
Hyana menatap Ratu barunya yang berjalan menjauh, setiap langkah kakinya mengeluarkan cahaya terang yang membuat tanaman yang ia lewati seketika berbunga, pohon-pohon yang layu kembali segar, burung-burung pun berkicau seolah bahagia atas kedatangan sang Ratu. Kekaguman Hyana membuatnya terpaku di tempat, hingga sang Ratu menghentikan langkahnya, nampaknya sang Ratu tertarik akan sesuatu yang ada di samping kirinya. Sang Ratu memutar tubuhnya dan menatap dengan penuh penasaran, Hyana bertanya-tanya dalam hati, apakah yang bisa membuat Ratu sepenasaran itu?
Ia memutuskan untuk mendekati Ratu, namun tampaknya junjungannya itu telah kembali melangkah lebih dulu.
"AAAH!" Sang Ratu berteriak, Hyana mempercepat langkahnya.
"Yang Mulia," ucap Hyana panik melihat darah menetes cukup deras dari ujung jari telunjuk sang Ratu, Hyana mencoba mendekat, namun lagi-lagi kalah cepat. Ia melihat bunga mawar liar berduri menampakkan bercak darah pada beberapa durinya, Hyana tampak menatap mawar liar itu kesal dan memberi peringatan, tapi bunga nan berduri itu tak merasa bersalah karena melukai sang Ratu.
Ratu Gienka kini melangkah ke tepi danau mutiara, tetesan darah dari ujung jari telunjuknya jatuh menetes menyatu dengan air danau mutiara yang berkilau. Hyana terkesiap, ia menatap dengan takjub. Tetes pertama darah sang Ratu membuat danau berwarna merah darah, tetesan kedua yang jatuh berhasil membuat ikan-ikan melompat bagaikan menari, dan tetesan ke tiga membuat gunung kuning berguncang hebat.
Hyana hendak meraih tubuh sang Ratu, ketika goncangan terus bertambah kencang hingga membuat dirinya jatuh terduduk. "Yang Mulia!" seru Hyana mencoba menyadarkan sang Ratu, namun tampaknya Ratu barunya sama sekali tak mendengar teriakannya.
Hyana nerasakan energi luar biasa menekan tubuhnya hingga ia tak bisa kembali berdiri. Legenda mengatakan bahwa penguasa terdahulu menjadikan danau mutiara sebagai tempat tinggal pelindung agung gunung kuning, maka sejak saat itu danau mutiara selalu dianggap sakral oleh semua penduduk gunung kuning, tak ada yang berani mendekat tanpa salah satu penguasa di samping mereka karena secara tidak tertulis, mereka paham bahwa mereka harus menjaga kesucian dan tak mengganggu kedamaian sang pelindung agung. Namun mata Hyana kembali terbuka lebar ketika melihat sang Ratu mencelupkan ujung jari telunjuknya yang berdarah ke dalam danau, air danau tiba-tiba membentuk pusaran yang berpusat tepat pada jari telunjuk Yang Mulia Ratu, semakin lama semakin bertambah besar.
"YANG MULIAAA!" teriak Hyana sekuat tenaga, ia berusaha beranjak dari tempatnya sekuat tenaga, tapi tekanan di tubuhnya semakin kuat pula. Petir dan kilat menyambar, hujan seketika turun dengan derasnya, angin bertiup kencang, tanah bergoncang hebat, air danau mutiara yang selama ini tampak teramat tenang, kini bergejolak hebat.
"HYANA!"
Hyana menoleh ke asal suara dan mendapati ke empat penguasa terbang ke arahnya dari empat penjuru. Riley menyentuh pundak Hyana hingga terlihat lapisan pelindung di sekujur tubuh Hyana, membuat tekanan yang dirasakannya memudar. Riley membantu Hyana berdiri, "apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
Sebelum Hyana sempat menjawab, Agra tampak mendapati pusat dari segala keanehan yang terjadi. Ia terbang secepat kilat ke arah sang Ratu yang entah bagaimana kini tengah berdiri di tengah pusaran air danau mutiara, tapi angin tampaknya menahan pergerakan Agra, hingga ia terpental jauh dan jatuh keras di tanah.
Ranu dan Arva mencoba mengerahkan kekuatan mereka untuk mengendalikan air dan angin, mereka tampak menyatukan kekuatan dan terhanyut dalam diam, tapi bukannya membaik, keadaan malah semakin memburuk, angin yang tadinya bertiup kencang kini mulai membentuk topan yang mengelilingi danau, semakin lama semakin membesar.
"AAHH!" Ranu dan Arva berteriak bersamaan, keduanya memuntahkan darah segar dari mulut mereka dan terbatuk keras hingga bersimpuh di tanah, tak berdaya.
Riley mentransfer energinya pada ketiga penguasa guna mencegah cidera bertambah parah.
"Awas, hati-hati tuan!" Hyana berteriak ngeri melihat pusaran topan bergerak cepat ke arah ke empat penguasa.
Riley terbelalak dan menjentikkan jarinya dengan cepat, ia memindahkan ketiga penguasa dengan cepat ke arah Hyana dan membentuk lapisan pelindung. Nafas Riley tampak berpacu cepat, sedetik saja ia terlambat, maka nyawa mereka bisa terancam!
"Kalian tunggu di sini," ucap Riley bersiap menembus lapisan pelindung, tapi belum sempat ia bergerak, pusaran angin telah berhasil melahap sang ratu.
"Oh tidak, Yang Mulia!" Agra terduduk lemas, menatap dengan nanar.
Pusaran angin tampak menyatu dengan pusaran air, melahap Ratu Gienka dengan termat cepat, tanah bergoncang lebih hebat, hujan tampak marah dan turun semakin deras. Petir dan kilat menyambar ke arah pusaran air dan angin yang menyatu.
"Aku tidak bisa membiarkannya, kita harus menyelamatkan Yang Mulia!" Ranu menatap ke arah semua orang di lapisan pelindung.
__ADS_1
"Aku setuju dengan Ranu, kita harus cepat bergerak sebelum terlambat!" Agra bangkit dengan tatapan penuh tekad.
"Tunggu," ucap Riley tegas.
"Apa maksudmu untuk menunggu? Apa kau tidak lihat kalau Ratu dalam bahaya?" Kata Agra penuh amarah.
"Tenang dan lihatlah Agra," Arva tampak menunjuk ke arah pusat pusaran. "Riley benar, kita tidak boleh mengganggu dan hanya bisa menunggu."
Sepuluh tatapan mata beralih ke arah yang ditunjuk Arva, awalnya mereka hanya pusaran angin dan air yang menyatu dengan kilat dan petir yang menyambar di sekelilingnya, tapi jika dilihat lebih teliti dan menajamkan indera penglihatan mereka, mereka mendapati sang Ratu tampak duduk bersila dengan kedua tangan menyatu di depan dada, Yang Mulia tampak tenang dan tak terusik, bagaikan bertapa di dalam gua yang tenang.
"Apakah mataku menipuku? Apakah ini hanya ilusiku saja? Kenapa Ratu tampak sangat tenang?" tanya Agra bertubi-tubi, karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tampaknya kita akan menjadi saksi dari sejarah penting yang akan terjadi, kalian harus melihat, mengamati dan mengingatnya baik-baik," kata Riley tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baik," seru semuanya bersamaan.
Waktu demi waktu berlalu, Sang Ratu yang bersimpuh penuh kedamaian, kini memancarkan sinar yang teramat terang, petir dan kilat yang menyambar kini menghilang bagai terserap ke dalam tubuh Sang Ratu, angin pun melembut, air tak lagi bergejolak.
Seketika Ratu Gienka membuka mata, Hyana dan ke-empat penguasa tampak terkejut, pandangan mata sang Ratu begitu kuat, mereka jatuh terduduk karena aura majestik yang begitu besar hingga ke-empat penguasa pun tak dapat menampiknya, lapisan pelindung Riley bahkan tak berguna sama sekali.
__ADS_1
"Hormat kami Yang Mulia," ucap kelimanya bersamaan.