian tahu, iblis rendahan di hadapan kita ini adalah Akuji, iblis yang telah diusir dari dunia kegelapan bahkan oleh Rajanya sendiri! Jadi bagaimana bisa dia menyibukkan diri di dunia kegelapan? Mungkin apa yang dia lakukan sekarang adalah satu-satunya caranya bertahan, hahhahahaaaaa....."


Agra tersenyum mengejek, beberapa saat yang lalu, ketika sang Iblis mulai berwujud dan menginjakkan kaki di tanah, Agra pun mulai mengidentifikasi asal muasal sang iblis dengan mencocokkan ingatannya, karena semua yang bersentuhan dengan tanah, akan otomatis terasa familier baginya.


"Ah pantas saja, kau pasti juga tak punya otak hingga dimanfaatkan oleh manusia sebagai alat!" ejek Arva menimpali kata-kata Agra.

__ADS_1


"DIAM KALIAN!!" Kali ini Akuji dengan cepat menggunakan kedua tangannya yang besar dan bercakar, ia menarget awan pijakan kelima petinggi gunung kuning. Cakarnya mencabik-cabik awan putih raksasa itu dengan kasar dan membabi buta.


"DASAR GILA!" Agra tampak marah mengikuti seluruh rekannya terbang meninggalkan awan pijakan mereka.


Riley menjentikkan jarinya, seketika pepohonan raksasa yang baru tumbuh di pegunungan, kini mengeluarkan ribuan salur panjang dan besar, mereka merambat ke arah Akuji dan mulai melilit tubuhnya tanpa ampun.


"AAAAAAAAAHHHHH! APA INI? MENJIJIKKAN!" teriak Akuji sambil memberontak hebat. "BOOOM..." Akuji terkapar di tanah dengan sulur pepohonan yang melilitnya erat.


"HAHAHAHAHAHA........!" Agra dan Arva tampak menyatukan kedua tangan mereka, melakukan tos sambil masih melayang di udara, di samping Riley, Ranu dan Hyana.


"Kalian cepat keluarlah dan tolong aku! Hanya aku yang bisa mengalahkan mereka, maka bebaskan aku sekarang juga!" pinta Akuji dengan suara yang melemah dari sebelumnya.


"Siapa yang dia mintai tolong? Bukan kita kan?" tanya Agra bingung dengan sikap Akuji.


Ranu menggeleng, "bukan, aku rasa ia meminta pada orang-orang yang ada di balik pemberontakan ini."


"Apakah mereka akan menolongnya?" tanya Arva penasaran.


Hyana menghela nafas panjang, "kalau mereka pintar, tentu mereka akan lepas tangan."


Riley tersenyum, "tampaknya mereka tidak sepintar yang kau harapkan, Hyana!"


Hyana menatap ke arah pandang Riley dan menemukan tiga orang tua terbang mendekati Akuji dengan ribuan pasukan yang mengikuti mereka berjalan di tanah. Ribuan pasukan berbaju zirah tampak memakai tiga warna berbeda layaknya tiga orang tua yang terbang di atas mereka.


Agra menangkap identitas orang-orang yang datang sambil menghela nafas panjang, "aaah Klan ungu yang merasa paling terhormat, Klan biru yang merasa paling kaya, dan klan orange yang merasa paling rupawan. Rupanya mereka yang ada di balik ini semua!"

__ADS_1


"Hmm benar-benar tidak tahu diri!" ucap Arva kesal.


__ADS_2