
"Reona, jika nanti aku pergi, tolong jaga Pangeran Elrick. Ia akan menjadi pemimpin yang hebat, tapi rintangan yang ia lewati juga tak akan mudah. Tolong lindungi ia, Reona."
Reona melingkarkan tubuhnya, "hamba berjanji akan selalu berada di samping Pangeran Elrick dan melindunginya, namun ke manakah Yang Mulia pergi?"
Eleanor tersenyum simpul, "entahlah Reona."
Ingatan Reona berkelebat dalam kepala Gentala, bagaikan mimpi. Permintaan Eleanor kepada Reona terngiang di ingatan Gentala.
"Kau telah melihatnya, maka kembalilah pada ragamu, Gentala. Yang Mulia pasti membutuhkanmu," Reona mencoba menyadarkan Gentala.
"Aku tahu kalau kau masih belum bisa memaafkan keluarga kerajaan, tapi bukankah yang terpenting sekarang adalah Yang Mulia?" tanya Reona.
"HMMMM......" Gantala menggerung kesal, tapi ia tak bisa membantah kebenaran dari perkataan Reona. Ia tahu bahwa Eleanor membutuhkannya. Gentala membuka portal dan menghilang tanpa berkata lagi.
Seketika aura naga emperor pun menghilang, ibu suri, raja, ratu dan klan putih tampak terduduk lemas, seolah mereka baru saja kehilangan banyak darah.
"Nenek, ayah, ibunda," panggil Elrick seraya mendekat ke arah ketiganya yang terduduk lemas.
"Reona tolong panggil bantuan," perintah Elrick.
"Baik Yang Mulia," ucap Reona seraya terbang menjauh.
Elrick menggunakan kekuatannya dan memberikan semangkok air untuk semua orang dengan sihir.
"Ayahanda, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa naga pelindung teramat murka?" tanya Elrick ketika melihat keadaan ayahnya berangsur membaik.
"Elrick, bawalah nenek dan ibumu pulang. Ada yang harus ayah dan Jenderal Arion lakukan," perintah Aaron tanpa menjawab Elrick.
Elrick tahu mungkin memang sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas apa yang telah terjadi, ia pun mematuhi perintah ayahnya. Ia merangkul ibu suri dan ratu, lalu membuat portal untuk mengantar keduanya pulang beristirahat.
"Melihatnya bisa menggunakan portal dan sihir, aku kira aku akan bahagia, tapi ternyata tidak," kata Aaron setelah melihat putranya menghilang.
"Aku sudah memperingatkanmu dulu, tapi kau tak mau dengar!" Arion menghela nafas kasar. "Penyesalan selalu datang terlambat, tapi bukan berarti tak ada jalan untuk memperbaikinya."
__ADS_1
"Kalau ternyata Eleanor yang tadi datang menolong, bukankah sekarang ia terluka parah? Arion, apa yang harus aku lakukan? Putriku hampir mati dua kali karena kembali ke dunia ini!"
Aaron tampak menatap pilu ke arah Arion, ada keputusasaan dan rasa bersalah yang tercermin darinya.
"Mereka datang," Arion menatap ke arah naga merah yang terbang membawa para penyembuh, diiringi Luke, Olsen, Alardo dan Blevine. "Biarkan penyembuh bekerja lebih dulu, Aaron."
Aaron mengangguk lesu, matanya tampak menerawang jauh. Para penyembuh yang datang langsung merawat Raja, Jendral Arion dan klan putih.
"Hormat kami Yang Mulia, Jendral Arion," ucap Alardo dan Luke bersamaan, sementara naga merah kembali terbang menjauh.
"Tuan Alardo, apa kau tahu di mana Ara?" tanya Arion sembari mendapat perawatan dari penyembuh.
Luke tampak kaget dengan pertanyaan tiba-tiba Arion pada Alardo, ia mengedarkan pandangan dan menemukan para tetua klan putih. Luke melakukan telepati dengan cepat, "Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Laki-laki berjanggut panjang, menjawab pertanyaan Luke dan menjelaskan semua kejadian yang terjadi.
"Lindungi Alardo, jangan ikut campur jika tak diberi perintah!"
"Maaf Jenderal, hamba sibuk mengantar klan putih untuk melakukan ritual dan langsung kembali menuju medan pertempuran," jawab Al setelah memutus telepatinya dengan Luke.
Mata Arion menelisik ke dalam mata Alardo, "kuharap kau bijaksana dalam mengambil keputusan." Arion mendekatkan wajahnya ke wajah Alardo, "di mana Yang Mulia Eleanor?"
"Apa yang kau lakukan Jenderal?" laki-laki berjanggut putih panjang menghampiri sang jendral yang tampaknsedang mengintimidasi Alardo.
"Kau selalu datang tepat waktu ketika keponakanmu dalam masalah, Agnor." Arion menjawab pertanyaan tetua klan putih tanpa memalingkan wajahnya dari Alardo, tangannya mencengkeram baju Alardo kuat. "Aku bertanya pada ponakanmu tentang keberadaan seseorang yang mungkin sekarang sedang bertarung melawan maut, tapi dia menutupinya dengan egois. Bukankah apa yang kulakukan sudah tepat, Agnor?"
"Arion tenanglah!" ujar Aaron mencoba menengahi.
"Diam kau! Kalau kau merasa bersalah, maka diamlah!" bentak Arion dengan amarah yang membludak, emosinya tak terkendali.
"Lepaskan dia Jenderal, keponakanku bukanlah seorang pengkhianat, yang akan membiarkan seseorang mati tanpa peduli."
Arion menatap mata Alardo yang tak gentar menatap balik padanya. Keberanian dan keteguhan hati Alardo membuat Arion terusik, ia tak dapat menguasai emosinya.
__ADS_1
"Kalau kau tak melepasnya, maka jangan salahkan aku untuk ikut campur!" Agnor mengetukkan tongkatnya.
"ARION BERHENTILAH! INI PERINTAH!" Aaron mengaktifkan energinya yang telah dipulihkan oleh penyembuh. "Jika kau masih menganggapku rajamu, maka berhentilah Arion!"
Bayangan Eleanor yang tak berdaya menghantui benak Arion, ia tak mampu hidup jika sesuatu yang buruk terjadi pada Eleanor. Arion melepas cengkeraman tangannya, ia berdiri dan berjalan menjauh tanpa bicara dengan langkah gontai.
"Tolong maafkan Arion, Agnor! Dia sedang dalam kondisi yang tak baik, kuharap kau memakluminya."
Agnor mengangguk patuh, "tentu Yang Mulia."
Aaron mendekat ke arah Alardo dan menepuk pundak Alardo. "Maafkan Arion, Al." Tangannya berhenti menepuk pundak Alardo, ia menatap mata Al, "aku tahu dibalik keputusanmu, hanya ada tujuan baik nan tulus. Aku akan menunggu hingga kau mau memberikan kesempatan pada seorang ayah sepertiku."
"Yang Mulia," Alardo menunduk di hadapn sang Raja. Hatinya berkecamuk mendengar Rajanya mengalah demi putrinya, ia tahu bahwa sang Raja berhak diberi kesempatan, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Aku percaya padamu, maka tolong lindungi dia Al. Katakan padaku jika kau butuh bantuan," ucap Aaron sambil menepuk pundak Alardo.
"Aku pamit pergi, maaf atas semua yang terjadi," kata Aaron seraya menghilang dalam portal yang dibuatnya.
"Apa kau baik saja, tuan?" Luke memeriksa Alardo dengan cermat.
"Berhentilah Luke, aku masih utuh dan bernafas, kau tak perlu khawatir." Al tersenyum simpul menatap wajah khawatir sepupunya yang sejak kecil selalu memanggilnya dengan tuan, "tampaknya kau yang lebih perlu dikhawatirkan."
Agnor menghela nafas panjang melihat interaksi di depannya, "melihatmu masih bisa bergurau di saat seperti ini benar-benar membuatku kesal. Sadarkah kau bisa kehilangan nyawa lima menit yang lalu?"
"Hei tenanglah paman, jangan terlalu khawatir, nanti ubanmu bertambah banyak!" Alardo merangkul pundak pamannya dengan senyuman lebar.
"Rambut ayah memang telah putih semua, uban bertambah pun tak adanya bedanya!" sahut Luke dengan polosnya.
"Apa kau bilang?! Apa kau bilang kalau ayahmu ini tua renta? Dasar anak nakal!" Agnor mengejar Luke yang melarikan diri dengan senyum tengilnya.
"Tuan Al, cepat kabur sebelum si tua renta mengejarmu!" teriak Luke sambil terus berlari menghindari kejaran ayahnya.
"KEMARI KAU ANAK NAKAL!!!" Agnor berteriak sambil mengacungkan tongkatnya, mengejar Luke yang tak punya keinginan untuk berhenti.
__ADS_1