Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Fragmen Eleanor


__ADS_3

"Ara? Elea? Eleanor? Tetaplah bersamaku, jangan tertidur sebelum kita sampai!"


Ara membuka matanya, ia melihat sang penyihir cantik menatapnya dengan cemas, angin terasa menyibak kuat tubuhnya yang terbang di atas awan. "Bibi penyihir, sebenarnya siapa dirimu? Kenapa kau selalu hadir di saat aku tak berdaya?" tanya Ara dengan suara lemahnya.


"Aku? Aku pelindungmu nak, sama seperti Gentala.. Oh teruslah bicara, kita akan segera sampai di gua tempat ragamu berada, bertahanlah," ucap penyihir cantik sambil terus mempercepat lajunya, ia tak bisa membawa fragmen Eleanor melewati portal, karena fragmennya terlalu lemah, beresiko untuk hancur di tengah jalan.


"Siapakah namamu bibi?" tanya Ara lagi.


"Ariadna, tuan Vinn meninggalkan tugas padaku, untuk menjagamu."


Ara tersenyum simpul dengan sisa kekuatannya, Ariadna terlihat sangat cantik di matanya dengan rambut yang terurai terbawa angin. "Apa yang terjadi jika fragmenku menghilang bibi?"


"Tidak akan! Fragmenmu tidak akan menghilang! Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai, kita hampir sampai di lapisan pelindung."


Ara merasa sangat mengantuk, "maafkan aku bibi, terimakasih telah menjagaku." Ara memejamkan matanya, tak kuat lagi menahan kantuk yang menyerang.


Ariadna gelisah, "Ara? Elea? Eleanor?" Ia mengguncang fragmen Eleanor, tapi sama sekali tak bereaksi. Ariadna memperlambat lajunya, hingga ia berhenti di depan lapisan pelindung, ia melihat berkeliling namun tak menemukan sosok Gentala. "Apakah aku bisa menembusnya? Oh ya ampuun di mana naga sok sakti itu?"


"Apa kau mencariku?"


Ariadna melihat ke asal suara dan menemukan fragmen Gentala yang terbang ke arahnya. "Ku serahkan Fragmen Eleanor padamu, aku akan menyusul nanti!" Ariadna meletakkan fragmen Ara di atas punggung Gentala. "Pergilah sekarang!"


Gentala mengangguk, "kau bisa menggunakan token yang tuan tinggalkan, untuk bisa melalui lapisan pelindung! Aku pergi dulu!"


Ariadna mengangguk, "aku mengerti!"


Ariadna menatap fragmen Gentala yang terbang membawa fragmen Eleanor menembus lapisan pelindung, ia menunggu beberapa saat hingga yakin bahwa mereka sudah menjauh dari lapisan pelindung, agar bisa mencoba menembusnya. Jika seseorang yang tidak diperbolehkan masuk, mencoba menembus lapisan pelindung, maka akan terjadi ledakan besar yang mematikan di luar lapisan pelindung, yang biasanya akan langsung membuat orang itu mati hangus terbakar, sedangkan gunung inti klan merah akan berguncang hebat. Ariadna tak mau mengambil resiko yang dapat menyebabkan hancurnya fragmen Ara karena guncangan dahsyat yang bisa ia sebabkan, ia bimbang untuk mengambil keputusan.


"Bibi Ariadna!"


Ariadna menengok ke asal suara dan menemukan Alardo terbang ke arahnya mengendarai Blevine dengan kecepatan tinggi. "Oh kau datang rupanya, cepatlah masuk dan bantu Gentala, Al!"

__ADS_1


"Tentu bibi, tapi kenapa bibi tidak masuk?" tanya Al bingung.


"Gentala bilang kalau aku bisa masuk dengan token yang diberikan tuan, tapi aku lupa wujudnya dan di mana aku meletakkannya," jawab Ariadna dengan wajah kesal. "Aku tak bisa ambil resiko yang dapat membahayakan Eleanor," ucap Ariadna kemudian.


"Naiklah bibi," ucap Alardo sambil menepuk punggung Blevine tepat di belakang ia duduk. "Percayalah kita akan masuk dengan aman!"


"Apa kau yakin?" tanya Ariadna ragu.


Al mengangguk dengan cepat, membuat Ariadna bergerak, ia mendudukkan diri di belakang Al, dan berpegangan kuat pada kedua pundak Al, Ariadna menutup kedua matanya dan pasrah.


"Ayo Blevine!" perintah Al yang membuat Bpevine kembali terbang dengan kecepatan tinggi, menembus lapisan pelindung.


"Bukalah matamu bibi, kita sudah melewatinya dengan aman," kata Alardo tenang.


Ariadna membuka matanya, "wah aku tidak percaya, aku berhasil menembusnya?" Ariadna mengecek keadaan tubuhnya dan memastikan kalau tubuhnya dalam keadaan utuh dan masih bernyawa. Selama ratusan tahun ia sama sekali tak berani mendekat ke arah lapisan pelindung karena ia tak tahu bahwa ia dapat menembusnya!


"Apakah ini artinya Gentala berbohong padaku? Dasar naga sinting, naga jelek, naga kasar, naga sok tahu, naga angkuh!" gerutu Ariadna dengan kesal.


"Anting?" Ariadna menyentuh sepasang anting yang ia kenakan, aura Vinn menguar dengan kuat dari sepasang benda itu. "Oh ya ampun! Umur memang tak bisa bohong!"


Alardo tersenyum simpul dengan tingkah Ariadna, "Gentala pasti kesal mendengar makian bibi."


"Ehm, bisakah kau merahasiakannya? Aku sedang malas menghadapi semburan apinya!"


Alardo kembali tersenyum simpul, dan mengangguk pelan. "Kita sampai bi," ucap Al selagi Blevine mendarat di pintu gua.


Al turun dari punggung Blevine, lalu membantu Ariadna turun. Ia mengusap kepala Blevine, "terimakasih, beristirahatlah selagi bisa, Blevine."


"Baik tuan," jawab Blevine yang langsung berbaring menutupi mulut gua, ia beristirahat sambil berjaga.


Al dan Ariadna memasuki gua dengan langkah cepat, benak mereka kembali dipenuhi dengan Eleanor.

__ADS_1


"Syukurlah kalian tiba!" suara Gentala menggema. "Aku benar-benar kehabisan akal!"


"Apa yang kau lakukan? Kenapa fragmen Eleanor masih terpisah dari raganya?" tanya Ariadna melihat fragmen Eleanor terbaring di samping raganya.


"Tubuh Yang Mulia menolak fragmennya, aku sudah mencoba menyatukannya berulang kali, tapi tetap tak bisa," ucap Gentala gundah.


"Apa yang terjadi jika fragmen Yang Mulia tak bisa disatukan dengan raganya?" tanya Alardo khawatir.


"Kemungkinan terburuk adalah ia tak bisa bangun lagi," ucap Ariadna seraya mendekat ke arah fragmen Eleanor.


"Maksud bibi, Yang Mulia bisa kehilangan nyawa?" tanya Al dengan suara yang bergetar hebat.


Ariadna menatap Al, "itulah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi."


Seketika tubuh Al terasa lemas, ia terduduk tak berdaya, matanya tak bisa lepas dari fragmen dan raga Ara yang terbaring di atas tanah.


"Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Yang Mulia?" tanya Al kemudian.


"Ada perbedaan kekuatan yang teramat besar dari fragmen dan raga Eleanor, fragmen Eleanor yang telah menyerap energi bola kristal, terlalu penuh untuk disatukan kembali dengan raga Eleanor." Ariadna memeriksa dengan teliti, "salah satu cara yang bisa kita coba adalah membiarkan raga Eleanor mendapatkan nutrisi energi alam yang cukup seiring waktu berlalu, sampai raganya dapat menerima kembali fragmen yang terpisah."


Al dan Gentala terdiam mendengarkan penjelasan Ariadna, "gunung inti klan merah adalah tempat yang dipenuhi energi alam dan sisa aura kekuatan inti klan merah masih terasa kuat, maka aku rasa, ini adalah tempat yang tepat. Fragmen Eleanor pun akan tetap aman jika dibaringkan berdekatan dengan raganya, yang kita perlu lakukan adalah memastikan energi yang dibutuhkan Eleanor tersedia berlimpah, jangan sampai sedetik pun energi yang ia butuhkan tak tersedia."


"Aku akan mengumpulkan kristal energi untuk mengurangi resiko kekurangan energi alam di area ini," ujar Gentala menimpali Ariadna.


"Ide yang bagus!" Ariadna mengangguk setuju.


"Aku akan berjaga di samping Yang Mulia dan mengawasinya," kata Al mantap.


Ariadna tersenyum, "tempat ini adalah tempat teraman di seluruh negri Al, kau tak perlu mengawasi Yang Mulia sepanjang waktu, cukup datang berulang kali dengan jeda waktu yang sama. Memulihkan energi Yang Mulia akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kau bisa meninggalkannya untuk melakukan pekerjaanmu, kita bertiga bisa bergantian menjaganya, tak perlu memaksakan diri."


Ariadna menepuk pundak Al lembut, "percayalah Eleanor tak serapuh yang kau kira."

__ADS_1


__ADS_2