Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Riley, Agra, Ranu, Arva dan Hyana


__ADS_3

Riley mendekat ke arah Ara dan berbisik tepat di telinganya, "Agra merupakan penguasa tanah, ia lemah terhadap sikap rendah diri tapi gampang tersulut terhadap sebuah keangkuhan, dan baru saja Yang Mulia tampaknya telah berhasil menyentuh titik lemah Agra."


Ara memutar bola matanya dan merasa tidak melakukan apapun hingga bisa membuat sikap sang penguasa tanah berubah drastis dalam sepersekian detik.


"Berdirilah Agra," ucap Ara seraya mengulurkan tangan kanannya.


Agra menatap uluran tangan Ara dengan mata berbinar, ia pun mengulurkan tangan kanannya hendak menerima uluran tangan Ara ketika sebuah tongkat kayu memukul keras tangannya.


"Ah! Apa yang kau lakukan?" protes Agra marah ke arah Riley.


"Kau lebih dari mampu untuk berdiri dengan kemampuanmu!"


Agra menatap sebal ke arah Riley, membuat Ara bingung. Hyana tampak melihat kebingungan Ara dan mendekatinya.


"Saya harap Yang Mulia cepat membiasakan diri, karena mereka sangat sering bertengkar," kata Hyana lirih.


"Benarkah? Bukankah ini tidak baik?" tanya Ara cemas.


"Tuan Agra pernah marah pada Tuan Riley hingga kami tak dapat menumbuhkan tumbuhan baru selama satu tahun lamanya, dan bukan hanya mereka berdua, masih ada tiga lainnya," kata Hyana lirih yang diikuti dengan senyum misterius.


"BISAKAH KALIAN DIAM!"


Ara mencari ke asal suara dan menemukan, dua orang laki-laki menaiki sebuah awan besar bersama, yang satu menampakkan wajah setenang air dan yang satunya lagi tampak teramat tegas, dengan alis yang bertaut tampak marah.


"Yang Mulia, laki-laki yang tampak teramat tenang dan memegang tongkat sebening air di tangan kanannya merupakan tuan Ranu, sang penguasa air. Sedangkan laki-laki yang tampak tegas di sampingnya, adalah tuan Arva sang penguasa angin," bisik Hyana di telinga Ara.

__ADS_1


Ara mengamati Arva yang tampak tak bisa menahan emosinya, tapi bertolak belakang dengan emosinya yang tampak bergejolak bagaikan api yang meledak-ledak, fisiknya terlihat amat rupawan dengan kulit putih bersih, pakaian serba putih, rambut panjang putihnya yang dibiarkan tergerai menambah kesan keagungan yang luar biasa, siapa pun yang melihat wajah Arva tak akan ada yang akan mempertanyakan dirinya, karena tampak seperti sebuah kesempurnaan yang luar biasa.


"Tenangkanlah dirimu, Arva."


Ara beralih ke arah Ranu, rambut biru bergelombang sebahu miliknya tampak diikat rapi, wajahnya yang selalu tenang membuat siapapun menurunkan kewaspadaan mereka, ia memakai baju biru laut dengan tongkat ktistal sebening air di tangan kanannya, dan Ara sedikit terkejut ketika melihat di bawah alas kaki Ranu tampak seperti genangan air yang akan mengikuti langkahnya ke manapun ia berjalan.


"Tuan, kalian berdua tampak sangat menakjubkan." Pujian keluar begitu saja dari mulut Ara tanpa bisa ditahan, mata Ara berbinar cerah diiringi dengan senyum simpul ke arah keduanya.


Ranu dan Arva, mengalihkan pandangan mereka dari Riley dan Arga, ke arah Ara. Mereka tampak mengamati Ara sekilas, lalu dalam sepersekian detik, keduanya bersimpuh secara bersamaan di hadapan Ara.


"Hormat hamba Yang Mulia Ratu," ucap keduanya bersamaan dengan suara yang bergema.


Ara terkesiap dengan tingkah keduanya yang dengan cepat bersimpuh dan memberi hormat padanya tanpa meragukan identitasnya sedikitpun. Ara mendudukkan dirinya di hadapan Ranu dan Arva, seketika Agra, Riley, Hyana dan seluruh makhluk di hadapannya turut bersimpuh, seolah tindakannya mendudukkan diri adalah tindakan yang tak boleh ia lakukan.


Ara menyapukan pandangannya, kelopak-kelopak bunga berterbangan dengan indahnya seolah menyambut kedatangannya di Gunung Kuning. Ara berdiri perlahan dan mengambil nafas panjang, ia mencoba melawan gemuruh di dadanya.


"Berdirilah," ucap Ara dengan suara yang sedikit bergetar.


Semua makhluk di hadapan Ara mengikuti perintahnya dan segera berdiri, dengan masih menampakkan rasa hormat di wajah-wajah mereka, Ara mengamati satu per satu dan menemukan banyak makhluk setengah manusia dan hewan yang belum pernah ia temui sebelumnya, layaknya keluar dari negeri dongeng.


"Terimakasih telah memberiku penghormatan yang bahkan menurutku, aku sangat tidak pantas menerimanya. Sampai saat ini aku masih berpikir bahwa kalian salah mengenaliku, dan menganggapku sebagai orang lain."


Ara mencoba menangkap reaksi dari orang-orang di hadapannya, tapi ia sama sekali tak menemukan perubahan emosi serta raut muka mereka, semua makhluk di hadapannya tampak tenang dan tak terpengaruh, dengan mata yang masih teramat fokus menatapnya.


Ara menutupi keterkejutannya dengan mengulas senyum di wajahnya, "tolong bantu aku ke depannya untuk bisa hidup berdampingan dengan kalian semua, terimakasih telah mau menerimaku dengan hangat, aku takkan pernah melupakan kebaikan kalian yang teramat mulia ini. Sekali lagi, terimakasih."

__ADS_1


"Hidup Yang Mulia Ratu, panjang umur Yang Mulia Ratu!"


Ara merasakan hatinya penuh dengan perasaan bahagia, hingga terasa sedikit sesak, tenggorokannya terasa tercekat, dan matanya mulai basah, air matanya menetes mengalir di pipi mulusnya.


"Oh tidak Yang Mulia," ucap Agra membuyarkan lamunan Ara. Agra berangsur ke hadapan Ara seraya bersimpuh dan melebarkan jubahnya, seolah berniat mrnampung air mata Ara yang jatuh. "Tolong berhentilah menangis Yang Mulia, atau mereka akan marah kepadaku karena membuat anda meneteskan air mata," Agra tampak panik menatap Ara dengan memohon.


"Apa maksudmu? apakah air mataku menyakitimu?" tanya Ara bingung, ia teringat sapu tangan Hyana yang masih ada di tangannya dan segera mengusap air matanya dengan cepat, takut kalau ia menyakiti Agra.


"Setiap tetes air mata Yang Mulia, merupakan kesedihan bagi setiap makhluk dan benda di Gunung Kuning, Yang Mulia teramat berharga bagi kami, sehingga satu tetes air mata Yang Mulia dapat menghidupkan amarah kami yang terpendam, amarah kepada siapa saja yang membuat Yang Mulia terluka," ucap Agra masih dengan jubahnya yang terbentang.


"Tapi ini adalah air mata bahagia."


Seketika semua mata tertuju pada Ara tampak meminta penjelasan. Ara tersenyum simpul, "Di dunia ini ada dua jenis air mata, yaitu air mata kesedihan dan air mata kebahagiaan."


Agra berdiri dengan cepat, "benarkah itu Yang Mulia?"


Ara tertawa lebar melihat reaksi Agra, membuat orang-orang di sekitarnya terpana. Ara mengangguk pelan pada Agra, "tentu saja benar! Maka jika aku meneteskan air mata lain kali, jangan pernah langsung menyimpulkan bahwa aku terlarut dalam kesedihan, siapa tahu itu adalah air mata kebahagiaan."


"Bagaimana membedakannya?" tanya Ranu tertarik.


"Waktu akan menjawabnya," Ara tersenyum misterius ke arah sang penguasa air.


Ranu menatap Ara masih dengan mata biru penuh ketenangan, "hamba akan menunggu sang waktu, Yang Mulia."


Riley menyeringai lebar di belakang Ranu, menahan tawa kerasnya yang hampir meledak. "Oh gawat, aku lupa memanggilnya pulang!"

__ADS_1


__ADS_2